SCHEDULE DIE
I
MITHA
Aku
memandang kota Jakarta dibalik jendela apartemen ku sambil menghirup secangkir
teh hangat ditanganku dan mengingat kejadian itu, laki-laki itu kejadian 4
tahun lalu saat aku masih duduk di bangku SMA.. tanganku gemetaran
“ Ayo Mitha cerita bagaimana kejadiannya” tutur
psikiater yang juga kakak sepupuku juga kakak kelasku dulu saat aku SMA bernama
Ratih
Aku melirik kebelakang,
karena baru saat ini aku mengundang seseorang dan ingin bercerita apa yang
terjadi 4 tahun yang lalu. Mba Ratih
dari dulu ingin bicara denganku mengenai kejadian 4 tahun lalu, semua orang
juga penasaran dengan cerita itu tapi mereka tidak bisa memaksaku untuk
bercerita karena aku selalu menutup diriku dan selalu menyendiri, bersikap
dingin dan tidak percaya dengan orang-orang, terlebih kak Ratih harus study ke
Jerman dan kamipun baru bertemu sekarang. Hanya aku yang tahu apa yang terjadi
bersama laki-laki itu dan mantan sahabatku yang mungkin tidak akan pernah
kembali lagi ke Jakarta.
Aku memandang dinding yang terdapat foto-foto itu..
Foto-foto aku bersama
teman-temanku dulu dan bersama lelaki itu. Sangat akrab,hangat dan penuh
penderitaan ..... akupun baru memajangnya kembali kemarin rasanya rasa sakit
hatiku kembali muncul saat melihat foto-foto itu. Tapi aku tak boleh larut
dalam kesedihan dan kekecewaan rasanya kebahagianku terengut oleh masa laluku.
Aku menjalani hari-hariku
dikamarku yang nyaman selama setahun ini, tidak melanjutkan pendidikanku
dibangku kuliah dan hanya keluar ruangan jika aku perlu sesuatu. Seolah aku
begitu takut untuk pergi keluar rumah. Rasa cemas mengelayuti pikiranku saat
aku pertama kali masuk kuliah dan karena tidak fokus pada kuliahku, aku memilih
cuti sementara dan hanya bertahan dua tahun dibangku kuliah, tapi sampai saat
ini aku tak berniat untuk pergi keluar apartemenku dan berkuliah juga
bersosialisasi dengan orang-orang.
Yah kejadiannya sudah 4 tahun lamanya ..
“ Dia
tidak akan penah kembali lagi ke Indonesia kesini ke Jakarta “ kataku pada mba
Ratih sang psikater yang sedang melihat dan memerhatikan obat penenang yang
sudah aku minum sejak 2 tahun lalu.
“
Sebegitu stressnya sampai kamu minum pil ini, minum ini ( mba Ratih memegang
pil ) tidak akan ada pengaruhnya sayang dan tidak bisa membuatmu sembuh.
Bagaimana mba bisa tahu apa yang membuat kamu menjadi seperti ini “ kata mba
Ratih sabar tapi aku hanya bisa diam ..
“
kalau begitu mba ngak punya pilihan lain “ katanya kemudian
Aku berjalan kearahnya, meletakan tehku di meja lalu
duduk di sofa.
“ duduk
sini, rileks kan badanmu menyender pada kursi lalu tarik nafas dalam-dalam
hembuskan “ aku menuruti ucapannya lalu lambat laun aku semakin
mengantuk-mengantuk dan semakin dalam ..
Tanpa sadar aku berbicara, mengingat kejadian itu..
Awal cerita ini dimulai
pada Hari dimana aku pertama masuk sekolah di kelas XI IPA F, aku adalah murid
sekolah menengah atas swasta di Jakarta yaitu SMA Global School . Sekolahku
merupakan sekolah swasta yang beberapa muridnya berasal dari luar negeri yang
ingin bersekolah di Indonesia. Walaupun sekolahku bukan merupakan sekolah
Internasional tapi sangat populer hingga ke beberapa negara bagian.
Aku berjalan menyusuri
beberapa pohon yang rindang, pagi yang indah,manis dan menyejukan. Setiap hari
aku berjalan kaki menuju sekolahku, karena sekolahku berada tepat di sebuah
perumahan yang hanya beberapa blok dari rumahku. Tak luput matahari pagi
bersinar menyilaukan diatas kepalaku yang tertutupi pohon rindang . Sambil
berjalan aku menyanyi kan sebuah lagu, lagu yang biasa ku nyanyikan jika cuaca
sedang cerah..
“
Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti
kabar yang aku tunggu
Peluk
dan cium, hangatkan untukku
Bagaikan
langit di sore hari
Berwarna
biru sebiru hatiku
Menanti
kabar yang aku tunggu
Peluk
dan cium, hangatkan untukku
Oh
asmara yang terindah
Mewarnai
bumi yang kucinta
Menjanjikan
aku terbang keatas
Kelangit
ketujuh,bersamamu.
sungguh hari yang sangat indah, fikirku lalu aku jalan
kembali.
(
saat aku mengingatnya aku tersenyum karena dulu setiap hari, aku adalah anak
yang ceria,bebas dan penuh rasa humor berbeda sekali dengan saat ini )
Aku bisa mendengar bel sekolahku dari kejauhan..
Akupun segera berlari menuju kelas baruku, kelas XI
IPA F ..
Ketika aku masuk kelas, salah satu temanku melambaikan
tangan kearahku dan segerombolan anak laki-laki dikelas melihat kearahku
beserta semua anak perempuan lainnya yang sinis.
“ Hey teman-teman “
sapaku sambil duduk dibangku pada ke 3 teman-temanku yang ternyata satu kelas
lagi di kelas XI , mereka adalah teman-temanku dulu di kelas X IPA C . Tak
luput aku melihat beberapa bunga berserakan di bangku itu dan surat cinta.
“
Hayo Mitha, biasa bangetkan jam segini baru dateng, untung kita siapin tempat
duduk buat kamu “kata temanku Alya dari spanyol yang bisa berbahasa indonesia.
Lalu Tia merangkulku dan Cindy tertawa, yang membuat
kami tertawa.
Tia, sahabat karibku saat mos, dia sangat setia
menjadi temanku, dengan ciri-ciri berambut hitam dikepang dua dan memakai
kacamata dia anak yang pintar karena sudah terlihat jelas dengan penampilannya
saat ini, dia juga ga modis tapi jika ia berdandan pasti ia cantik dan ia orang
Indonesia asli lalu
Alya, walau dia orang spain tapi sudah tinggal 6 tahun
di Indonesia karena pekerjaan orangtuanya. yang memang Alya mempunyai ciri
fisik seperti orang bule kebanyakan dan cantik tapi kurang modis sih lalu
Cindy dia tidak cantik-cantik amat sih, hidupnya biasa
aja dia merupakan orang Indonesia yang mempunyai darah Belanda karena neneknya
orang Belanda asli tapi tinggal di Indonesia sejak kecil itulah yang membuatnya
istimewa.
“ kamu beruntung banget
mit bisa dapet bunga tiap hari dan surat cinta “ ledek Cindy padaku
“ iya namanya juga
queenlope “ kata Tia duduk di bangkunya sambil mengeluarkan buku matematikanya.
Queenlope adalah singkatan ratucinta setiap orang yang baru melihatku pasti
langsung suka, gosip yang dibuat oknum entah siapa lalu tersebar satu sekolah.
“ ah kalian ini bisa aja,
Tia hari ini ga ada pelajaran mtk tau “ kataku sambil mengumpulkan bunga dan
surat-surat yang berserakan lalu membuangnya ke tong sampah terdekat seperti
biasanya. Entah aku tidak mengerti dengan orang yang terlalu pintar yang
mengangap matematika itu mudah, dari dulu aku selalu benci dengan pelajaran
matematika itu tapi karena otaku cemerlang aku tidak pernah susah
mengerjakannya. Dan aku juga heran pada orang-orang yang selalu mengasihiku
bunga,surat cinta bahkan hadiah padahal sudah ku tolak dan selalu membuangnya
ke tong sampah tapi tetap saja mereka tetap berusaha.
“ ah, Mitha sayang banget
bunganya dibuang itukan cantik-cantik banget “ kata Alya tapi aku hanya diam
karena aku melihat Kim Soora.
aku melihat Kim soora, lalu ia memandang
sinis kearahku dari tempat duduknya di bangku depan..mantan sahabatku. Ia
membenciku bukan seperti teman-teman kelasku yang cemburu karena aku populer
tapi karena sesuatu dimasa lalu. Kalau aku mengingat seberapa dulu aku dekat
dengannya, sampai saat ini aku menyesal mengapa aku dulu berteman dengannya. Soora
pindahan dari korea waktu kelas X di semester ke 2 lalu dan dia juga teman
sekelasku. Soora dikucilkan oleh teman-teman kelasku dulu karena dia aneh,
selalu menyendiri dan berhati dingin..
tak seperti dulu saat kami berteman.
Semua orang sibuk duduk ketempat duduknya karena guru
kami sudah datang..
Lalu hening seketika, yang awalnya kelas ribut..
“ Hallo anak-anak
perkenalkan nama ibu, Bu Nita. Ibu ini guru baru dan akan menjadi wali kelas
kalian untuk setahun yang akan datang “kata Bu Nita guru baru berambut pendek
yang sepertinya ramah jika tersenyum .
“ Ibu mengajar pelajaran
Bahasa Indonesia, jadi walau ibu tahu kalian dari berbagai macam negara, Ibu
ingin kalian memakai bahasa Indonesia “ lanjutnya kemudian
“ Iya bu” sahut
teman-teman sekelasku
“ oke, sekarang buka buku
bahasa kalian halaman 6. Puisi, kalian tahu apa itu puisi..”
Kata Bu Nita menatap kami semua..
“Puisi adalah seni
tertulis yang juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain
ke dalam hatinya..hatinya “ kata Bu Nita menatap kearahku
“ kamu, baca puisi ini
kedepan ayo “ katanya padaku..
Akupun kedepan membaca puisi tentang seseorang..
“ ku lari
kehutan kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai kemudian teriaku
Sepi..sepi dan sendiri aku benci
Ingin bingar aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Enyah saja kau pekat
Seperti berjalaga jika ku sendiri
Pecahkan
saja gelasnya biar ramai
Biar
mengaduh sampai gaduh
Ada
malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa
tak kau goyangkan saja loncengnya biar terdera
Atau
aku harus lari kehutan
Belok
ke pantai ..?
Lalu aku terdiam memandang sekeliling sejenak lalu
menyanyi. Aku melihat Soora..
Bosan
aku dengan penat
Dan
enyah saja kau pekat
Seperti
berjelaga jika ku sendiri ..
Dan pada saat itu ketika aku selesai bernyanyi
terdengar bunyi ketukan pintu dari luar,
“ Permisi bu, maaf saya
terlamambat “ kata laki-laki itu, ya laki-laki itu.
Inilah pertama kalinya
kami bertemu disaat ini, kamipun saling memandang mata dan tersenyum lalu pada
saat itu kulihat Soora tersenyum juga kepada lelaki itu tapi laki-laki itu
tidak tersenyum sama sekali.Tampangnya lumayan keren dan ganteng dengan rambut
jambul berwarna coklat pirang terang dengan hidung yang mancung,kulit yang
putih juga tinggi semampai, lesung pipi yang terlihat jelas di kedua pipinya,
matanya yang berwarna hitam mengkilat tanda dia orang yang bersemangat tapi
kulihat lagi dia berkeringat terasa keringat bercucuran di dahinya juga dia
ngos-ngosan seperti habis berlari dari kejauhan..
“ lain kali jangan terlambat
lagi, mengerti. Kalian berdua duduk “ protes Bu Nita
Lalu kamipun duduk, aku duduk di tempatku sementara ia
duduk di pojok belakang, aku tersenyum sepertinya aku jatuh cinta padanya pada
pandangan pertama.
Jam makan siangpun
berbunyi tanda bel istirahat, cowok keren itu sudah dikerubuni bak lalat oleh
anak perempuan di kelasku dan dikelas lain yang mengetahui ada anak murid baru tapi
walaupun dia ganteng disekolah kami juga banyak yang seperti itu maksudku
ganteng-ganteng malah seperti bule kebanyakan. Dasar aja teman-teman kelas ku
yang genit, tentu saja genit karena mayoritas kan sekolah ini kebanyakan orang
Indonesia dan seperti punya mangsa baru jadi mereka pasti akan mendekati cowok
itu. Sepertinya cowok itu murid baru karena aku tak pernah melihatnya waktu di
kelas X.
“ Ich, pada genit-genit
banget sih. Kaya ga pernah ketemu cowo ganteng aja “ kata Cindy berdiri di bangku sebelahku , aku yang dudukpun menengok
ke arah belakang
“ iya deh pada
norak-norak banget “ kata Tia disebelahku bicara dengan sinis dan kami pun tertawa
“ iya ganteng kaya my
prince “ kata Alya yang langsung mengedipkan matanya berkali-kali pada pacarnya
yang sudah berada di depan pintu kelas kami.
“ guys, aku duluan ya. Pacar aku udah nungguin
“ kata Alya menambahkan lalu pergi
sebelum kami mencegahnya. Entahlah Alya suka sama cowo yang jelek kaya gitu.
Oops bukannya aku menghina pacar temanku itu tapi gayanya aneh sih . Walaupun
pacarnya itu kakak kelas tapi anehnya itu kaya kutu buku ga jadi gitu, sedikit
kaya Tia sih tapi kan Tia cantik dan pinter tapi cowonya Alya ancur banget deh,
Kaca matanya itu loh gede banget dan ga pinter-pinter banget pula pokoknya cupu
abis deh.
Emang ya kalo orang cantik pasti pacarannya sama orang
jelek ya begitu sebalinya menurut pemikiranku tapi aku sendiri ngak mau pacaran
dengan orang aneh, maksudku kalo jelek tapi pinter dan kalau aku suka kenapa engak, iya ngak ? tapi
orang aneh dan jelek ihh ngak banget kan . Pokoknya gimana menurut kondisi
perasaan sih yang menentukan yang menyukai sesorang atau tidak. Tapi yang
terpenting juga adalah standar kita masing-masing, memangnya kita ga punya
kualifikasi atau tipe cowok yang kita sukai.
