Sabtu, 07 November 2015

schedule die


SCHEDULE DIE
I
MITHA

                Aku memandang kota Jakarta dibalik jendela apartemen ku sambil menghirup secangkir teh hangat ditanganku dan mengingat kejadian itu, laki-laki itu kejadian 4 tahun lalu saat aku masih duduk di bangku SMA.. tanganku gemetaran
“ Ayo Mitha cerita bagaimana kejadiannya” tutur psikiater yang juga kakak sepupuku juga kakak kelasku dulu saat aku SMA bernama Ratih
Aku melirik kebelakang, karena baru saat ini aku mengundang seseorang dan ingin bercerita apa yang terjadi  4 tahun yang lalu. Mba Ratih dari dulu ingin bicara denganku mengenai kejadian 4 tahun lalu, semua orang juga penasaran dengan cerita itu tapi mereka tidak bisa memaksaku untuk bercerita karena aku selalu menutup diriku dan selalu menyendiri, bersikap dingin dan tidak percaya dengan orang-orang, terlebih kak Ratih harus study ke Jerman dan kamipun baru bertemu sekarang. Hanya aku yang tahu apa yang terjadi bersama laki-laki itu dan mantan sahabatku yang mungkin tidak akan pernah kembali lagi ke Jakarta.
Aku memandang dinding yang terdapat foto-foto itu..
Foto-foto aku bersama teman-temanku dulu dan bersama lelaki itu. Sangat akrab,hangat dan penuh penderitaan ..... akupun baru memajangnya kembali kemarin rasanya rasa sakit hatiku kembali muncul saat melihat foto-foto itu. Tapi aku tak boleh larut dalam kesedihan dan kekecewaan rasanya kebahagianku terengut oleh masa laluku.
Aku menjalani hari-hariku dikamarku yang nyaman selama setahun ini, tidak melanjutkan pendidikanku dibangku kuliah dan hanya keluar ruangan jika aku perlu sesuatu. Seolah aku begitu takut untuk pergi keluar rumah. Rasa cemas mengelayuti pikiranku saat aku pertama kali masuk kuliah dan karena tidak fokus pada kuliahku, aku memilih cuti sementara dan hanya bertahan dua tahun dibangku kuliah, tapi sampai saat ini aku tak berniat untuk pergi keluar apartemenku dan berkuliah juga bersosialisasi dengan orang-orang.
Yah kejadiannya sudah 4 tahun lamanya ..
            “ Dia tidak akan penah kembali lagi ke Indonesia kesini ke Jakarta “ kataku pada mba Ratih sang psikater yang sedang melihat dan memerhatikan obat penenang yang sudah aku minum sejak 2 tahun lalu.
            “ Sebegitu stressnya sampai kamu minum pil ini, minum ini ( mba Ratih memegang pil ) tidak akan ada pengaruhnya sayang dan tidak bisa membuatmu sembuh. Bagaimana mba bisa tahu apa yang membuat kamu menjadi seperti ini “ kata mba Ratih sabar tapi aku hanya bisa diam ..
            “ kalau begitu mba ngak punya pilihan lain “ katanya kemudian
Aku berjalan kearahnya, meletakan tehku di meja lalu duduk di sofa.
            “ duduk sini, rileks kan badanmu menyender pada kursi lalu tarik nafas dalam-dalam hembuskan “ aku menuruti ucapannya lalu lambat laun aku semakin mengantuk-mengantuk dan semakin dalam ..
Tanpa sadar aku berbicara, mengingat kejadian itu..
Awal cerita ini dimulai pada Hari dimana aku pertama masuk sekolah di kelas XI IPA F, aku adalah murid sekolah menengah atas swasta di Jakarta yaitu SMA Global School . Sekolahku merupakan sekolah swasta yang beberapa muridnya berasal dari luar negeri yang ingin bersekolah di Indonesia. Walaupun sekolahku bukan merupakan sekolah Internasional tapi sangat populer hingga ke beberapa negara bagian.