Kalau kalian tanya tipeku
ini dia jawabanya ;
-
Pertama sih ya pasti semua orang ingin
mendapatkan cowok yang baik. Baik yang dimaksud adalah baik sama kita, anak
baik-baik maksudnya tidak suka berkelahi, tidak suka pulang larut malam, tidak
suka dugem, baik pada orang-orang disekitarnya dari mulai anak-anak sampai
orang dewasa yang juga sopan pada orangtua, baik kelakuannya tidak suka dengan
pergaulan bebas.
-
Kedua aku kepingin punya cowok yang punya
selera humoris, ia lucu, murah senyum,ceria dan enak di ajak ngobrol juga
selalu nyambung jika diajak ngobrol soal apapun yang intinya bikin kita nyaman.
-
Ketiga, pasti harus perhatian dong sama
kita selalu nanya kabar kita tapi jangan overposesif sih yang penting jangan
kita duluanlah yang ngehubungin dia dan minta ngemis-ngemis perhatian gitu ga
ada salahnya kalo cowok nya itu care sama kita yang itu artinya masih sayang
dan selalu ngerti maunya cewe itu apa yang diperlakukan cewenya seperti pacar
yang baik yang perhatian ga mengabaikan pacarnya seperti anter jemput kenapa,
karena perempuan itu kepingin cowonya perhatian sama dia karena perempuan
seneng bisa berduan sama cowoknya dan ngerasa aman dilindungi tapi bagi
kebanyakan cowok mereka itu sebel dijadiin supir dan kebanyakan dari mereka ga
ngerti kenapa mereka dijadiin kaya gini, harusnya mereka ngerti perasaan
perempuan kalau mereka emang suka sama perempuan itu, perhatian lainnya adalah
mengerti kebutuhan sang pacar yaitu berbelanja keperluan si pacar itu sang
perempuan pasti akan sangat senang jika pacarnya memperhatikannya dengan
membelikan kebutuhan sang pacar tapi bagi banyak cowok itu adalah cewe matre
hellow nyadar dong mana ada perempuan yang ga suka kalau diajak belanja, hari
gini gitu kecusli emang malu-malu kucing dan nolak sebenernya mau banget tuh
pastinya pokoknya tipe ketiga ini harus bener-bener mengerti apa kemauan
perempuan dan hati mereka di tipe ini juga mereka harus selalu ada jika sang
pacar membutuhkan disaat sedih, galau atau seneng tapi bagi sebagian cowok
perhatian nya pasti menanyakan apa sudah makan atau belum kalo belum makan
pasti disuruh makan terus lagi apa dan sebagainya, hellow hari gini masih nanya
kaya gitu udah basi banget deh .
-
Keempat cowok idaman ku itu harus berbakti
pada orangtua dan pada yang maha esa, selalu rajin shalat atau berdoa dan iman
yang kuat pastinya.
-
Kelima baru deh kita liat fisiik, pasti
semua orang ga pengen punya pacar jelek,gendut,norak,dan dalam hal gawat sih
aneh ya pasti semua orng pengen punya pacar sempurna tapi hellow hari gini
gitu, pasti ga ada yang sempurna pasti banyak kekurangan di antara kita. Orang
yang ganteng juga belum tentu banyak kelebihannya begitu juga sebaliknya asal
jangan aneh sih. Kalo populer itu nilai plus.
-
Keenam itu adalah liat kepintaran cowok
itu kalo aku sih suka sama cowok yang pintar dalam pelajaran apalagi dalam
olahraga kaya basket atau sepak bola tapi orang ganteng atau jelek belum tentu
pintar. Yah namanya juga cowok kan pasti ogah-ogahan kalau belajar pasti maunya
main terus ada baiknya balik lagi keatas harus rajin nah dari kegigihannya itu
kita bisa liat kan kalau rajin tentu akan pintar tapi asal jangan pintar
memainkan persaan aja sih kaya playboy cassanova gitu maksudnya itu iuh banget.
-
Ketujuh pastinya harus pandai bergaul
dengan siapapun, harus bisa memenangkan hati orangtuaku jika akan mengajak
jalan, berani pastinya dan tidak takut oleh hal apapun terutama gentleman
berani mengakui kesalahan juga sukses.
-
Kedelapan suka ngasih suprise kaya
hadiah-hadiah gitu entah bunga,coklat, puisi cinta atau apapun asal jangan
bikin jantungan aja sih.
-
Kesembilan itu yang penting hati yang
menentukan segalanya, getaran dan jantung yang bertalu-talu selalu miss banget
sama orang yang disayang , memotivasi kita untuk selalu tampil cantik dan
menonjol diantara perempuan lainnya.
-
Kesepuluh kalau bisa sih ya suka juga
dengan music, pintar memainkan alat music seperti gitar atau piano karena
menurutku itu sangat romantis.
Nah itu dia kriteria pria
idamanku yang sampai sekarang belom ada dan belum ada yang memenuhi standar
intinya aku ini single bukan ga tertarik sama cowok tapi emang ga ada yang
memenuhi kualifikasi aja sih. Sebenernya bisa aku macarin semuanya lalu memutuskan
bak playgirl tapi aku ini punya perasaan loh. Single itu prinsipkan yah
prinsipku itu adalah mengikuti kualifikasi diatas. Yakin deh kalian pasti mikir
ga bakal ada cowok kaya gitu, emang ga ada yang sempurna di dunia ini tapi kalo
mereka punya banyak dan sebagian mendekati poin itu apalagi yang kesembilan
yakin deh aku pasti mau. Pokoknya poin-poin itu ga cuman liat buku dari sampulnya
tapi dalemnya juga kan.
“ Guys kantin yuk laper “
kataku kemudian
“ ayok” sahut Tia dan
Cindy bebarengan , aku melihat cowok itu yang masih dikerubuti bak lalat itu.
Tak luput aku melihat Soora berjalan ke arah cowok
itu, saat aku akan pergi ke kantin.
Kamipun tiba di kantin
sekolah, seperti biasa kantin ramai karena hari ini hari pertama masuk sekolah
walaupun bukan hari senin sih, tapi tetap saja mungkin anak-anak SMA Global ga
mau ketinggalan tempat duduk dan menggaet teman baru seperti yang dilakukan
anak-anak kelas X.
Tak luput aku mengingat kejadian ketika Mos kemarin
yang kelewat sukses dan senyum-senyum sendiri, aku aktif dalam organisasi
termaksud OSIS karena aku juga merupakan anak populer disekolah. Terkenal juga
karena beberapa murid laki-laki bilang aku ini termaksud golongan orang-orang
cantik. Cantik ya, bukannya aku ini sombong tapi memang itulah kenyataanya
lihatlah penampilanku yang selalu tampil modis dengan rambut panjang keriting
gantung berwarna coklat keungu-unguan dengan poni, kulit putih, mata yang tidak
banyak lipatannya,hidung mancung tapi satu kekuranganku yaitu pendek yah ngak
terlalu pendek banget sih. Akupun tampil
prima dalam pelajaran yang termaksud murid yang pandai. Tak luput banyak para
cowok yang selalu mengejar-ngejarku dan ingin mengajakku pacaran. Saat ini saja
banyak yang melihat kearahku dari jauh padahal aku aja ngak pernah bermake up
paling cuman pake bedak sama lipgloss aja sih menurut mereka aku imut mirip
kaya boneka barbie.
“ Mau pesen apa Mit “
kata Cindy sambil liat-liat daftar menu
“ Bakmi aja deh cin, sama
Jus jeruk” kataku kemudian lalu ia mencatatnya
“ gue juga deh, aduh gue
lupa ambil buku gue di perpus lagi “ kata Tia kemudian. Yaps tadi waktu jam
pelajaran ke 2 tidak ada guru dikelas kami karena mungkin baru pertama kali
masuk sekolah, karena kelas menjadi ramai dan berisik. Tia yang sedang fokus
pada matematika yang dikerjakannya tadi pagi melanjutkannya, ia merasa
terganggu lalu pergi ke perpustakaan. Kurasa ia sedang ada masalah karena jika
fikirannya terganggu ia mengerjakan soal Matematika. Kami pun ingin menemaninya
ke perpustakaan, tapi ia ingin sendirian dan aku juga kurang suka perpustakaan.
Tempat itu penuh dengan anak kutu buku tapi sebagian lagi penuh dengan
anak-anak yang pacaran disitu karena tempat itu begitu sepi.
“ oke lu ambil aja dulu,
gue pesen makananya dulu ya. Lo disini aja ya mit “ kata Cindy pada kami dan
mereka berdua pergi ninggalin aku sendirian duduk nempatin tempat, karena takut
direbut oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Aku melihat antrian kedai Bakmi yang panjang, selera
makanku turun seketika ketika melihat beberapa pasang mata memerhatikanku dan
ingin duduk di ketiga bangku kosong di depan dan sampingku.
Tapi tiba-tiba seseorang duduk di depanku .
“ Hallo, aku Byun Hyuk
aku dari Korea “ kata Cowok itu tersenyum.
Aku kaget bukan main ku fikir siapa ternyata cowok
itu, yap cowok ini kan anak baru itu. Yah dia yang tadi datang telat dan di
kerubuni bak lalat di kelas. Kulihat beberapa pasang mata makin banyak yang
melihat kearah kami seolah kami seperti pusat maghnet.
“ aku Mitha, senang
berkenalan denganmu Byun “ kataku membalas senyumannya
“ Wah, kamu ramah ya
ternyata “ katanya
“ kamu bisa bicara bahasa Indonesia juga ?”
kataku kemudian
“ yah, aku sudah belajar
sejak kecil. Aku tertarik dengan Indonesia “ katanya kemudian
“ jadi kamu suka tinggal
disini ?” tanyaku kemudian
“ yah, aku tinggal di
apartemen milik pamanku dan akan segera pindah ke asrama cowok bukan begitu “
sahutnya kemudian sambil tertawa.
“ Jadi, kamu telat tadi
gara-gara apartemen pamanmu jauh dari sini “ kataku kemudian
“ Tadi aku kesiangan
gara-gara gadis itu, aku terpukau oleh suaranya “ katanya tapi aku tak mengerti
apa arti ucapannya itu lalu Cindypun datang membawa makanan kami, akupun
membantunya dan tak sempat menanyakan gadis seperti apa yang membuatnya
terpukau.
Dia pun mengambil jus jerukku dan meminumnya sampai
habis.
“Hey minumanku !! “
kataku
“ maaf ya aku haus “
katanya akupun cemberut melihatnya, minumanku hilang sekejap.
“ oh hai aku Byun Hyuk “
katanya pada Cindy kemudian yang sedang tertawa terbahak bahak
“ hallo aku Cindy “ kata
Cindy kemudian dan datanglah Soora yang sudah berdiri di samping kami
“ Byun, kamu kok tega
ninggalin aku di kelas. Kamu bilang kita mau sama-sama pergi ke kantin “ kata
Soora dalam bahasa korea yang aku memahaminya karena aku juga bisa bahasa korea
“ Maaf aku lupa, setelah
pergi ke toilet aku langsung ke kantin “ kata Byun acuh pada Soora, seolah tadi
seyuman dan kebahagiannya lenyap saat Soora muncul seperti diserap dementor.
Lalu mereka berduapun pergi dihadapan aku dan Cindy
“ ada apa sih sama si
frick Soora kok dia berani banget ngomong “ kata Cindy keheranan
“ ada hubungan apa ya
Byun sama Soora “ kataku menanyakan pada Cindy yang tidak tahu apa-apa.
Jangan sampai kejadian itu terjadi lagi saat aku masih
bersahabat dengan Kim Soora..
*
Flashback
Saat itu umurku baru 7
tahun dan kim soora sahabatku sejak tk yang berumur sama denganku tinggal di
Indonesia bersama keluarganya dan kamipun bertetangga juga kami bersekolah di
sd yang sama kami adalah sahabat yang sudah mengenal satu sama lain, jika Soora
di bully aku yang melindunginya. Jika aku menangis Soora yang menghiburnya
bahkan kami sering menginap dirumah satu sama lain, kami sangat bahagia dan
masa kanak-kanak kami penuh dengan permainan yang mengasyikan.
Saat itu kami bermain sepeda bersama-sama disekitar
kompleks rumah kami , kami menuju taman lalu ada anak laki-laki yang ganteng
sedang bermain ayunan di taman. Anak itu juga sepertinya seumuran denganku dan
Soora. Kamipun memutuskan untuk mengajak anak laki-laki itu bermain. Kami
berkenalan dan anak itu bernama Randy, ia tinggal tak jauh dari sini. Dan
kamipun sering bermain bertiga, bersama-sama.
Sampai suatu hari aku
bilang bahwa aku sangat menyukai Randy, aku tahu Soora pun sangat menyukai
Randy sepertinya. Tentu saja soora merasa tidak nyaman sepertinya dan tidak mau
bilang bahwa ia juga menyukai Randy. Ia hanya diam saja waktu aku bilang aku
menyukai Randy. Ya, kami menyukai lelaki yang sama. Karena mungkin pada saat
itu cinta monyet, aku pun membuat rencana untuk pergi piknik bersama randy.
Piknik yang di maksud adalah minum susu dan kue bersama-sama. Kamipun berpiknik
di danau tak jauh dari komplek kami. Danaunya sangat asri dan bersih sekali,
tak luput aku mengajak Soora untuk menemani kencan ku bersama Randy. Tapi Soora
menolak karena dia bilang sedang sakit dan selama beberapa hari kebelakang ia
tak mau main denganku juga Randy. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat aku
bicara bahwa aku menyukai Randy, setiap kali kusamper ke rumahnya ia pun
menolak untuk main denganku dengan pembantunya yang mengusirku baik-baik. Saat
itu aku tidak merasa bersalah karena masih anak-anak dan polos. Yang aku tahu
hanya kejujuran dan mengungkapkan kejujuran dalam hatiku bukan kebohongan. Jika
ia menyukai Randy seharusnya ia bilang padaku, bukan tidak mau bermain
denganku. Aku juga sedih dan menangis waktu itu karena ia tak mau bermain
denganku, tapi ibuku meyakinkanku bahwa Soora akan kembali berteman denganku.
Yah intinya ia tak mau ikut piknik ke danau walau sudah ku ajak.
Saat piknik itulah kejadiaanya berawal..
“ Ran, gimana kue nya
enak ga? Itu bikinan ibuku loh” kataku waktu itu sambil minum susu.