Aku berjalan menyusuri beberapa pohon yang rindang, pagi yang indah,manis dan menyejukan. Setiap hari aku berjalan kaki menuju sekolahku, karena sekolahku berada tepat di sebuah perumahan yang hanya beberapa blok dari rumahku. Tak luput matahari pagi bersinar menyilaukan diatas kepalaku yang tertutupi pohon rindang . Sambil berjalan aku menyanyi kan sebuah lagu, lagu yang biasa ku nyanyikan jika cuaca sedang cerah..
“ Bagaikan langit di sore hari
 Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangatkan untukku

Bagaikan langit di sore hari
Berwarna biru sebiru hatiku
Menanti kabar yang aku tunggu
Peluk dan cium, hangatkan untukku

Oh asmara yang terindah
Mewarnai bumi yang kucinta
Menjanjikan aku terbang keatas
Kelangit ketujuh,bersamamu.

sungguh hari yang sangat indah, fikirku lalu aku jalan kembali.
( saat aku mengingatnya aku tersenyum karena dulu setiap hari, aku adalah anak yang ceria,bebas dan penuh rasa humor berbeda sekali dengan saat ini )
Aku bisa mendengar bel sekolahku dari kejauhan..
Akupun segera berlari menuju kelas baruku, kelas XI IPA F ..
Ketika aku masuk kelas, salah satu temanku melambaikan tangan kearahku dan segerombolan anak laki-laki dikelas melihat kearahku beserta semua anak perempuan lainnya yang sinis.
“ Hey teman-teman “ sapaku sambil duduk dibangku pada ke 3 teman-temanku yang ternyata satu kelas lagi di kelas XI , mereka adalah teman-temanku dulu di kelas X IPA C . Tak luput aku melihat beberapa bunga berserakan di bangku itu dan surat cinta.
            “ Hayo Mitha, biasa bangetkan jam segini baru dateng, untung kita siapin tempat duduk buat kamu “kata temanku Alya dari spanyol yang bisa berbahasa indonesia.
Lalu Tia merangkulku dan Cindy tertawa, yang membuat kami tertawa.
Tia, sahabat karibku saat mos, dia sangat setia menjadi temanku, dengan ciri-ciri berambut hitam dikepang dua dan memakai kacamata dia anak yang pintar karena sudah terlihat jelas dengan penampilannya saat ini, dia juga ga modis tapi jika ia berdandan pasti ia cantik dan ia orang Indonesia asli lalu
Alya, walau dia orang spain tapi sudah tinggal 6 tahun di Indonesia karena pekerjaan orangtuanya. yang memang Alya mempunyai ciri fisik seperti orang bule kebanyakan dan cantik tapi kurang modis sih lalu
Cindy dia tidak cantik-cantik amat sih, hidupnya biasa aja dia merupakan orang Indonesia yang mempunyai darah Belanda karena neneknya orang Belanda asli tapi tinggal di Indonesia sejak kecil itulah yang membuatnya istimewa.
“ kamu beruntung banget mit bisa dapet bunga tiap hari dan surat cinta “ ledek Cindy padaku
“ iya namanya juga queenlope “ kata Tia duduk di bangkunya sambil mengeluarkan buku matematikanya. Queenlope adalah singkatan ratucinta setiap orang yang baru melihatku pasti langsung suka, gosip yang dibuat oknum entah siapa lalu tersebar satu sekolah.
“ ah kalian ini bisa aja, Tia hari ini ga ada pelajaran mtk tau “ kataku sambil mengumpulkan bunga dan surat-surat yang berserakan lalu membuangnya ke tong sampah terdekat seperti biasanya. Entah aku tidak mengerti dengan orang yang terlalu pintar yang mengangap matematika itu mudah, dari dulu aku selalu benci dengan pelajaran matematika itu tapi karena otaku cemerlang aku tidak pernah susah mengerjakannya. Dan aku juga heran pada orang-orang yang selalu mengasihiku bunga,surat cinta bahkan hadiah padahal sudah ku tolak dan selalu membuangnya ke tong sampah tapi tetap saja mereka tetap berusaha. 
“ ah, Mitha sayang banget bunganya dibuang itukan cantik-cantik banget “ kata Alya tapi aku hanya diam karena aku melihat Kim Soora.
            aku melihat Kim soora, lalu ia memandang sinis kearahku dari tempat duduknya di bangku depan..mantan sahabatku. Ia membenciku bukan seperti teman-teman kelasku yang cemburu karena aku populer tapi karena sesuatu dimasa lalu. Kalau aku mengingat seberapa dulu aku dekat dengannya, sampai saat ini aku menyesal mengapa aku dulu berteman dengannya. Soora pindahan dari korea waktu kelas X di semester ke 2 lalu dan dia juga teman sekelasku. Soora dikucilkan oleh teman-teman kelasku dulu karena dia aneh, selalu menyendiri dan berhati dingin..
tak seperti dulu saat kami berteman.
Semua orang sibuk duduk ketempat duduknya karena guru kami sudah datang..
Lalu hening seketika, yang awalnya kelas ribut..
“ Hallo anak-anak perkenalkan nama ibu, Bu Nita. Ibu ini guru baru dan akan menjadi wali kelas kalian untuk setahun yang akan datang “kata Bu Nita guru baru berambut pendek yang sepertinya ramah jika tersenyum .
“ Ibu mengajar pelajaran Bahasa Indonesia, jadi walau ibu tahu kalian dari berbagai macam negara, Ibu ingin kalian memakai bahasa Indonesia “ lanjutnya kemudian
“ Iya bu” sahut teman-teman sekelasku
“ oke, sekarang buka buku bahasa kalian halaman 6. Puisi, kalian tahu apa itu puisi..”
Kata Bu Nita menatap kami semua..
“Puisi adalah seni tertulis yang juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam hatinya..hatinya “ kata Bu Nita menatap kearahku
“ kamu, baca puisi ini kedepan ayo “ katanya padaku..
Akupun kedepan membaca puisi tentang seseorang..
ku lari kehutan kemudian menyanyiku
 Ku lari ke pantai kemudian teriaku
 Sepi..sepi dan sendiri aku benci
 Ingin bingar aku mau di pasar
 Bosan aku dengan penat
 Enyah saja kau pekat
 Seperti berjalaga jika ku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tak kau goyangkan saja loncengnya biar terdera
Atau aku harus lari kehutan
Belok ke pantai ..?

Lalu aku terdiam memandang sekeliling sejenak lalu menyanyi. Aku melihat Soora..

Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri ..

Dan pada saat itu ketika aku selesai bernyanyi terdengar bunyi ketukan pintu dari luar,
“ Permisi bu, maaf saya terlamambat “ kata laki-laki itu, ya laki-laki itu.
Inilah pertama kalinya kami bertemu disaat ini, kamipun saling memandang mata dan tersenyum lalu pada saat itu kulihat Soora tersenyum juga kepada lelaki itu tapi laki-laki itu tidak tersenyum sama sekali.Tampangnya lumayan keren dan ganteng dengan rambut jambul berwarna coklat pirang terang dengan hidung yang mancung,kulit yang putih juga tinggi semampai, lesung pipi yang terlihat jelas di kedua pipinya, matanya yang berwarna hitam mengkilat tanda dia orang yang bersemangat tapi kulihat lagi dia berkeringat terasa keringat bercucuran di dahinya juga dia ngos-ngosan seperti habis berlari dari kejauhan..
“ lain kali jangan terlambat lagi, mengerti. Kalian berdua duduk “ protes Bu Nita
Lalu kamipun duduk, aku duduk di tempatku sementara ia duduk di pojok belakang, aku tersenyum sepertinya aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.