“ Enak banget Mit,
kapan-kapan kita makan-makan lagi ya kue buatan ibumu “ katanya sambil terus
memakan kue itu yang penuh di mulutnya.
“ Yah abis kuenya, bentar
ya Randy aku ambil dulu ke rumah “ kataku kemudian
“ Eh ngak usah Mit,
ngerepotin lagi “ kata Randy menahanku pergi
“ Ngak apa-apa randy,
ibuku lagi masak kue banyak “ kataku lalu menggoes sepedaku menuju rumahku.
Saat aku kembali lagi ke
pinggir danau, Randy sudah jadi mayat dan tenggelam di danau itu. Sontak akupun
menjerit ketakutan, menangis dan ku lihat Soora berada jauh mengintip dari
balik pohon.
Jika saja aku tahu bahwa
saat itu Randy akan meninggal, aku tak akan meninggalkannya sendirian. Bahkan
sampai saat ini aku tak tahu apa penyebab kematiannya, yang ku ingat adalah Kim
Soora yang mengintip dari balik pohon.
Saat itu penyelidikan pun
terkumpul, dan polisi mengasumsikan bahwa Randy tercebur ke danau karena
kepeleset saat mengambil mainan kapal-kapalan miliknya yang jatuh ke danau.
Tapi aku merasa semua ini salahku karena mengundangnya berpiknik ke danau, aku
tidak mau makan, tidak mau sekolah dan tidak mau bermain ke taman ataupun
bersepeda. Aku pun sempat di bawa ke psikiater anak dan mereka berhasil
menghapus ingatanku tentang kematian Randy hanya kematian nya saja tapi aku
masih mengingat jelas bagaimana dulu kami selalu bermain bersama-sama. Aku
mengingat kembali saat dimana Randy meninggal karena Soora mengungkit itu
kembali saat SMA.
Sementara Kim Soora yang
aku yakini adahal sangkutpautnya dengan hal kematian Randy menjadi anak yang
dingin, penakut dan tukang bohong. Ia mengadu pada guru kami bahwa Randy selalu
mengikutinya. Padahalkan Randy sudah tiada juga ia selalu kerasukan setan dalam
tubuhnya. Saat sd dulu ia sering sekali kesurupan. Ia seperti punya ke kuatan
khusus seperti melihat hantu dan sejenisnya. Dan pada saat itu Kim Soora yang
ku kenal sebagai gadis ceria sama sepertiku menjadi gadis yang menakutkan yang
pernah ku temui. Kami pun tidak pernah bermain pada saat itu lalu ia pun pindah kembali ke korea.
Aku menerima surat cinta
pemberian Randy yang intinya aku harus hidup lebih lama dan harus tersenyum .
Surat itu masih ku simpan sebagai penyemangatku walau aku tahu surat itu dari
Kim Soora . Entah aku tak mengerti mengapa ia menyelipkan surat itu ke tasku
tapi aku yakin surat Itu dari Randy yang ditulis oleh Soora karena aku tahu
bahwa Soora ternyata bisa melihat hantu dan selama ini ia tak pernah berbohong.
Setelah beberapa tahun
berlalu, ia kembali ke Indonesia dan bersekolah ditempat yang sama sepertiku
bahkan di kelas yang sama. Dia masih sama, dingin, kaku, aneh dan pendiam yang
membuatnya semakin pintar dalam pelajaran akademik. Justru aku masih sama
seperti dulu sebagai gadis yang ceria. Dia pun tidak mau berteman denganku atau
yang lainnya dan akupun tak perlu repot-repot untuk berteman dengannya kembali
pada kelas X. Kami tidak saling menyapa lagi, walau sebenarnya jauh di lubuk
hatiku yang paling dalam. Aku merindukannya..
Jam pulang sekolah,
karena bel berbunyi 3 kali yang membuat seisi kelas bersorak sorai kegirangan
karena bisa pulang ke rumah atau asrama untuk yang rumahnya jauh, sekolah
menyediakan asrama bagi setiap muridnya gratis.
“ Mitha, lo jadi kan
pindah keasrama ?” kata Cindy yang sedang membereskan buku kedalam tasnya.
“ Jadi dong, walaupun
rumah ku deket tapi kan ga nyaman kalo kita ngerjain tugas bareng sampe sore
apalagi bakal ada pelajaran tambahan nanti “ kataku sambil merapikan buku juga
“ wah asyik ya kita bisa
sering sama-sama terus main “ kata Alya cekikikan dan kamipun tertawa kecuali
Tia. Ku perhatikan dari tadi ia melamun saja..
Karena sadar kami memperhatikannya ia pun tertawa
seperti dipaksakan.
“ Iya apalagikan kita mau
kelas 3 jadi harus banyak belajar “ katanya tiba-tiba yang ternyata ia menyimak
juga.
Saat itu ada memang ada
yang aneh dengan Tia, ia tak seperti biasanya. Murung,diam dan melamun terus,
yang ku fikir memang ada masalah yang disembunyikannya dari pagi dan menganggu
fikirannya. Karena aku tahu betul sahabatku . Saat ia kembali dari perpustakaan
tingkahnya pun jadi berbeda jadi seperti ini. Dia bukan Tia yang ku kenal, saat
ini dia begitu murung.
Kamipun berjalan keluar
sekolah, karena aku juga akan tinggal di asrama seperti yang lainnya aku harus
pulang dulu mengurus kepindahanku dan mengambil barang-barangku. Aku akan
tinggal sekamar dengan Tia karena mantan teman sekamarnya Cinta meninggal
ketika liburan kemarin saat Mos berlangsung dan Cinta merupakan sekertaris osis.
Aku tidak tahu karena apa Cinta meninggal, tapi gosip yang beredar ia bunuh diri dan semunya tidak tahu bagaimana
ia meninggal juga mayatnya belum ditemukan. Polisi menutup kasus itu karena itu
merupakan kecelakaan mobil dan keluarganya sudah positiv bahwa ia meninggal
karena ia menulis kata-kata perpisahan bahwa ia akan mengakhiri hidupnya
sendiri. Mobil yang ia gunakan terguling di puncak dan mayatnya tidak ketemu.
Ia tinggal di asrama karena Rumah Cinta berada di Bandung jadi jika ia ingin
pulang ke Bandung ia biasanya menggunakan mobilnya, tapi sungguh naas kejadian
ini. Dia juga merupakan siswi populer sama sepertiku, ia juga cantik dan
Sungguh ironis sekali nasibnya. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu
hingga mengakhiri hidupnya sendiri. Apa mungkin Tia murung dan mengingat teman
sekamarnya itu. Entahlah nanti akan kutanyakan langsung padanya mengapa ia terus-terusan
jadi seperti ini .
Saat aku berjalan
sendirian menuju rumahku karena ketiga temanku tidak bisa membantu kepindahanku
karena punya acara masing-masing. Maksud acara masing-masing itu adalah kalau
Tia merasa tak enak badan dan katanya akan menyiapkan tempat tidur yang nyaman
untukku sementara Cindy tadi ia disuruh Bu Nita mengoreksi tugas pertama
seluruh anak kelas X dibantu oleh Alya juga dan beberapa teman kelas kami. Aku
juga seharusnya ikut membantu bu Nita dan teman-temanku juga ingin membantu
kepindahanku. Bu Nita, walaupun ia guru baru dan hari pertama sekolah tapi ia
begitu gigih dan tak ada alasan untuk bersantai-santai karena itulah moto dari
sekolah kami yaitu disiplin waktu dan berkerja keras. Sebenarnya kami sudah
terbiasa dengan semua itu saat pertama kali menginjakan kaki disekolah. Begitu
bekerja keras, rajin dan berusaha dengan sungguh-sungguh karena banyak dari
sekolah kami yang memenangkan juara olimpiade-olimpiade untuk itulah sekolah
kami terkenal. Katanya sih sekolah kami akan menjadi international school entah
kapan itu terjadi.
Tiba-tiba ada seseorang yang merangkulku dari
belakang, aku terlonjak kaget dan melihat Byun yang sudah nyengir disebelahku.
“ Nona, harusnya kamu
kalau jalan jangan melamun sepeti itu “ kata Byun merentangkan tangannya keatas
“ Sedang apa kau disini “
kataku padanya yang membuat ia tertawa
“ Bukankah hari ini hari
yang cerah dan indah, mengapa kau cemberut dan tidak menyanyi lagi “ katanya
meledekku yang sepertinya aku mengerti apa arti ucapannya itu.
Aku berhenti berjalan
“ Jadi, kamu mengetahui
aku sering menyanyi sendirian “ kataku kesal karena aku baru mengenal orang ini
sementara ia sudah mengenal kebiasaanku menyanyi.
“ ya tentu saja Mitha,
suaramu sangat indah . Pasti kau suka dengan karya sastra ya, entah itu
puisi,cerita fiksi dan lagu-lagu kau pasti menyukainya kan “ dia berkata sambil
tertawa, riang dan ceria juga sangat lucu karena pipnya yang digelembungkan.
Persis sepeti tipe nomer 2 favoritku.
“ siapa bilang, tidak
semuanya kok yang aku suka “ kataku berbohong lalu melanjutkan jalanku kembali.
“ sudah lah nona tidak
usah berbohong lagi, aku tahu Bu Nita cerdas dan jeli karena memilihmu untuk mengungkapkan puisi
yang indah di depan kelas sepertinya ia tahu bakatmu “ kata Byun yang lagi-lagi
ia benar.
“ ya terserah kau saja ,
aku senang mendengar pujianmu “ kataku lalu sampailah kami dirumahku. Saat aku
akan masuk ke dalam rumah,
“ kau mau masuk kerumahku
“ kataku mempersilahkannya masuk tapi ia cengengesan saja
“ tunggu dulu, aku akan
mengatakannya kepadamu “ katanya kemudian
“ apa ?” kataku kemudian
, aku melihat keringatnya bercucuran sebesar jagung seperti sedang menahan
sesuatu karena mungkin matahari yang terik dan panas atau karena suasananya aja
yang panas. Jantungku bertalu-talu mendengar ia ingin mengatakan sesuatu
“ Nanti sajalah “
sahutnya dan aku kecewa juga aku mengetahui bahwa ia sedang berbohong kepadaku.
Dia membantuku membawa
barang-barangku ke mobilnya. Sebenarnya barang-barangku tidak banyak.
Sebenarnya ia memakai mobil dan mempunyai supir juga lagi tapi ia rela berjalan
kaki untuk menemaniku pulang kerumah lalu akupun membantu kepindahannya juga,
kami saling membantu. Aku ke apartemen milik pamannya yang luas sekali sangat
jauh dari sekolah kami dan harus menempuh tol untuk sampai ke apartemennya.
Entah aku tak mengerti apa arti kebaikannya itu, sebenarnya tadi apa yang ingin
ia katakan, apa hubungan yang ia miliki dengan soora dan mengapa ia membantuku
juga mengapa ia bersamaku saat ini bukan dengan kim soora yang sepertinya
mereka saling mengenal. Tapi tak satupun yang aku tanyakan padanya itu hanya
menjadi tanda tanya di hatiku. Entahlah fikiran itu melayang-layang di kepalaku
. Rasanya, aku sudah mengenalnya lama sekali seperti dikehidupanku sebelumnya.
Aku sangat-sangat tidak mengerti akan situasi ini.
Kamipun kembali
kesekolah, hari sudah mulai sore aku melihat jam tanganku terlihat jam sudah
menunjukan jam 4 sore. Kami sedang berada di persimpangan jalan. Aku disebelah
kiri karena asrama perempuan ada di sebelah kiri dan ia di sebelah kanan karena
asrama laki-laki ada di sebelah kanan.
“ terimakasih ya sudah
membantuku “ kataku tersenyum padanya
Selama perjalanan tadi
kami membicarakan tentang bagaimana kehidupan di korea dan Indonesia , sungguh
perbedaan yang sangat kontras. Film, gaya hidup dan lain-lain sungguh Byun ini
orangnya sangat humoris dan mempunyai selera yang tinggi juga soal music. Tak
luput kami saling berfoto bersama-sama, foto yang sampai saat ini masih ku
pajang di dinding rumahku beserta foto Tia,Cindy, Alya dan Soora.
“ ya sama-sama kau juga
membantuku nona “ sahutnya kemudian
“ sudah aku bilang jangan
panggil aku nona “ kataku sambil tertawa lalu dikejauhan aku melihat Soora
memandang kami dari balik pohon sama percis saat kejadian Randy meninggal.
“ sudah ya byun, aku
masuk dulu “ kataku cepat-cepat menuju asrama putri, lalu byun berkata apa kau
bisa membereskan barang-barangmu sendiri tanpa bantuanku , ia berteriak sangat
kencang tapi aku tak berani menengok kebelakang lagi dan tak menghiraukan
ucapannya itu.
Saat aku ke asrama, suasananya sangat sepi dan
hening..
Aneh sekali, kemana orang-orang pergi.
Aku berpapasan dengan 2 orang temanku dikelas lain
tapi kami masih satu angkatan.
“ mary, wita tunggu
sebentar “ kataku memberhentikan mereka berdua
“ ya, ada apa “ sahut
mary
“ kenapa asrama sepi,
tumben. Pada kemana orang-orang “ kataku bertanya pada mereka berdua .
“ ada kebakaran di lab
kimia, semuanya kembali kesekolah untuk melihat apa ada orang yang terluka “
kata wita kemudian
“ bukannya sedang ada
praktek anak-anak kelas XII ya tiap sore “ kataku shock anak kelas XI kemaren
yang sekarang kelas XII, mereka selalu belajar entah ini hari pertama masuk
atau liburan kemarin.
“ iya tapi kami tidak
tahu apa ada yang terluka atau tidak “ sahut mary kemudian
“ baiklah aku akan segera
menyusul “ kataku setelah menaruh kardus-kardusku ke kamar asramaku
“ oke, kami duluan ya “
sahut mary dan wita bebarengan
Aku harus tahu apa yang
terjadi karena aku meyakini bahwa lab kami sangat teliti dan tidak pernah terjadi
kecelakaan kerja. Aku mengingat kakak sepupuku mba Ratih yang pasti hari ini
ada jadwal praktek.