Jam makan siangpun berbunyi tanda bel istirahat, cowok keren itu sudah dikerubuni bak lalat oleh anak perempuan di kelasku dan dikelas lain yang mengetahui ada anak murid baru tapi walaupun dia ganteng disekolah kami juga banyak yang seperti itu maksudku ganteng-ganteng malah seperti bule kebanyakan. Dasar aja teman-teman kelas ku yang genit, tentu saja genit karena mayoritas kan sekolah ini kebanyakan orang Indonesia dan seperti punya mangsa baru jadi mereka pasti akan mendekati cowok itu. Sepertinya cowok itu murid baru karena aku tak pernah melihatnya waktu di kelas X.
“ Ich, pada genit-genit banget sih. Kaya ga pernah ketemu cowo ganteng aja “ kata Cindy berdiri di  bangku sebelahku , aku yang dudukpun menengok ke arah belakang
“ iya deh pada norak-norak banget “ kata Tia disebelahku bicara dengan sinis  dan kami pun tertawa
“ iya ganteng kaya my prince “ kata Alya yang langsung mengedipkan matanya berkali-kali pada pacarnya yang sudah berada di depan pintu kelas kami.
 “ guys, aku duluan ya. Pacar aku udah nungguin “ kata Alya menambahkan  lalu pergi sebelum kami mencegahnya. Entahlah Alya suka sama cowo yang jelek kaya gitu. Oops bukannya aku menghina pacar temanku itu tapi gayanya aneh sih . Walaupun pacarnya itu kakak kelas tapi anehnya itu kaya kutu buku ga jadi gitu, sedikit kaya Tia sih tapi kan Tia cantik dan pinter tapi cowonya Alya ancur banget deh, Kaca matanya itu loh gede banget dan ga pinter-pinter banget pula pokoknya cupu abis deh.
Emang ya kalo orang cantik pasti pacarannya sama orang jelek ya begitu sebalinya menurut pemikiranku tapi aku sendiri ngak mau pacaran dengan orang aneh, maksudku kalo jelek tapi pinter dan  kalau aku suka kenapa engak, iya ngak ? tapi orang aneh dan jelek ihh ngak banget kan . Pokoknya gimana menurut kondisi perasaan sih yang menentukan yang menyukai sesorang atau tidak. Tapi yang terpenting juga adalah standar kita masing-masing, memangnya kita ga punya kualifikasi atau tipe cowok yang kita sukai.
Kalau kalian tanya tipeku ini dia jawabanya ;
-          Pertama sih ya pasti semua orang ingin mendapatkan cowok yang baik. Baik yang dimaksud adalah baik sama kita, anak baik-baik maksudnya tidak suka berkelahi, tidak suka pulang larut malam, tidak suka dugem, baik pada orang-orang disekitarnya dari mulai anak-anak sampai orang dewasa yang juga sopan pada orangtua, baik kelakuannya tidak suka dengan pergaulan bebas.
-          Kedua aku kepingin punya cowok yang punya selera humoris, ia lucu, murah senyum,ceria dan enak di ajak ngobrol juga selalu nyambung jika diajak ngobrol soal apapun yang intinya bikin kita nyaman.
-          Ketiga, pasti harus perhatian dong sama kita selalu nanya kabar kita tapi jangan overposesif sih yang penting jangan kita duluanlah yang ngehubungin dia dan minta ngemis-ngemis perhatian gitu ga ada salahnya kalo cowok nya itu care sama kita yang itu artinya masih sayang dan selalu ngerti maunya cewe itu apa yang diperlakukan cewenya seperti pacar yang baik yang perhatian ga mengabaikan pacarnya seperti anter jemput kenapa, karena perempuan itu kepingin cowonya perhatian sama dia karena perempuan seneng bisa berduan sama cowoknya dan ngerasa aman dilindungi tapi bagi kebanyakan cowok mereka itu sebel dijadiin supir dan kebanyakan dari mereka ga ngerti kenapa mereka dijadiin kaya gini, harusnya mereka ngerti perasaan perempuan kalau mereka emang suka sama perempuan itu, perhatian lainnya adalah mengerti kebutuhan sang pacar yaitu berbelanja keperluan si pacar itu sang perempuan pasti akan sangat senang jika pacarnya memperhatikannya dengan membelikan kebutuhan sang pacar tapi bagi banyak cowok itu adalah cewe matre hellow nyadar dong mana ada perempuan yang ga suka kalau diajak belanja, hari gini gitu kecusli emang malu-malu kucing dan nolak sebenernya mau banget tuh pastinya pokoknya tipe ketiga ini harus bener-bener mengerti apa kemauan perempuan dan hati mereka di tipe ini juga mereka harus selalu ada jika sang pacar membutuhkan disaat sedih, galau atau seneng tapi bagi sebagian cowok perhatian nya pasti menanyakan apa sudah makan atau belum kalo belum makan pasti disuruh makan terus lagi apa dan sebagainya, hellow hari gini masih nanya kaya gitu udah basi banget deh .
-          Keempat cowok idaman ku itu harus berbakti pada orangtua dan pada yang maha esa, selalu rajin shalat atau berdoa dan iman yang kuat pastinya.
-          Kelima baru deh kita liat fisiik, pasti semua orang ga pengen punya pacar jelek,gendut,norak,dan dalam hal gawat sih aneh ya pasti semua orng pengen punya pacar sempurna tapi hellow hari gini gitu, pasti ga ada yang sempurna pasti banyak kekurangan di antara kita. Orang yang ganteng juga belum tentu banyak kelebihannya begitu juga sebaliknya asal jangan aneh sih. Kalo populer itu nilai plus.
-          Keenam itu adalah liat kepintaran cowok itu kalo aku sih suka sama cowok yang pintar dalam pelajaran apalagi dalam olahraga kaya basket atau sepak bola tapi orang ganteng atau jelek belum tentu pintar. Yah namanya juga cowok kan pasti ogah-ogahan kalau belajar pasti maunya main terus ada baiknya balik lagi keatas harus rajin nah dari kegigihannya itu kita bisa liat kan kalau rajin tentu akan pintar tapi asal jangan pintar memainkan persaan aja sih kaya playboy cassanova gitu maksudnya itu iuh banget.
-          Ketujuh pastinya harus pandai bergaul dengan siapapun, harus bisa memenangkan hati orangtuaku jika akan mengajak jalan, berani pastinya dan tidak takut oleh hal apapun terutama gentleman berani mengakui kesalahan juga sukses.
-          Kedelapan suka ngasih suprise kaya hadiah-hadiah gitu entah bunga,coklat, puisi cinta atau apapun asal jangan bikin jantungan aja sih.
-          Kesembilan itu yang penting hati yang menentukan segalanya, getaran dan jantung yang bertalu-talu selalu miss banget sama orang yang disayang , memotivasi kita untuk selalu tampil cantik dan menonjol diantara perempuan lainnya.
-          Kesepuluh kalau bisa sih ya suka juga dengan music, pintar memainkan alat music seperti gitar atau piano karena menurutku itu sangat romantis.
Nah itu dia kriteria pria idamanku yang sampai sekarang belom ada dan belum ada yang memenuhi standar intinya aku ini single bukan ga tertarik sama cowok tapi emang ga ada yang memenuhi kualifikasi aja sih. Sebenernya bisa aku macarin semuanya lalu memutuskan bak playgirl tapi aku ini punya perasaan loh. Single itu prinsipkan yah prinsipku itu adalah mengikuti kualifikasi diatas. Yakin deh kalian pasti mikir ga bakal ada cowok kaya gitu, emang ga ada yang sempurna di dunia ini tapi kalo mereka punya banyak dan sebagian mendekati poin itu apalagi yang kesembilan yakin deh aku pasti mau. Pokoknya poin-poin itu ga cuman liat buku dari sampulnya tapi dalemnya juga kan.
“ Guys kantin yuk laper “ kataku kemudian
“ ayok” sahut Tia dan Cindy bebarengan , aku melihat cowok itu yang masih dikerubuti bak lalat itu.