Tiba juga aku di depan
pintu kamarku yang juga kamar Tia tapi saat aku masuk kedalam kamar, sungguh
sangat gelap, sumpek dan tercium bau busuk. Apa yang sudah dilakukan Tia
sebenarnya, bukankah harusnya ia beristirahat karena sedang sakit atau ia pergi
ke sekolah . Entahlah ruangan ini sangat sepi sekali..
“ Tia “ panggilku sambil
mencari saklar lampu
“ Tia, kau bisa dengar
aku “ kataku lagi. Lalu aku menyalakan saklar lampu
“ Tia apa kau ada disini,
Tia“ kataku dan lampunya menyala..
Dan pada saat itu aku menjerit sejadi-jadinya ..
“ AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA “
teriaku , kaki ku gemetaran melihat Tia sahabatku yang sudah tergantung di
dinding langit-langit kamar kami.
Aku tidak mengerti apa
yang terjadi, apa yang baru saja ku lihat 1 jam lalu.. aku memejamkan mata dan
selalu ada ekspresi Tia disaat kematiannya dengan mata terbuka lebar dan mulut
menganga.
Aku sudah telat, aku
tidak berguna, aku seharusnya tahu ada yang terjadi dengan Tia dan tidak beres
dengannya. Harusnya aku bisa menghentikan semuanya, harusnya aku menyadarinya
aku menangis dan terus menangis bersama ke 2 temanku dan bersama teman-teman
lainnya yang sedang menghibur kami. Rasanya kejiwaanku tergoncang setelah
mengetahui dulu Randy meninggal dan akulah orang pertama yang melihatnya juga
saat ini rasanya seperti dejavu . Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak
mengerti, aku lelah..
Yah kami sedang berada di
ruang kelas kami, para guru menenangkan kami semua. Belum cukup laboratorium
terbakar dan membuat beberapa anak kelas XII harus dilarikan ke rs dan Kami
kehilangan Tia. Semua ini benar-benar janggal dan mendadak .
Polisi sedang
menginterogasi tempat kejadian perkara, dan mengotopsi mayat Tia. Sementara
anak kelas XII beruntung tidak ada yang meninggal hanya luka-luka ringan dan
berat. Semua orang mempercayaiku karena pada saat kejadian banyak yang bersaksi
bahwa aku baru datang ke asrma sementara Tia sudah meninggal beberapa jam yang
lalu . Kamipun disuruh untuk istirahat di asrama . Sementara anak kelas X
dipulangkan kerumah masing-masing kecuali memang yang rumahnya jauh.
Byun mengamatiku dari
tempat duduknya, matanya begitu bersimpati padaku tapi entahlah ia tak di
dekatku, entah apa yang tejadi sampai ia tak ingin menghiburku. Padahal
beberapa jam yang lalu kami bersama, tertawa dan saling mengenal satu sama
lain. Ku fikir ia malu berada di dekatku saat ini. Ya sepertinya, tapi aku tak
perduli. Yang aku perdulikan saat ini mengapa nasib sahabatku begitu tragis,
mengapa ia jadi seperti itu. Ku rasa tak mungkin Tia tega mengakhiri hidupnya
sendiri apalagi ia sangat menyayangi keluarganya, adiknya juga ibunya. Dan ku
rasa Tia tak mungkin sebodoh itu untuk bunuh diri apa lagi kami sahabatnya
selalu mendukungnya dan ia anak yang pintar secara akademik, jika ada masalah
ia selalu bercerita kepadaku begitu pula dengan ku atau yang lainnya selalu
sharing. Lalu soal apa ? laki-laki ?? Tia tak pernah pacaran dengan seseorang,
yah kagum mungkin hanya sebatas itu ngak lebih. Dan kami tidak pernah mempunyai
masalah, kami selalu ceria,riang dan bahagia. Ku rasa ada sesuatu yang menganjal
sejak kepergiannya ke perpustakaan, entah apa. Yang jelas aku harus menyelidiki
kasus kematian Tia. Yah pasti pembunuhan kuyakin.
“ Baiklah anak-anak.
Kalian istirahat dan pulanglah ke asrama. Pihak yang berwenang akan
menginvestigasi kasus ini jadi kalian tidak usah khawatir “ kata Bu Nita sabar
dan seperti menahan tangis juga.
“ Kami takut bu kalo
harus pulang ke asrama “ kata salah satu teman kelasku
“ iya bu iya “ sahut
beberapa teman kelasku serempak.
“ tenang saja, tidak akan
terjadi apa-apa lagi. Asal kalian menjauhi kamar Tia . Oiya Mitha, kamu tidur
bersama Soora saja karena dia tidur sendiri juga atau kamu mau pulang kerumah“
kata Bu Nita yang membuat aku menengok ke arah Soora yang dari tadi berlaga
aneh dengan menunduk terus-terusan.
“ Baiklah bu aku akan
menginap di kamar Soora “ kataku terpaksa karena aku tidak mau balik lagi
kerumah takut-takut membuat orang tua ku khawatir.
“ Bagaimana soora kalau
mitha menginap di kamarmu “ tanya bu Nita . tapi Soora tetap menunduk dan
menganguk yang artinya ia setuju. Lalu ia menatap tajam menoleh kearahku.
Kardus yang tadi aku bawa
ku bawa kembali menuju kamar soora. Tak heran mengapa ia sendiri tinggal di
kamar asrama karena memang tak ada yang mau menjadi teman sekamarnya. Ia
terkenal karena ke frickannya. Aku juga rada risih harus sekamar dengannya
padahal dulu ketika kami masih kecil dan bersahabat kami sering tidur bersama.
II
Soora
Saat
ini aku sedang berada di korea, di kampung halamanku. Sudah 3 tahun sejak aku
meninggalkan negara tercinta keduaku Indonesia. Aku tidak pernah menyesal untuk
kembali ke korea lagi, karena setidaknya disini aku bisa bernafas lega . Tak
seperti di Indonesia yang penuh sesak sejak kejadian 4 tahun lalu sejak aku
duduk di bangku sekolah. Bukan hanya kejadian 4 tahun yang lalu tapi sejak
umurku 7 tahun aku tidak pernah bernafas lega rasanya sakit, menyakitkan dan
menyesakan sekali. Dan pada saat itulah kehidupanku berubah jauh dari kata
normal.
Tidak
ada yang tahu mengapa aku berubah menjadi seperti ini, bahkan kedua orangtua ku
yang berkerja di Indonesia tak memperdulikan kehidupanku. Aku dari kecil diurus
oleh pembantu rumah tangga jadi aku terabaikan, mereka hanya say hello saja
kepadaku. Aku seperti tidak punya orangtua.
Begitu
pula dengan mantan sahabatku Mitha, dia tak mengetahui mengapa aku sangat
membencinya dan mengapa sikapku jadi aneh seperti ini. Aku membencinya karena
dulu ia menusukku dari belakang, padahal ia tahu aku menyukai Randy. Walaupun
aku tak mengucapkannya tapi tetap saja harusnya ia mengertiku. Karena sikapku
yang amat manis pada Randy. Sebenarnya tak ada dendam dariku untuknya karena
aku sudah mengangap ia sodaraku sendiri dan kami selalu berbagi dalam berbagai
hal, kami adalah sahabat sejati kami juga saling menyayangi dan pada waktu itu
aku hanya kesal dan marah saja, ia begitu tidak memperdulikan perasaanku.
Tapi
kejadiannya berubah, kalau ku putar waktuku pada saat kami berumur 7 tahun. Aku
tak akan marah padanya dan Randy tidak akan meninggal pastinya. Yaps, Mitha
pasti mengira akulah yang membunuh Randy tapi asal tahu saja dari awal piknik
aku mengintipi mereka berpiknik antara aku ingin ikut atau tidak . Akulah saksi
kunci mengapa Randy meninggal waktu itu, karena aku melihatnya dengan kedua
mataku sendiri.
*
FLASHBACK
“ Soora.. soora “ teriak Mitha kecil dari pager
rumahku
Sementara aku hanya mengintip dari jendela kamarku
diatas, aku masih sakit hati padanya.
“ Soora ayo kita main, kita piknik di taman . Aku kan
sudah mengirimimu surat undangan untuk hadir berpiknik denganku dan Randy “
teriaknya dari bawah
Aku masih melihatnya dari jendela..
“ Soora, maafkan aku. Aku bersalah “ teriaknya sambil
menangis sesunggukan. Engak tega juga si liatnya..
“ Soora ayo datang, aku janji kamu gausah bawa apa-apa
asal kamu datang ya. Aku janji ga bakal bikin kamu sakit hati lagi “ teriaknya
lagi
“ Soora, soora ...soora “ isaknya. Sudah 4 hari aku
tak main dengannya dan sudah 2 hari ini Mitha menangis saat mengajaku pergi
bermain entah ia mengajak main sepeda, entah ia mengajak main ditaman bahkan
entah ia mengajak bermain bersama Randy yang membuatku sebal sekali.
Akupun berkata pada
pembantuku bi Inah untuk mengusirnya, pembantuku memang dari Indonesia ia sudah
tua dan ia seperti ibu kedua bagiku. Ketika kami pindah ke korea, bi inahpun
mengikuti kami. Aku sangat sayang pada bi inah.
Saat Mitha diusir oleh bi
Inah, bi Inah merasa tidak tega untuk mengusir gadis kecil yang sudah dianggap
anaknya sendiri sama sepertiku. Karena sejak aku berumur 5 tahun sampai umur 7
tahun kami selalu bermain bersama-sama. Dan
pada saat itulah aku mengikuti Mitha dari belakang, melihatnya piknik dengan
Randy. Mereka saling tertawa satu sama lain. Sepertinya Randy juga menyukai
Mitha . Aku sangat cemburu karena aku hanya bisa mengamati mereka dari balik
pohon saja.
Beberapa saat kemudian Mitha pergi naik
sepedanya membawa keranjang kue miliknya. Apakah pikniknya sudah selesai ?
entah aku tidak tahu. Lalu aku berfikir untuk menemui Randy yang kini sedang
sendiri tapi tiba-tiba aku melihat sesuatu terjadi, ya aku melihat orang di
dekat Randy yang memakai pakaian serba hitam semua dan clurit besar
ditangannya, tapi aku heran mengapa Randy tidak melihat orang itu yang udah
jelas-jelas orang itu besar dan berdiri didepannya dan yang membuat aku
mengurungkan niatku untuk menghampiri Randy.
Randy masih saja asyik
bermain kapal-kapalannya yang terbuat dari plastik lalu tiba-tiba saja kejadian
itu berlalu begitu cepat, kapal-kapalan yang dipegang Randy jatuh ke danau lalu
orang serba hitam itu mendorongnya hingga Randy kehilangan nyawanya karena
kehabisan nafas. Disitu aku ingin sekali menyelamatkannya, tapi aku takut untuk
mendekati orang serba hitam itu. Aku merasa bersalah sekali, seharusnya aku
menolong Randy pada saat itu. Sungguh bodoh, aku kehilangan teman bermainku dan
orang yang aku sukai. Orang serbahitam itu mendongak ke arahku, wajahnya tidak
jelas karena rata semua berwarna hitam tapi orang serba hitam itu tidak
menghampiriku, aku sangat ketakutan dan aku melihat Randy mendongak melihatku
dan Mitha yang baru saja tiba dengan sepedanya, ia menjerit histeris dan ia
juga melihatku. Akupun buru-buru kabur dan pergi, takut dan mengapa Randy yang
sudah mati bisa melihatku dan berjalan kearahku.
Yang ternyata aku tahu
bahwa itu adalah arwah Randy yang mati penasaran karena akupun bisa melihat
jasad Randy yang terapung-apung di danau dari kejauhan dan ia meninggal oleh
orang berbaju hitam yang ku tahu adalah setan penghuni danau itu yang
menginginkan tumbal dan kebetulan hari itu adalah hari ke 100 tahun kematiannya
karena aku mengetahuinya juga dari orang pintar yang datang kerumahku.
Aku semakin histeris dan
ketakutan karena arwah Randy terus mengikutiku kemanapun. Wajahnya sangat
seram,pucat dan dingin tak seperti Randy yang ceria yang dulu ku kenal. Karena bi Inah menghawatirkanku karena sudah
satu minggu sejak kematian Randy aku semakin kalut dan bukan cuman randy saja
yang bisa kulihat tapi seluruh hantu yang berada dirumahku, diseluruh ruangan
dirumah bahkan disekolahpun bisa ku lihat dengan jelas, lalu di datangkanlah
orang pintar kerumahku.
Orang pintar itu mengerti
keadaanku saat ini, aku mempunyai pilihan antara aku menutup mata batinku atau
membiarkannya tetap seperti itu. Tentu saja aku memilih untuk menutupnya karena
aku sangat ketakutan, mengapa mata batinku tiba-tiba terbuka seperti ini hal
yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri tapi penutupan mata batinku tidak
berhasil karena aku terus-terusan melihat hantu dimana-mana. Yah sudah banyak
paranormal yang menyerah menutup mata batinku menurut mereka mata batinku
inilah yang diberikan Tuhan padaku dan aku harus mensyukurinya.
Aku lalu mengutuk diriku
sendiri pada hari itu. Aku harus hidup dalam kesusahan dan dalam bayang-bayang
hantu disekelilingku. Bahkan banyak orang yang tidak percaya kepadaku, ibu dan
bapak guru lalu teman-teman sekelasku termaksud Mitha, yang mungkin
menganggapku orang aneh dan gila karena aku selalu kerasukan dan seperti yang
mereka kira aku lagi-lagi membual. Untuk itulah aku menjadi seperti ini, aku
tak percaya dengan semua orang. Dunia ini begitu keras bagiku dan lambat laun
aku dapat menerima kehebatanku melihat ini ketika aku dibawa pindah oleh
keduaorangtuaku kembali ke korea. Saat itu aku berharap agar tidak kembali lagi
ke Indonesia.
Aku memejamkan mataku
mengingat kejadian 14 tahun lalu, aku sedang berada ditempat kerjaku di korea
saat ini, karna memikirkan pekerjaan yang menumpuk banyak juga kadang-kadang
aku juga memikirkan kejadian 4 tahun lalu. Setiap hari aku bekerja di depan
komputer membuat ide-ide baru untuk meluncurkan produk baru dari perusahaan
yang menaungiku saat ini, walau aku baru diterima bekerja beberapa bulan yang
lalu tapi aku bangga dan sangat menyukai perkerjaanku. Aku berhasil lulus
dengan nilai sempurna dan sudah memiliki gelar S-1 pula.