Tak luput aku melihat Soora berjalan ke arah cowok itu, saat aku akan pergi ke kantin.
Kamipun tiba di kantin sekolah, seperti biasa kantin ramai karena hari ini hari pertama masuk sekolah walaupun bukan hari senin sih, tapi tetap saja mungkin anak-anak SMA Global ga mau ketinggalan tempat duduk dan menggaet teman baru seperti yang dilakukan anak-anak kelas X.
Tak luput aku mengingat kejadian ketika Mos kemarin yang kelewat sukses dan senyum-senyum sendiri, aku aktif dalam organisasi termaksud OSIS karena aku juga merupakan anak populer disekolah. Terkenal juga karena beberapa murid laki-laki bilang aku ini termaksud golongan orang-orang cantik. Cantik ya, bukannya aku ini sombong tapi memang itulah kenyataanya lihatlah penampilanku yang selalu tampil modis dengan rambut panjang keriting gantung berwarna coklat keungu-unguan dengan poni, kulit putih, mata yang tidak banyak lipatannya,hidung mancung tapi satu kekuranganku yaitu pendek yah ngak terlalu pendek banget sih.  Akupun tampil prima dalam pelajaran yang termaksud murid yang pandai. Tak luput banyak para cowok yang selalu mengejar-ngejarku dan ingin mengajakku pacaran. Saat ini saja banyak yang melihat kearahku dari jauh padahal aku aja ngak pernah bermake up paling cuman pake bedak sama lipgloss aja sih menurut mereka aku imut mirip kaya boneka barbie.
“ Mau pesen apa Mit “ kata Cindy sambil liat-liat daftar menu
“ Bakmi aja deh cin, sama Jus jeruk” kataku kemudian lalu ia mencatatnya
“ gue juga deh, aduh gue lupa ambil buku gue di perpus lagi “ kata Tia kemudian. Yaps tadi waktu jam pelajaran ke 2 tidak ada guru dikelas kami karena mungkin baru pertama kali masuk sekolah, karena kelas menjadi ramai dan berisik. Tia yang sedang fokus pada matematika yang dikerjakannya tadi pagi melanjutkannya, ia merasa terganggu lalu pergi ke perpustakaan. Kurasa ia sedang ada masalah karena jika fikirannya terganggu ia mengerjakan soal Matematika. Kami pun ingin menemaninya ke perpustakaan, tapi ia ingin sendirian dan aku juga kurang suka perpustakaan. Tempat itu penuh dengan anak kutu buku tapi sebagian lagi penuh dengan anak-anak yang pacaran disitu karena tempat itu begitu sepi.
“ oke lu ambil aja dulu, gue pesen makananya dulu ya. Lo disini aja ya mit “ kata Cindy pada kami dan mereka berdua pergi ninggalin aku sendirian duduk nempatin tempat, karena takut direbut oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Aku melihat antrian kedai Bakmi yang panjang, selera makanku turun seketika ketika melihat beberapa pasang mata memerhatikanku dan ingin duduk di ketiga bangku kosong di depan dan sampingku.
Tapi tiba-tiba seseorang duduk di depanku .
“ Hallo, aku Byun Hyuk aku dari Korea “ kata Cowok itu tersenyum.
Aku kaget bukan main ku fikir siapa ternyata cowok itu, yap cowok ini kan anak baru itu. Yah dia yang tadi datang telat dan di kerubuni bak lalat di kelas. Kulihat beberapa pasang mata makin banyak yang melihat kearah kami seolah kami seperti pusat maghnet.
“ aku Mitha, senang berkenalan denganmu Byun “ kataku membalas senyumannya
“ Wah, kamu ramah ya ternyata “ katanya
 “ kamu bisa bicara bahasa Indonesia juga ?” kataku kemudian
“ yah, aku sudah belajar sejak kecil. Aku tertarik dengan Indonesia “ katanya kemudian
“ jadi kamu suka tinggal disini ?” tanyaku kemudian
“ yah, aku tinggal di apartemen milik pamanku dan akan segera pindah ke asrama cowok bukan begitu “ sahutnya kemudian sambil tertawa.