Saat ini aku kembali
seperti saat aku masih kecil begitu ceria menikmati hidup tidak seperti Kim Soora
di masa remaja yang dingin, takut bersosialisasi dan sering berhalusinasi. Aku
ingat sepertinya kami tertukar, maksudku lihat saja Mitha saat ini seperti
diriku waktu remaja. Yah , aku mendapat kabar dari teman-temanku melalui
chating yang selamat dari sebuah tragedi 4 tahun lalu bahwa saat ini kondisi
Mitha sangatlah memprihatinkan. Dia mengalami depresi yang sangat akut sejak
tragedi 4 tahun itu berakhir.
Penampilan ku saat ini
sangat normal, aku menganti model rambutku yang tadinya hitam panjang menjadi
sebahu dan berwarna emas, aku juga mulai mengerti fashion dan mulai mengikuti
tren dan sangat modis. Kehidupanku saat ini sangat sempurna beserta pacarku,
yah aku sudah memiliki pacar dan akan segera menikah akhir tahun ini. Pacarku
juga bersekolah di SMA yang sama denganku dan dia orang Indonesia. Kami tidak
LDR karena ia juga berada di korea karena bisnisnya. Pasti kalian penasaran
siapa pacarku ini. Yah memang tak ada orang yang mau berteman denganku pada
waktu SMA dulu tapi keajaibanpun datang karena sudah sejak pertama aku menginjakan
kaki di kelas X ia memperhatikan aku
dari jauh, ia memotretku diam-diam tapi ia tidak berani mendekatiku karena
takut ditolak, karena tidak ingin membuatku bingung dan tidak ingin aku sakit
hati. Sejak kejadian 4 tahun itu ia semakin berani mendekatiku.
Aku benar-benar tidak
percaya pada kehidupan ini. Akhirnya aku bisa terbebas dari kutukan melihat
hantu sejak tragedi 4 tahun lalu. Yaps, pasti kalian ingin tahu apa yang
terjadi 4 tahun lalukan. Baiklah akan aku ceritakan semuanya..
Cerita itu bagiku dimulai
sejak hari pertama aku bersekolah di kelas XI IPA F di sekolahku SMA Global
School. Aku pindah lagi ke Indonesia waktu ajaran sekolah dimulai waktu di
kelas X. Karena orangtuaku ada bisnis dan mereka tidak mau meninggalkanku di
korea sendirian maka mereka membawaku lagi dan juga karena Bi Inah sudah lama
meninggal karena penyakit jantungnya itu yang membuat orangtuaku sangat
protektif padaku dan mulai memperhatikanku lagi.
Aku sangat benci harus
tinggal kembali di Indonesia, orangtuaku mendaftarkanku di sekolah tak jauh
dari rumahku yang dulu sementara mereka tinggal dirumahku yang dulu dan aku
tinggal di asrama karena mereka pulang malam terus. Untuk apa aku pindah jika
merekapun bahkan tak ada waktu untukku, mereka berdalih bahwa mereka dapat
memantauku di asrama itu karena dekat dengan rumah.
Saat pertama kali aku
melihat rumah ku yang dulu dan saat aku berkeliling ketaman juga danau tempat
Randy meninggal. Kenangan masa kecilku
bermunculan bahkan aku masih saja melihat hantu serba hitam itu di danau
sementara arwah Randy sudah tenang di alam sana. Karena waktu itu aku
menolongnya melakukan permintaan terakhir untuknya bahwa ia mencintai Mitha.
Dia ingin aku menulis surat cinta untuk Mitha walau ia tak berbicara tapi ia
menunjukan dengan pandangannya dan selalu menunjuk ke kertas dan aku pun
mengerti apa yang ia maksud. Surat itu yang aku tulis berisi :
kamu
jangan sedih mitha, aku baik-baik saja. Aku sangat menyukaimu karena kita
selalu bersama-sama, tertawa bersama bahkan bermain bersama . Jadi jangan
menangisiku lagi ku mohon, hiduplah yang lama dengan ceria dan selalu
tersenyumlah.
RANDY
Aku saat itu menyelipkan
surat itu pada buku mitha, aku tak tahu apa ia masih menyimpannya atau tidak..
Tak luput akupun berkunjung ke makam Randy yang ternyata Mitha juga sering
berkunjung ke kuburannya.
Aku selalu datang
pagi-pagi karena aku suka datang pagi-pagi kesekolah agar aku juga dapat mempunyai
tempat duduk paling depan, tempat favoriteku. Saat itu suasana kelas yang gelap
dan lampu masih menyala, aku juga melihat beberapa hantu yang memang sudah ada
seperti pocong, kepala buntung dan kuntilanak kebanyakan tapi aku cuek saja itu
sudah menjadi rutinitas setiap hari ku. Bahkan mereka sepertinya juga sudah
mengenalku dan tidak memperdulikanku. Matahari sudah tampak dan banyak
siswa-siswa lain yang berdatangan, aku melihat dari kejauhan tempat duduk
favorite Mitha di bangku tengah sudah terisi dengan bunga dan surat-surat
mungkin surat cinta, salah satu temannya datang yang bernama Tia dan langsung
menempati kursinya juga teman-temannya. Ia kadang menyapaku tapi saat ini ia
tidak menyapaku dan kurasa ia sedang banyak masalah karena terlihat masam dan
menunduk. Aku ingin menyapanya tapi aku begitu malu untuk menanyakan
sesuatu.Lalu teman-temannya yang lain berdatangan juga, si Mitha yang terlambat
dan mengetahui bangkunya sudah penuh dengan hal-hal konyol. Mereka saling
tertawa dan kulihat tidak ada sesuatu yang berarti dengan kemurungan Tia
beberapa menit yang lalu. Aku melirik sinis kearah Mitha yang juga melihatku.
Aku menjalani hari-hariku
seperti biasa murung,dingin, kaku dan sepeti yang orang-orang katakan aneh
bahkan akupun tak mempunyai teman seorangpun pada saat itu juga tak mempunyai
teman sekamar di asramaku karena orang-orang pada takut padaku dan sebagian
lagi jijik padaku. Aku sih tidak perduli apa aku punya teman atau tidak karena
di koreapun aku diperlakukan sama saja. Aku juga tidak iri dengan Mitha yang saat itu
punya temen banyak juga ke 3 teman dekatnya. Dan akupun tidak ingin berteman
dengannya kembali karena ia begitu sombong saat ini dan mengacuhkanku seolah ia
tidak mengenalku dan tidak membelaku ketika aku dipermalukan seolah kami orang
asing yang baru bertemu bukan teman yang hilang.
Tapi kebahagiaan itu
muncul saat Byun sekolah ditempat yang sama denganku. Seolah aku mendapat sinar
matahari . Aku sudah mengenal Byun sudah lama, ia adalah orang kedua yang aku
suka selain Randy. Mamaku dan Mamanya adalah teman dekat jadi aku sudah
dijodohkan oleh orangtuaku dan orangtuanya saat aku kembali ke korea tapi
entahlah sepertinya Byun tidak menyukaiku mungkin ia juga mengangapku orang
aneh seperti yang lainnya. Kepindahan Byun ke sekolah untuk menemaniku dan
menjagaku selama aku di sekolah .
Aku tersenyum melihatnya
saat aku mengetahui kami dikelas yang sama tapi Byun cuek saja dan
mengacuhkanku seolah aku tidak ada. Seperti itulah Byun selalu dingin juga
mengacuhkanku dan bersikap baik kepadaku saat ada ibunya ada tapi disini di
Indonesia tidak ada yang menyuruhnya untuk selalu bersamaku dan tidak ada yang
menyuruhnya terus memperhatikan ku. Kadang aku heran mengapa ia menyetujui
perjodohan yang terbilang dipaksakan kehendaknya ini. Seharusnya ia menolak dan
berkata bahwa ia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapku. Pernah sekali ia
bicara hanya padaku bahwa ia melakukan perjodohan ini demi ibunya, demi
kesehatan ibunya karena ibunya memiliki penyakit stroke dan demi perusahaan
kakeknya. Saat itu jujur saja aku merasa sakit hati. Tapi akan aku buat ia
jatuh cinta kepadaku bagaimanapun caranya karena sikapya yang semakin acuh
padaku itulah yang membuatku semakin mengejar-ngejarnya dan perhatian padanya
walau pada akhirnya aku tahu aku tak akan pernah mendapatkan hatinya sampai
kapanpun.
Sebenarnya memang saat
itu aku adalah gadis yang suram karena penampilanku yang selalu berantakan
kadang aku tak pernah menyisir rambut panjangku yang lurus dan hitam, dan
selalu ada mata panda di sekeliling mataku karena tak bisa tidur semalaman juga
aku tak memeperdulikan penampilanku saat itu. Aku tidak mengerti fashion dan
seberapa modisnya penampilan. Kalau kalian tanya aku ya aku akan jawab kalau
aku ini cewe jelek dan aneh. Aku juga tak seperti anak-anak lainnya yang
memakai rok mini-mini kesekolah. Yang aku gunakan sama dengan anak kelas X yang
baru masuk dengan rok panjang melewati dengkul sedikit. Walaupun aku dari korea
yang terkenal dengan orang-orang yang selalu mengutamakan penampilan tapi aku
berbeda, aku ingin jadi diriku sebenarnya tapi walaupun begitu aku mengeti
sedikit soal fashion tapi menurutku itu semua tidak penting. Berbeda sekali
dengan Mitha yang selalu tampil cantik saat disekolah dan selalu menjadi pujaan
anak laki-laki di sekolah.
Saat istirahat sekolah
Byun dikerubuni oleh anak-anak perempuan dikelasku dan beberapa dikelas lain.
Sungguh memang ia sangat ganteng, dulu saja waktu di korea ia selalu jadi pusat
perhatian anak-anak perempuan dan sangat populer hingga ke beberapa sekolah.
Walau disini juga banyak cowok ganteng tapi mereka tidak memperdulikan
keberadaanku. Begitu aku yang masa bodoh saja. Kalian pasti berfikir aku sering
di bully mereka. Tapi kenyataanya aku melawan jika aku akan di bully, baru aku
memandang dengan mataku yang tajam saja mereka sudah takut. Jadi tak ada yang
berani membullyku saat itu entah itu dikorea atau di Indonesiapun. Pokoknya aku
tidak ingin bersosialisasi dengan siapapun karena mereka menganggapku aneh dan
tidak ingin berteman denganku jadi jika ada perlu saja aku bicara. Tapi sejak
Byun pindah kemari aku serasa ingin terus-terusan berbicara padanya dan pasti
orang-orang dikelasku pada bingung mengapa aku berani yap berani bicara dan
mendekati anak baru yang baru pindah. Aku merasa bukan diriku karena bersikap
lenje dan genit itupasti yang difikirkan orang-orang itu.
“ Byun ah “ kataku
berjalan mendekatinya langsung semua orang menatap kearahku dan menyingkir kesamping
sehingga sudah jelas byun bisa melihatku tapi saat itu ia biasa saja melihatku
juga dengan ekspresi datar.
“ Nanti aku akan
membantumu pindah ke asrama ya, kau sudah bersama pamanmu yang tinggal disini
kan sejak seminggu yang lalu “ kataku dengan bahasa indo agar yang lainnya
mendengarku saat itu aku menyombongkan diriku. Dan ekspresi semua orang
terkejut saat aku jauh mengenal Byun. Ia diam memandangiku lama
“ tidak usah, tidak perlu
khawatirkan aku “ ia menjawab dengan bahasa korea bukan bahasa Indonesia yang
membuat orang-orang disekitar kami tidak mengetahui artinya tapi aku hanya
tersenyum.
“ Baiklah terimakasih “
kataku tertawa tapi dipaksakan dan yang lain sepertinya mengira bahwa Byun
merespon ajakanku untuk membantunya pindah. Lalu ia berdiri dan ingin pergi
begitu pula dengan gadis-gadis itu yang kecewa karena Randy akan pergi.
“ Kamu mau kemana “
kataku dalam bahasa korea
“ ke toilet kenapa mau
ikut, oiya ada yang harus aku bicarakan denganmu “ katanya sambil beranjak
pergi.
“ awas kalo kamu kabur “
kataku kemudian
“ aku janji, ayo makan
bersama ke kantin “ katanya lalu pergi
jauh dari hadapanku.
Aku sudah menunggunya
sudah hampir 10 menit dan ia tak datang-datang juga ke kelas. Akupun mengambil
inisiatif untuk mencarinya ke toilet tapi ia tidak ada disana lalu aku ke
kantin dan melihat ia bersama Mitha saling tertawa, seperti Byun memiliki ketertarikan
dengan Mitha. Aku melihat Byun yang selalu ceria. Tidak seperti saat bersamaku,
Byun tidak pernah tertawa bahkan tersenyum seperti itu. Aku melihat Byun yang
selalu ceria dan tersnyum. Lalu perasaan cemburu itu ada dalam hatiku dan aku
ingin sekali bilang bahwa Byun itu tunanganku. Kami sudah dijodohkan sudah lama
dan jangan dekati Byun lagi. Aku tidak rela Mitha dekat dengan Byun, seolah
kejadian saat kami berumur 7 tahun itu kembali lagi dan kami menyukai lelaki
yang sama. Aku hanya bisa mengepalkan tanganku sambil mendekati kearah mereka.
“
Byun, kamu kok tega ninggalin aku di kelas. Kamu bilang kita mau sama-sama
pergi ke kantin “ kataku terlalu dilebih lebihkan karena aku ingin membuat
Mitha tahu bahwa aku dan Byun sangat dekat.
“ Maaf aku lupa, setelah
pergi ke toilet aku langsung ke kantin “ kata Byun acuh pada ku dan langsung
diam seperti biasanya.
Byun menarik tanganku pergi dan kami tiba di lorong
sekolah yang sepi, ini adalah belakang sekolah.
“ Mau apa kamu hah, aku
Cuma ingin berkata bahwa aku akan mengakhiri perjodohan kita. Orangtuaku sudah
sepakat untuk tidak memaksaku “ ia berkata sedingin es
“ Kau fikir bisa
segampang itu, bukankah ibumu yang menyuruhmu untuk bersekolah disini dan
menjagaku jadi jangan berbohong padaku bahwa ibumu sudah merestui untuk
perjodohan ini di batalkan “ aku bicara sambil memanang matanya, kulihat ia
mengepalkan tangannya. Memang ibunya yang menyuruhnya pindah ke sini menemaniku
tapi ia tak mau dan baru dikelas XI ini dia mau pindah.
“ AKU TIDAK MENCINTAIMU !
“ bentaknya padaku yang membuatku kaget karena ucapannya yang keras. ia pun
memejamkan matanya seolah menahan gejolak amarahnya.
“ aku akan membuatmu
jatuh cinta padaku “ kataku bicara seadanya
“ kau..kau tidak
mengerti, sudah kubilang aku tidak bisa menyukaimu. Bisakah sekali saja aku
memohon padamu untuk membatalkan perjodohan ini dan bilang pada ibumu “ katanya
masih dengan mata terpejam.
“ maaf Byun ah, aku tidak
bisa “ kataku merasa sangat egois karena aku tidak ingin kehilangannya. Ia
membuka matanya lalu berbalik kebelakang sehingga ia membelakangiku.
“ Kalau begitu aku tidak
punya pilihan selain terus membuatmu sakit hati sampai kau membenciku, sangat
membenciku “ katanya lalu pergi dengan perasaan terluka. Yah aku memahaminya
tapi aku sangat, sangat tidak ingin kehilangannya.
(
Kembali kemasa sekarang ) Saat ini aku melihat jam tanganku
sudah hampir tengah malam dan aku masih berada di kantor, tak luput aku melihat
sms dari pacarku yah pacarku teman SMA ku dulu, aku tersenyum melihat sms itu
bahwa aku sudah memiliki seseorang yang spesial tapi aku juga merasakan
kepedihan hatiku saat memikirkan dulu dimana Byun mengatakan dia ingin
membuatku sakit hati,terluka dan membenciku . Aku menyeduh kopi panas sambil
meminumnya sedikit demi sedikit, karena aku benar-benar tidak fokus dengan
perkerjaanku. Aku selalu mengingat dan mengingat kejadian itu. Ku matikan
komputerku dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah saat seseorang mengagetkanku.
“ Soora “sapa seseorang
yang sangat aku kenal yaitu Byun. Byun yang sekarang adalah seorang pengusaha
muda, serius, berani, dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar tidak seperti
dulu sebagai anak remaja yang nakal, petakilan, ceria, humoris,lucu. Semua itu
berubah karena cinta, cintanya kepada Mitha. Aku mengerti dan aku memahaminya.
Aku tersenyum melihatnya masih berada dikantor. Walau kami tidak bersama tapi
kami berteman dan itu saja menurutku sudah cukup untuk selalu berada dekat
dengannya, mendukungnya sebagai sahabatnya.
“ Pak presdir, ko masih
ada di kantor jam segini “ kataku sambil berdiri mengapit tasku dengan
tanganku.
“ Ada yang ingin aku
bicarakan, kamu juga sudah mau pulang. Bagaimana kalau kita pergi makan sambil
bercerita “ kata Byun yang kelihatan ia serius sekali ingin bicara denganku,
sudah ku tebak ia pasti akan bercerita mengenai Mitha.
Kami pun menuju sebuah
restoran malam, restoran pinggir jalan korea yang memang berjualan khusus pada
malam hari sampai subuh. Aku memesan minuman soju karena udara benar-benar
sangat dingin sementara Byun tidak suka minum-minuman seperti itu.
“ Soora, apakah kamu tahu
bagaimana keadaan Mitha saat ini “ kata Byun yang menggesekan kedua tangannya
untuk memberi kehangatan walau sudah pakai sarung tangan.
“ yah aku tahu, ia sangat
depresi sekali sudah jelas kan “ kata ku menjawab pertanyaan nya sambil
menuangkan soju dan meminumnya.
“ Kalau aku kembali
padanya dan membuatnya seperti dulu apakah mungkin “ katanya
“ Lalu untuk apa kau
pergi ke sini dan membiarkannya menderita disana “ kataku tepat mengenai
sasaran.
“ karena, aku harus
membuktikan padanya bahwa aku mampu menjadi dewasa dan mapan “ katanya lagi
“ yah, aku sudah tahu
alasanmu tetap stay disini. Tapi kau sudah menjadi orang hebat sekarang dan
sudah 4 tahun “ kataku menuangkan soju ke gelasku.
“ itulah yang selalu aku
fikirkan, aku harus kembali tapi aku tak mengerti bagaimana caranya. Aku takut
ia tak akan menerimaku mengingat kondisinya sekarang” katanya sambil makan kue
beras yang sudah datang.
Lalu saat itu aku
mendengar telpon Byun berdering beberapa kali.
Ia buru-buru mengangkat telponnya, sepertinya sangat penting.
“ Hallo.. iya apakah ia
baik-baik saja” hening byun malah menganguk dan berkata iya dan iya. “ oke, tolong
jaga dia baik-baik ya mba Ratih “ Lalu mereka mengakhiri pembicaraannya.
“ telpon dari siapa Byun
“ kataku penasaran.
“ dari Indonesia, kamu
inget mba Ratih kakak sepupunya Mitha kan. Ia sekarang jadi psikiater Mitha.
Kemarin ia menghubugiku dan memberitahu kabar Mitha dan menanyakan apa aku bisa
kembali ke Indonesia karena sepertinya kondisinya memburuk. Ia selalu menutup
dirinya sendiri sampai saat ini ia mulai memajang kembali foto kita di dinding
rumahnya itu suatu kemajuan besar dan besok ia berkata ia akan menghipnotis
Mitha agar mau bicara ada apa sebenarnya yang selalu menganjal pikirannya”
“ Kalo begitu, kau harus
menemuinya ke Indonesia. Kejarlah kebahagiaanmu Byun, aku mendukungmu “ kataku
sambil makan beberapa kue beras yang tersisa.
“ Baiklah, ayo pergi
sekarang ke bandara “ lanjutnya dan membuatku terkejut untuk apa aku juga pergi
menemuinya disaat seperti ini. Ia berdalih bahwa aku ini sahabatnya dan aku
juga harus ada saat Mitha sedang kesusahan seperti sekarang, well aku juga
kangen sekali sebenarnya dengan Mitha. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan
Mitha yang selalu riang, ceria gembira. Aku tahu kejadian 4 tahun yang lalu dan
sangat mengerti tapi jika aku kembali lagi ke Indonesia apakah aku akan kembali
menjadi Kim Soora yang muram.
Kami tiba di Bandara
Incheon dan membeli tiket pesawat dini hari jam 2 menuju SOEKARNO HATTA. Tak
luput aku menghubungi kekasihku dan ia akan menyusul besok pada pesawat pagi
hari. Aku selalu membawa pasport ku kemana-mana. Aku punya dua kenegaraan jadi
tidak repot untuku untuk berkunjung ke Indonesia.
Saat ini kami berada di
pesawat perjalanan antara 7 sampai 8 jam kami akan lalui. Aku mulai bercerita untuk memecah keheningan
sampai pesawat lempas landas nanti.
Setelah Byun waktu itu
berkata bahwa ia membenciku, aku kembali ke kelas dengan perasaan lesu ( Saat bercerita Byun sangat menyesal dan
minta maaf ) . Ada perasaan sakit
hati juga mendengar ucapannya waktu itu, dan akupun belajar tidak bisa
konsentrasi. Saat bel sekolah berbunyi aku bisa mendengar jelas Mitha dan
teman-temannya bercerita bahwa Mitha akan pindah ke asrama sekolah. Untuk apa
ia pindah ke asrama jika rumahnya dekat dari sekolah. Tapi harus kuakui
pelajaran yang kami akan lalui semakin berat saja, nanti kami akan mengadakan
jam tambahan sampai sore belum lagi tugas kelompok yang sangat berat. Mungkin
saat ini belum karena baru masuk sekolah tapi lihat saja 3 hari kedepan pasti
sibuk dan sangat full, untuk itulah aku mengerti situasi keadaan Mitha. Aku
melihat mereka semua hanya satu orang yaitu Tia yang murung karena sahabatnya
akan pindah. Sebenarnya ada apa dengan Tia mengapa ia begitu tidak bahagia dan
menganjal. Kulihat ia tertawa seperti dipaksakan. Aku prihatin melihatnya,
karena dia orang yang baik karena dialah orang yang mau menyapaku dan berbicara
padaku.
Aku melihat Byun langsung
pergi ke mobilnya. Ia memakai mobil dan supir pamannya. Paman Byun memang
tinggal di Indonesia untuk berbisnis. Aku ingin membantunya pindah tapi ia
seperti tidak memberiku kesempatan untuk membantunya. Aku mengambil inisiatif
untuk pergi ke apartemen pamannya. Ibunya meneleponku dan menanyakan kabarnya,
aku mengatakan bahwa Byun sangat memperhatikanku. Aku istirahat sebentar lalu
memanggil taxi dan pergi ke apartemennya
tapi saat aku sampai ke apartemennya kulihat Mitha dan Byun masuk ke apartemen
Byun dan keluar membawa beberapa kardus milik Byun yang ternyata Mitha membantu
kepindahan Byun. Sungguh saat itu aku sangat, sangat cemburu.
Aku mengikuti mereka
sampai di depan Asrama. Aku mengintip di balik pohon dari kejauhan dan kulihat
Mitha juga melihatku. Persis saat dulu aku mengintipnya bersama Randy dari
balik pohon. Saat Mitha dan Byun berpisah di persimpangan, aku ingin buru-buru
kabur tapi seperti dejavu aku melihat Tia yang menunduk berjalan dari asrama ke
arah Mitha yang berjalan menuju asrama, mereka berpapasan tapi Mitha seolah
tidak melihatnya. Tia dengan penampilannya yang berbeda kurasa, ia tak seperti
biasanya. Ku lihat ia pucat dan rambutnya berantakan sekali dan ia tetap
menunduk lalu ia mendongak kearahku dengan matanya yang tajam. Aku mengerti,
aku mengerti dan sangat mengerti. Bahwa yang kulihat itu adalah arwah Tia. Tapi
apakah Tia sudah mati, entahlah . Ia mendekat kearahku dan sekarang ia sudah
berada tepat di depan mukaku. Mulutku seakan terkunci dan aku tidak bisa
berteriak walau aku ingin lalu ia mencengkram tanganku kuat-kuat seperti sedang
memohon untuk menolongnya.
Saat ia mendekatkan
wajahnya kemukaku, aku melihat kenangan yang ia berikan kepadaku. Aku melihat
ia diperpustakaan, hanya ada beberapa orang disana seperti penjaga perpustakaan
dan beberapa siswa yang sedang membaca. Lalu ia menanyakan buku
matematikanya yang ketinggalan kepada
penjaga perpustakaan. Tapi penjaga itu tidak mengetahui dimana bukunya dan ia
mencarinya sendiri. Ia mencari dan terus mencari lalu ia kepojok ruangan dan
menemukan bukunya sudah robek tercabik-cabik walau tidak semuanya robek dan
terdapat tulisan.
“ KAU AKAN MATI
! “ tulisan dengan huruf kapital itu terdapat dalam buku tulis matematikanya
yang halamannya masih tersisa dan tidak robek. Saat itu ia akan teriak tapi
tidak bisa, mungkin karena ini perpustakaan. Lalu ia melempar buku itu. Ia pun
mengambilnya kembali dan saat ia buka lembaran demi lembaran tulisan KAU AKAN
MATI itu berhenti pada sebuah foto. Foto gadis remaja yang ku kenal sebagai
teman sekamarnya Cinta yang meninggal pada liburan kemarin yang kutahu
penyebabnya adalah bunuh diri dan aku tidak tahu bagaimana ia meninggal tapi
polisi bilang itu kecelakaan. Lalu ia melecekan foto itu dan keluar untuk
membuang buku dan foto itu.
Adegan
berpindah, saat itu anak-anak populer yaitu anak-anak OSIS mengadakan rapat
untuk menanyakan pemikiran anggotanya untuk mengerjai anak-anak baru. Aku dapat
melihat Mitha dalam penglihatan Tia yang sepertinya bosan, sang ketua osis Bayu
yang sedang berbicara. Cindy, Alya, Ruben, Kamal,Andika, Steve,Ryan, Lola,Maura
juga Cinta yang sedang mencatat hal apa saja yang dikatakan Bayu lalu aku sendiri
di kursi paling pojok yang mendengarkan sang ketua osis berbicara. Disitu aku
melihat diriku sendiri begitu dingin dan memandang semuanya dengan sinis. Aku disuruh ikut membantu angota osis
bukannya aku mau tapi disuruh karena aku merupakan siswa terpintar dan aku juga
tidak pulang ke korea waktu liburan kemarin karena malas, jadi kepala sekolah
menyuruhku untuk gabung dengan anak-anak osis. Walau kemarin ketika mos
berlangsung anak-anak osis lainnya tidak memperdulikan keberadaanku lebih
mengangapku tidak ada sebenernya hanya menyuruh-nyuruhku saja. Dalam
penglihatan itu aku melihat skema yang dipegang Tia. Bayu ketua osis, Andika
wakil ketua osis, Cinta sekertaris I, Tia sekertaris II, Maura bendahara I,
Ruben bendahara II, Kamal,Steve dan Cindy seksi-seksi dan sisanya angota.
Adegan
berpindah lagi ke taman sekolah, saat itu sudah mulai gelap dan hujan deras
Cinta membawakan payung untuk Tia.
“
Terimakasih Cin udah jemput aku dan datang kesini “ kata Tia tersenyum yang
sedang berteduh.
“ iya
sama-sama. Aku fikir kalian udah pada pulang “ katanya setelah melihat Kamal,
Ruben, Steve dan Ryan berjalan mendekat kearah Cinta dan Tia lalu orang terkhir
yang datang adalah Bayu sang ketua osis. Setelah itu adegan berpindah pada
teriakan seseorang dari dalam kelas dan Tia menerobos hujan dan berjalan
seperti sedang kabur, berjalan menuju asramanya.
Lalu
Adegan berpindah cepat. Tia dikamarnya, melihat beberapa pil lalu melemparkan
ke dinding. Ia mengambil tali dan mengikatkan diatap langit-langit kamar. Lalu
ia gantung diri.