“ Jadi, kamu telat tadi gara-gara apartemen pamanmu jauh dari sini “ kataku kemudian
“ Tadi aku kesiangan gara-gara gadis itu, aku terpukau oleh suaranya “ katanya tapi aku tak mengerti apa arti ucapannya itu lalu Cindypun datang membawa makanan kami, akupun membantunya dan tak sempat menanyakan gadis seperti apa yang membuatnya terpukau.
Dia pun mengambil jus jerukku dan meminumnya sampai habis.
“Hey minumanku !! “ kataku
“ maaf ya aku haus “ katanya akupun cemberut melihatnya, minumanku hilang sekejap.
“ oh hai aku Byun Hyuk “ katanya pada Cindy kemudian yang sedang tertawa terbahak bahak
“ hallo aku Cindy “ kata Cindy kemudian dan datanglah Soora yang sudah berdiri di samping kami
“ Byun, kamu kok tega ninggalin aku di kelas. Kamu bilang kita mau sama-sama pergi ke kantin “ kata Soora dalam bahasa korea yang aku memahaminya karena aku juga bisa bahasa korea
“ Maaf aku lupa, setelah pergi ke toilet aku langsung ke kantin “ kata Byun acuh pada Soora, seolah tadi seyuman dan kebahagiannya lenyap saat Soora muncul seperti diserap dementor.
Lalu mereka berduapun pergi dihadapan aku dan Cindy
“ ada apa sih sama si frick Soora kok dia berani banget ngomong “ kata Cindy keheranan
“ ada hubungan apa ya Byun sama Soora “ kataku menanyakan pada Cindy yang tidak tahu apa-apa.
Jangan sampai kejadian itu terjadi lagi saat aku masih bersahabat dengan Kim Soora..
* Flashback
Saat itu umurku baru 7 tahun dan kim soora sahabatku sejak tk yang berumur sama denganku tinggal di Indonesia bersama keluarganya dan kamipun bertetangga juga kami bersekolah di sd yang sama kami adalah sahabat yang sudah mengenal satu sama lain, jika Soora di bully aku yang melindunginya. Jika aku menangis Soora yang menghiburnya bahkan kami sering menginap dirumah satu sama lain, kami sangat bahagia dan masa kanak-kanak kami penuh dengan permainan yang mengasyikan.
Saat itu  kami bermain sepeda bersama-sama disekitar kompleks rumah kami , kami menuju taman lalu ada anak laki-laki yang ganteng sedang bermain ayunan di taman. Anak itu juga sepertinya seumuran denganku dan Soora. Kamipun memutuskan untuk mengajak anak laki-laki itu bermain. Kami berkenalan dan anak itu bernama Randy, ia tinggal tak jauh dari sini. Dan kamipun sering bermain bertiga, bersama-sama.
Sampai suatu hari aku bilang bahwa aku sangat menyukai Randy, aku tahu Soora pun sangat menyukai Randy sepertinya. Tentu saja soora merasa tidak nyaman sepertinya dan tidak mau bilang bahwa ia juga menyukai Randy. Ia hanya diam saja waktu aku bilang aku menyukai Randy. Ya, kami menyukai lelaki yang sama. Karena mungkin pada saat itu cinta monyet, aku pun membuat rencana untuk pergi piknik bersama randy. Piknik yang di maksud adalah minum susu dan kue bersama-sama. Kamipun berpiknik di danau tak jauh dari komplek kami. Danaunya sangat asri dan bersih sekali, tak luput aku mengajak Soora untuk menemani kencan ku bersama Randy. Tapi Soora menolak karena dia bilang sedang sakit dan selama beberapa hari kebelakang ia tak mau main denganku juga Randy. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat aku bicara bahwa aku menyukai Randy, setiap kali kusamper ke rumahnya ia pun menolak untuk main denganku dengan pembantunya yang mengusirku baik-baik. Saat itu aku tidak merasa bersalah karena masih anak-anak dan polos. Yang aku tahu hanya kejujuran dan mengungkapkan kejujuran dalam hatiku bukan kebohongan. Jika ia menyukai Randy seharusnya ia bilang padaku, bukan tidak mau bermain denganku. Aku juga sedih dan menangis waktu itu karena ia tak mau bermain denganku, tapi ibuku meyakinkanku bahwa Soora akan kembali berteman denganku. Yah intinya ia tak mau ikut piknik ke danau walau sudah ku ajak.