Aku
tidak sadar sudah lebih dari 3 jam, aku
bangun dan sudah berada di kamarku sendiri. Aku melihat Mitha tidur di kasur
yang biasanya kosong di sebelah tempat tidurku. Untuk apa Mitha berada di
kamarku. Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi, Sepertinya tadi aku
kerasukan arwah Tia. Sungguh ganjil sekali kenangan yang ia lihatkan kepadaku
terutama saat Tia berjalan menerobos hujan seperti orang yang sudah melakukan
kesalahan. Apa mungkin ini ada sangkut pautnya dengan Cinta ? . Lalu apakah
kematian Cinta ada sangkut pautnya dengan Tia? dimana arwah Cinta sekarang ?
karena sejak ia meninggal aku tak pernah menemukan arwahnya. Apa mungkin Cinta
masih hidup dan membuat tulisan itu di buku Matematika Tia. Lalu dimana arwah Tia
sekarang ? aku celingak-celinguk tapi di kamarku tidak ada arwah sama sekali
hanya ada Mitha yang sedang tidur. Banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku.
Entahlah aku juga tidak mengerti apa yang sudah Tia lakukan sampai ia mencoba
bunuh diri dengan gantung diri seperti itu. Tapi aku tidak memperdulikan Mitha,
aku justru merasa kasihan sekali padanya karena orang yang paling dekat
dengannya yang mungkin ia sudah anggap menjadi sahabatnya sudah tidak ada lagi
di dunia ini. Sementara aku melihat tangisan tertahan.
Keesokan
harinya kami sekolah seperti biasa karena tidak mungin pembelajaran harus
dihentikan terutama bagi kelas XII walau mereka kemarin juga mendapat accident,
tapi seolah semuanya tidak bisa konsentrasi belajar. Kebanyakan dari mereka
melamun dan mencerna apa yang terjadi, lalu hanya Mitha dan teman-temannya yang
menangis sesungukan saat jam pelajaran kosong. Semalam ternyata Mitha tidak
benar-benar tertidur, ia menangis dan menahan tangisnya, karena sudah terlihat
jelas matanya yang bengkak dan ada lingkaran hitam di lingkaran matanya. Aku
juga merasa kehilangan tapi aku kan tidak dekat-dekat banget sama Tia. Tapi aku
juga merasa sedih, pesan yang ia kirimkan kemarin. Aku harus mencari tahu apa
yang Tia inginkan agar ia bisa tenang beristirahat di alam sana. Aku harus
menemukan arwah Tia secepatnya.
(
Kembali ke masa sekarang )
Kami
sudah tiba di Bandara SOETA pada pukul 8 pagi wib. Ceritaku sempat tertunda
karena pesawat sudah loading off dan kami harus melanjutkan perjalanan kami
menuju apartemen Mitha. Saat aku bererita pada Byun tentang Tia, sepertinya ia
antara percaya dan tidak percaya kepadaku tapi sumpah aku tidak
mengarang-ngarang ceritaku. Tapi sepertinya ia juga yakin karena ia sendiri
juga mmenyaksikannya peristiwa itu, pembantaian 4 tahun lalu.
III
Jurnal
Cinta
Jum’at, 12 Februari 2010
Dear diary..
Aku baru saja membeli buku diary cantik berwarna pink
ini, untuk ku corat-coret setiap hari karena mungkin aku tidak bisa membendung
perasaanku.
Hari ini aku sangat lelah tapi juga aku mengangap hari
ini adalah hari paling istimewa dalam hidupku karena Bayu kenapa, karena cowok
itu mengajaku pacaran setelah ia mengejar-ngejarku berbulan-bulan lamanya tapi
selalu ku tolak. Yah aku sering menolaknya karena aku temaksud cewe populer,
banyak sekali yang ingin pacaran denganku. Tapi ia juga mengejar-ngejar si cewe
centil dan lenje itu si Mitha karena aku sering menolaknya maka ia pun mulai
mengejar-ngejar Mitha. Tapi itu tak berlangsung lama karena tau-tau saja ia
mengajaku pacaran barusan dan aku langsung memutuskan pacarku yang sekarang.
Aku adalah tipe perempuan yang suka mempermainkan perasaan laki-laki. Tapi kali
ini, aku tidak akan pernah mempermainkan perasaan Bayu, aku janji. Karena aku
mulai menyukainya entah kapan. Ia seperti malaikat bagiku, ia segalanya. Karena
ia selalu berbiwaba dan punya daya tarik dengan kepemimpinannya pantas saja ia
terpilih menjadi ketua osis mengantikan osis yang lama. Aku harus jadi
sekertarisnya, aku harus selalu dekat dengannya bagaimanapun caranya karena
saat ini ia adalah Pacarku. Selain keren, Bayu juga ganteng. Dengan rambut
hitamnya yang memiliki poni miring dan memiliki otot karena memang ia sangat
atletis sekali. Aku membayangkan jika aku memeluk badannya yang berotot itu.
Tapi walaupun begitu ia tidak terlalu putih dan aku suka laki-laki yang tidak
putih karena menurutku laki-laki seperti itu sangat manis. Aku sungguh sedang
jatuh cinta saat ini.
Hari ini juga hari dimana aku pindah ke kamar asrama
baruku, karena kamar lamaku harus memiliki renovasi. Jadi aku harus sekamar
dengan Tia, sementara teman kamarku yang
lama lola ia pindah ke kamar sahabatnya. Aku tidak tahu bagaimana Tia, ia
adalah teman Mitha orang yang paling aku benci disekolah ini karena ia sok suci
selalu menolak laki-laki seolah tidak ada yang pantas untuk bersanding
dengannya juga ia sok kecantikan lagi. Tapi kufikir Tia berbeda mungkin ia
sangat baik semoga saja...
IV
Mitha
Kondisiku saat itu sangat
kacau, aku menangis semalaman bahkan aku tidak sanggup untuk membayangkan orang
yang aku sayangi pergi meninggalkan dunia ini. Seolah kejadian waktu Randy
meninggal kembali lagi, aku benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan seseorang
yang sangat kusayangi lagi di dunia ini. Rasanya sungguh menyakitkan, kenapa
Tia tega meninggalkanku seperti ini. Seharusnya ia bercerita padaku dan kami
akan menemukan jawabanya bersama. Memang ada masalah apa yang membuatnya harus
bunuh diri. Aku buntu, fikiranku buntu. Aku benar-benar tak mengerti dengan apa
yang sudah terjadi.
Aku ingin sekali
berteriak, berteriak sekencang-kencangnya karena aku tidak bisa mengalahkan
takdir yang sudah dibentuk dan mengapa orang yang dekat denganku dan sangat ku
sayangi harus pergi. Kematian, aku benci Kematian. Mengapa kita harus bertemu
lalu kita berpisah lagi, aku sangat belum siap jika harus kehilangan lagi
orang-orang yang ku cintai sekali lagi. Aku ingin sekali menangis sesungukan,
tapi saat ini aku berada di kamar Kim Soora dan aku tak ingin membangunkan
tidurnya maka aku berusaha untuk menahan tangisanku dan memejamkan mataku agar
aku tidak terus-terusan menangis. Aku lelah dan capek memikirkan ini semua,
rasanya aku juga ingin mati.
Saat disekolah akupun tak
bisa membendung kesedihan yang kualami, mengapa sekolah harus berjalan
seharusnya sekolah diliburkan untuk menghormati kami yang berduka dan untuk
menghargai teman kami yang sudah meninggal. Maka akupun menangis di kelas
bahkan ada guru sekalipun dan saat pelajaran kosong kami menangis sesunggukan .
Maksudku dengan teman-teman ku yang masih tersisa Alya dan Cindy. Kami tidak
sanggup menghadapi cobaan yang sangat begitu berat. Bahkan tidak ada yang
menghibur kami karena semuanya sama memikirkan kematian.
Lalu tahu-tahu saja Byun sudah ada di depan kelas
“ HEI !!! “ ia berteriak
dengan keras pada kami, teman-teman sekelas. Maka mata kamipun tertuju padanya
yang teramat berani itu.
“ Mengapa kalian terus
menangis, sudahlah itu membuat kepalaku sakit “ ia melihatku dengan matanya
yang tajam, aku bahkan tak percaya ia tega sekali megatakan seperti itu pada
kami yang sedang berduka.
Karena tak tahan diri aku berdiri dari tempatku tapi
tidak berjalan kedepan dan ingin sekali menamparnya tapi hanya tanganku saja
yang aku kepalkan.
“ Kau bilang apa,
kepalamu pusing hah. Lalu bagaimana dengan perasaan kami “ kataku sewot, lalu Alya dan Cindypun
memegang pundaku seperti menyuruhku untuk tidak meladeni si anak pindahan itu.
Tapi reaksinya hanya diam saja, mata tajam itu berubah menjadi matanya yang
hangat memandangiku, seolah ia berbuat salah dan mengerti perasaanku. Aku rasa
sebagian orang dikelas ini setuju dengan ku.
“ Ku rasa kamu tidak pernah merasa kehilangan
seseorang yang paling berharga dalam hidupmu, dan kurasa kamu tidak memiliki
perasaan “ kataku tanpa perasaan berbicara padanya lalu keluar kelas sambil
menangis menuju taman sekolah.
Aku duduk di bawah pohon,
bahkan tak ada satu orangpun yang mengejarku dan mengerti perasaanku. Aku
berharap sekali Byun akan memahami kondisiku saat ini tapi sepertinya aku
salah. Ku fikir ia berbeda dengan cowok kebanyakan karena ia berbeda, ia unik,
mempunyai rasa humor, pengertian dan baik.
Aku melihat seseorang
bersender di pohon lainya sambil bersiul. Ya, seseorang itu adalah Byun. Orang
yang tidak mempunyai perasaan. Ia lalu meghampiriku dan jongkok disebelahku.
Akupun berdiri dan ingin cepat-cepat pergi tapi ia menahan pergelangan
tanganku.
“
Mitha, maafkan aku “ katanya berbicara seperti itu yang membuat air mataku mengalir di pipiku. Tapi aku tidak perduli
dengan ucapan permintaan maafnya itu dan yang aku fikirkan hanya ingin
pergi-pergi menjauh darinya. Tapi aku salah, ia mencengkram tanganku lebih
kencang lalu menarik tanganku hingga kami berpelukan.
“
Lepaskan aku “ kataku sambil meronta-ronta dari dekapannya.
“ Ku
mohon, tetaplah bersandar di pundakku. Aku mengerti perasaanmu, masih ada aku
untuk menampung semua kesedihanmu “ katanya yang membuat aku berhenti
meronta-ronta, tapi aku masih menangis.
Aku
merasa bahwa aku tidak sendirian, aku bersamanya saat ini duduk di pohon.
Menyandar dipundaknya tanpa bicara apa-apa. Hening itulah yang terjadi, ia
menawarkan sapu tangan untukku dan menggunakan sapu tangannya untuk mengelap
ingusku. Ia tidak ingin mengangguku sepertinya, setelah perasaanku agak baikan,
akupun mencoba untuk berbicara. Tidak ada yang melihat kami karena taman
sekolah berada jauh dari bangunan sekolah dan tertutup oleh pepohonan yang
rindang.
“
terimakasih Byun sudah meminjamkan sapu tanganmu “ kataku sambil mendongak
melihat wajahnya yang bak malaikat itu.
“
apakah saat ini kau sudah lebih baikan ? “ tanyanya padaku sambil melihat
mukaku yang kusut. Saat mata kami bertemu seolah dunia yang kumiliki
berputar-putar disekelilingku, ada perasaan bahagia disana karena dekat
dengannya.
“
iya, tapi kurasa luka dan duka di hatiku masih ada “ kataku mengingat Tia dan
ingin menangis lagi. Reaksinya langsung mengelus-ngelus kepalaku.
“ ku
mohon jangan menangis lagi, aku tidak sanggup “ katanya kemudian, dan aku
bersandar kepundaknya.
“ ya
aku sangat tahu jika aku menangis sangat
jelek, mengeluarkan ingus dan meraung-raung “
kataku karena berfikir bahwa ia tidak sangup melihat penampilan jelekku
ini.
“
bukan itu, tapi perasaanku rasanya sakit . Untuk itulah tadi di kelas aku
menyurumu untuk berhenti menangis “ katanya dan aku mengerti ucapannya karena
saat mengatakan itu matanya langsung tertuju kepadaku.
“ aku
minta maaf karena sudah mengatakan kau tak memiliki perasaan waktu dikelas tadi
“ kataku
“ yah
tidak apa-apa, aku memang seperti itu kebanyakan “ sahutnya sambil tertawa yang
membuatku ingin tertawa juga.
“
waktu umurku 12 tahun, kakak lelakiku yang sudah SMA meninggal karena bunuh
diri. Ia jatuh dari atap gedung sekolahnya, ia meninggal karena sudah tidak
tahan di buly oleh teman-temannya. Saat itu aku merasa kehilangan dan merasa
bodoh sekali mengapa aku tidak pernah berbicara padanya walau sudah terlihat ia
selalu murung dan mengunci diri dikamarnya “ katanya tiba-tiba bercerita seperti
itu. Lalu aku berdiri dan membungkuk
“
maaf aku tidak tahu “ sahutku lalu ia pun nyengir lebar sambil merentangkan
kedua tangannya .
“ kau
ini lucu sekali “ katanya mencubit pipiku lalu tanganku ditariknya agar aku
duduk kembali.
“ aku
bersalah sudah mengatakan hal yang jahat kepadamu, pasti kau sangat kehilangan
“ kataku
“
tidak juga, aku menganggap saat ini kakaku sedang liburan keluar negeri dan
sangat bahagia dengan liburannya itu. Ku yakin “ katanya sambil tertawa, tidak
menganggap kakaknya tidak benar-benar meninggal.
“
tapi kau kan tidak bisa menemuimu kakak mu lagi “ kataku berkata seperti tidak
mempunyai perasaan
“
suatu saat pasti kami bersatu kembali, walau menunggu beribu-ribu tahun bahkan
puluh ribu tahun. Kita satu, dan dikehidupan selanjutnya kuharap kakaku
menjalani kehidupan yang menyenangkan “ katanya saat itu lalu bel berbunyi
tanda jam istirahat, saat itu aku juga tersenyum. Ku harap Tia juga memiliki
kehidupan yang baik dikehidupannya yang lain. Aku percaya dengan reinkarnasi,
aku juga akan menganggap Tia berlibur jauh dan suatu saat kami akan bertemu
kembali sampai di kehidupan yang selanjutnya. Walau luka dan duka masih ada
dalam hatiku tapi rasanya aku harus bisa mengikhlaskan kepergian sahabatku
untuk selama-lamanya.
Kami kembali ke kelas
setelah kami makan bersama di kantin, kantin pada jam istirahat seperti
biasanya ramai seolah tidak ada yang berubah. Walau makanku rada tidak nafsu
tapi Byun selalu memaksaku makan dengan candaan lucunya membuat aku makan walau
sedikit dan tidak bisa menahan tawa, walau disekitarku tatapan tajam melihatku
dari semua orang entah tatapan apa yang mereka lihat. Tatapan karena aku begitu
cantik, tatapan karena para laki-laki itu cemburu dan para perempuan itu
cemburu karena aku bersama Byun yang juga ganteng, atau karena mereka berfikir
temanku baru saja meninggal tapi aku masih bisa makan dan tertawa seolah tidak
ada yang terjadi. Entahlah . Justru karena Byun aku melupakan kesedihanku,
karena dia juga aku mulai mengikhlaskan kepergian temanku dan mengerti keadaan
Randy juga aku bisa mulai menghargai hidupku sendiri. Aku juga melihat tatapan
tajam Soora dari kejauhan seolah tidak ikhlas aku bersama dengan Byun.
Saat dikelas kedua
temanku sudah berhenti menangis, tapi mereka masih tetap meratap. Aku mulai
merasa sedih dengan keadaan teman-temanku. Seharusnya aku ada bersama mereka
disaat ini tapi aku malah menyandarkan diriku pada Byun, seseorang yang baru
saja kukenal dan sepertinya aku menyukainya.
“ Teman-teman “ sapaku
pada mereka yang menoleh kearahku.
“ Dari mana aja lo, lo
malah enak-enakan ketawa dan makan di kantin “ kata Cindy melihat kearahku
seolah tidak percaya kepadaku. Tapi Alya malah menangis lagi dengan hidungnya
yang memerah.
Tapi aku tida berani
menjawab dan semua yang berada di kelas melihat kearah kami karena Cindy
berkata setengah membentak dan berteriak padaku. Cindy pun tanpa babibu
langsung memindahkan tempat duduknya ke bangku belakang tidak jauh dari bangku
Byun. Aku tahu percuma saja menjelasan saat ini karena Cindy sangat emosi
sekali.
“ Mitha, aku ngerti kamu
juga kehilangan Tia. Aku juga ngerti kenapa kamu bisa makan dikantin dan
tertawa seperti itu “ kata Alya yang bereaksi terbalik dari Cindy, gaya
ucapannya yang membelaku tapi seperti menyindirku.
“ Maaf al, aku ga punya
pilihan lain lagi selain harus
mengikhlaskan kepergian Tia “ jawabku sambil memegang pundaknya
“ iya kamu pasti sudah
menyandarkan kesedihanmu pada Byun kan. Sepertinya kalian saling menyukai.
Sementara aku, aku baru aja putus sama pacar aku sehingga aku tidak punya
tempat bersandar seperti kamu “ katanya mulai mengelap ingusnya
“ Alya, kamu masih punya
aku. Kamu boleh bersandar dan berbagi cerita dengan aku” Alya tersenyum
mendengarnya
“Dan sepertinya kita
harus menyelidiki kematian Tia “ kataku kemudian pada Alya
“ memang kenapa ? “
tanyanya
“ sepertinya ada alasan
mengapa Tia bunuh diri “ sahutku ketus pada Alya
Yah gosip itu menyebar
seperti racun, mungkin kepada anak-anak yang sering kutolak tidak terima aku
dekat dengan Byun dan fans Byun yang tidak suka aku dekat dengannya. Tadi pagi
aku mendapat banyak bunga mawar layu di mejaku dan ungkapan belasungkawa entah
dari siapa, seperti biasa bunga-bunga itu biasa kubuang ketong sampah. Tapi
mendengar aku tidak memperdulikan temanku yang sudah meninggal berduka atas
kematiannya itu tidak masuk akal karena akulah orang yang paling berduka disini
. Entah aku tidak perduli dengan semua kejelekan itu, aku berharap kebenaran
akan terungkap secepatnya.
2
Minggu berlalu sejak kematian Alya, tidak ada yang berubah
dengan sekolah. Malah kami sibuk dengan UTS kami, Kami sekolah seperti biasanya
dan perlahan luka di hati kami sembuh seolah mengikhlaskan apa yang terjadi.
Kami rela melepas Tia saat dimana hari pemakamannya, 3 hari setelah ia
meninggal dan selesai diotopsi. Polisi menduga ia bunuh diri karena memang ada
masalah keluarga. Yang kamipun tidak tahu apa itu. Aku juga mulai memeriksa apa
yang terjadi dengan Tia melalui barang-barangnya di asrama tapi tidak ada yang
menganjal dengan barang-barangnya sebelum barang-barang itu dibawa pulang oleh
orangtuanya. Orangtuanya juga tidak mau bercerita pada kami. Dan kami juga
tidak bisa memaksa. Tapi aku masih penasaran dengan kematian Tia. Hubunganku
dengan Byun sangat dekat bisa dibilang orang-orang menggosipkan kami pacaran
tapi kami tidak pacaran sama sekali, yah kufikir Byun masih belum bisa menjadi
pacarku karena standar ku. Walau ia termaksud dalam kriteria itu tapi kufikir
kami lebih baik berteman saja karena kami baru saling mengenal walaupun ia
berulangkali bilang ia suka kepadaku tapi aku masih ingin menjadi temannya.
Entah kapan hatiku bisa terbuka untuk laki-laki, sepertinya walau aku sendiri
memang sangat menyukainya tapi aku takut untuk berpacaran dengan seseorang dan
berpisah karena memang sudah tidak cocok atau bertengkar dan kematian
dikemudian harinya. Sungguh menyakitkan rasanya jika orang yang dicintai pergi
dari sisi kita. Sama seperti teman dan sahabat yang berganti seiring
berjalannya waktu. Aku masih belum bisa untuk berpacaran dengan seseorang.
Terlebih
Soora yang selalu menatap kami dari kejauhan, menatap dengan penuh kebencian
padaku dan Byun. Penah beberapa kali aku memergoki ia mengobrol dengan Byun
seperti orang yang ingin mendapatkan perhatian lebih. Entahlah aku juga tidak
tahu sampai sekarang ada hubungan apa dengan mereka berdua. Byun tidak pernah
mau bercerita walau aku sudah menanyakannya beberapa kali, ia hanya bilang
bahwa ia mengenal keluarga Soora. Lalu karena aku sekamar dengan Kim Soora, ia
tak pernah bicara padaku saat aku menjadi teman sekamarnya sampai sekarang.
Kami tinggal ditempat yang sama tapi kami tidak pernah bicara walau aku
kadang-kadang menyapanya tapi ia diam saja. Ia pergi pagi-pagi sekali dan
pulang malam hari, seperti hendak melarikan diri dariku. Akupun tidak perduli
dengannya, terlebih memang kami tidak punya hubungan apa-apa.
Kami
sibuk, terlebih lagi banyak tugas-tugas kelompok membuat kami tidak bisa
bermain-main dan terus belajar maka dari itu kamipun mulai melupakan kejadian
tentang Tia. Tapi kejadian yang baru akan terjadi.
Kejadian itu..
“ Anak-anak senin depan
kalian akan menghadapi UTS begitupun dengan anak kelas XII yang sedang
mempersiapkan untuk ujian nasional maka untuk seminggu ini kalian boleh pulang
kerumah kalian tapi tetap harus belajar dirumah, karena anak kelas XII akan
mengadakan tryout dan seluruh asrama harus dikosongkan jadi ibu minta
pengertianya “ kata Bu Nita seolah menyuruh kami untuk libur tiba-tiba. Tapi
aneh sekali mengapa anak kelas XII harus menjalani tryout UN sekarang-sekarang
ini pada bulan September harusnya mereka diberi pendalaman materi terus menerus
pada bulan ini dan mengapa tiba-tiba kami disuruh pulang dan asrama
dikosongkan, sungguh janggal sekali.
Reaksi teman-teman ku tentu saja berteriak senang dan bagi
mereka yang memiliki rumah yang jauh tentu saja mereka diam saja tidak
bersemangat.
“ Memang kenapa asrama harus dikosongkan Bu ?” tanya
salah satu temanku bernama Andika.
Andika adalah murid yang cerdas, ia juga wakil ketua
osis dan ia adalah ketua dari ekskul fotografi disekolah karena ia sering
memotret yang juga membuatnya menjadi murid berprestasi. Walau ia tidak
ganteng-ganteng amat sih.
“ Bukankah ini menjadi
rutinitas sekolah, kudengar tahun lalu pun begitu kan untuk tidak menganggu
kakak kelas kalian yang akan belajar “ kata Bu Nita
Lalu mengapa try out diadakan pada bulan
September bu ?” tanya nya lagi kemudian, pertanyaan yang sama yang ingin aku
lontarkan tapi disekeliling ku sudah ribut akan pergi berlibur kemana mereka
seminggu ini sebelum UTS kami dan membuat suasana kelas bising.
“ itu karena para guru
ingin mengetahui potensi anak kelas XII sekarang dan bagaimana mereka untuk
memperbaiki kesalahan juga akan ada praktek-praktek biologi,kimia dan fisika
terutama anatomi tubuh dan kalian sudah
cukup belajar dan sudah memenuhi kompetensi dasar“ kata Bu Nita sambil memukul
meja dengan penghapus papan tulis agar
kelas menjadi senyap.
Setelah Bu Nita
meninggalkan kelas, sudah dipastikan kami harus bergegas untuk pergi dari
asrama.
“ Mitha, kita pergi
jalan-jalan yuk kemana ke gitu “ Kata Cindy yang perasaannya sudah baikan dan
akrab lagi denganku
“ ayo kita pergi ke mall,
shopping “ kata Alya lalu tertawa
“ Loh kalian ini gimana ?
kita kan juga harus belajar buat UTS nanti “ kataku mengingat waktu seminggu
pastinya sebentar.
Kamipun memutuskan untuk
belajar bersama dirumahku dan sesekali pergi merefresh otak ke mall juga Alya
dan Cindy yang memilih untuk tinggal kerumahku . Tapi itupun baru rencana kami.
“ Mitha, Alya,Cindy..”
kata seseorang bernama Maura memanggil kami dengan ngos-ngosan yang juga
merupakan bendahara osis
“ Ada apa Ra ?” tanya
Alya
“ Calm down “ sahut Cindy
“ kenapa ?” tanyaku
“ gawat, kita harus rapat
osis sekarang juga ada sesuatu yang sudah terjadi “ katanya pada kami bertiga
yang membuat kami berlari menuju ke ruang osis begitu pula dengan Andhika sang
wakil ketua osis dan mengapa si Soora juga harus ikut-ikutan.
Saat ini semua anggota
osis sudah berada di dalam ruang osis, begitupun dengan Soora yang bukan
merupakan anggota osis.
“ Kita mendapat masalah “
kata Bayu sang ketua osis yang langsung kepada inti dari permasalahan
“ ada apa emang ? “ tanya
salah satu diantara kami yang bernama Steve. Orang inggris asli salah satu Bule
yang berhasil menjadi anggota osis
“ Orang tua Adek kelas
yang waktu itu hampir celaka katanya nuntut ke polisi sekarang “ kata Bayu
bicara lagi yang membuat kami shock
“ Bukannya masalah itu
udah selesai dan udah ga dipermasalahin lagi “ kata Cindy tiba-tiba yang
membuatku ingat pada sesuatu.
Yaps kejadian waktu Mos
kemarin, kejadian yang hampir memakan korban karena Mos yang kelewat sukses
yang membuat seseorang terluka yang membut si adik kelas ini hampir geger otak
karena terkena pukulan dengan besi panjang oleh entah siapa pada jerit malam
itu sampai adik kelas itu terjatuh dari lantai paling atas sekolah yang
membuatnya harus dirawat di rs. Tapi adik kelas yang bernama Dimas dan
orangtuanya tidak mempermasalahkan lagi mungkin ia tidak hati-hati tapi gosip
menyebar diantara para adik kelas bahwa Dimas terkena pukulan dari salah satu
dari kami para anggota osis dan membuatnya jatuh kebawah karena ia saat itu
berada diatap gedung sekolah. Dan sebenanya anggota osis jugalah yang memang
harus disalahkan karena tidak menjaga adik kelasnya dengan benar tapi megapa
saat ini Dimas menuntut sekolah pada polisi terutama para anggota osis yang
mengurusi mos.
“ dia
mempunyai bukti dan salah satu diantara
kita bersalah ? “ tanya Ruben pada Bayu yang langsung mengangukan kepalanya.
Buktu apa yang dimiliki Dimas ?fikirku dalam hati
“ Dan
kita semua harus tanggung jawab untuk kecelakaan itu, tapi sudahlah tidak usah
difikirkan “ kata Bayu enteng dan kami semua tegang juga ketakutan, memangnya
siapa yang berani memukul seseorang dan mendorongnya dari ketinggian seperti
itu kami hanya bisa diam mencerna apa yang terjadi. Sementara Bayu sang ketua
osis sedang dihibur oleh Lola, pacarnya sekarang agar tetap tenang . Akupun
memperhatikan pasangan itu yang memang dulu bisa dibilang Lola sahabat dengan Cinta
yang juga mantan teman satu kamar, yang juga mantan pacar Bayu. Tapi bukan itu
masalahnya kami sangat tegang, tapi sesungguhnya ketegangan kami hanyalah melebihi dari ketakutan itu sendiri
karena orang yang kami kenal disini tega berbuat seperti itu.
“
untuk itu kita harus menyelidiki kasus ini “ kata Andhika sang wakil ketua osis
yang selalu membawa kamera kemana-mana
“
caranya ?” kata Cindy
“
semua anggota osis diantara kita tidak boleh ada yang pergi dari asrama ini
selama seminggu ini sebelum ketahuan siapa pelakunya“ kata Andhika membuat
rencana, sejujurnya aku juga ingin Dika saja yang menjadi ketua osis karena dia
selalu tegas dan mempunyai banyak ide dari pada Bayu yang suka berbuat semaunya
dan kadang tidak pernah perduli dan bertanggung jawab pada anggota osis dan
sekolah.