Saat piknik itulah kejadiaanya berawal..
“ Ran, gimana kue nya enak ga? Itu bikinan ibuku loh” kataku waktu itu sambil minum susu.
“ Enak banget Mit, kapan-kapan kita makan-makan lagi ya kue buatan ibumu “ katanya sambil terus memakan kue itu yang penuh di mulutnya.
“ Yah abis kuenya, bentar ya Randy aku ambil dulu ke rumah “ kataku kemudian
“ Eh ngak usah Mit, ngerepotin lagi “ kata Randy menahanku pergi
“ Ngak apa-apa randy, ibuku lagi masak kue banyak “ kataku lalu menggoes sepedaku menuju rumahku.
Saat aku kembali lagi ke pinggir danau, Randy sudah jadi mayat dan tenggelam di danau itu. Sontak akupun menjerit ketakutan, menangis dan ku lihat Soora berada jauh mengintip dari balik pohon.
Jika saja aku tahu bahwa saat itu Randy akan meninggal, aku tak akan meninggalkannya sendirian. Bahkan sampai saat ini aku tak tahu apa penyebab kematiannya, yang ku ingat adalah Kim Soora yang mengintip dari balik pohon.
Saat itu penyelidikan pun terkumpul, dan polisi mengasumsikan bahwa Randy tercebur ke danau karena kepeleset saat mengambil mainan kapal-kapalan miliknya yang jatuh ke danau. Tapi aku merasa semua ini salahku karena mengundangnya berpiknik ke danau, aku tidak mau makan, tidak mau sekolah dan tidak mau bermain ke taman ataupun bersepeda. Aku pun sempat di bawa ke psikiater anak dan mereka berhasil menghapus ingatanku tentang kematian Randy hanya kematian nya saja tapi aku masih mengingat jelas bagaimana dulu kami selalu bermain bersama-sama. Aku mengingat kembali saat dimana Randy meninggal karena Soora mengungkit itu kembali saat SMA.
Sementara Kim Soora yang aku yakini adahal sangkutpautnya dengan hal kematian Randy menjadi anak yang dingin, penakut dan tukang bohong. Ia mengadu pada guru kami bahwa Randy selalu mengikutinya. Padahalkan Randy sudah tiada juga ia selalu kerasukan setan dalam tubuhnya. Saat sd dulu ia sering sekali kesurupan. Ia seperti punya ke kuatan khusus seperti melihat hantu dan sejenisnya. Dan pada saat itu Kim Soora yang ku kenal sebagai gadis ceria sama sepertiku menjadi gadis yang menakutkan yang pernah ku temui. Kami pun tidak pernah bermain pada saat itu lalu  ia pun pindah kembali ke korea.
Aku menerima surat cinta pemberian Randy yang intinya aku harus hidup lebih lama dan harus tersenyum . Surat itu masih ku simpan sebagai penyemangatku walau aku tahu surat itu dari Kim Soora . Entah aku tak mengerti mengapa ia menyelipkan surat itu ke tasku tapi aku yakin surat Itu dari Randy yang ditulis oleh Soora karena aku tahu bahwa Soora ternyata bisa melihat hantu dan selama ini ia tak pernah berbohong.
Setelah beberapa tahun berlalu, ia kembali ke Indonesia dan bersekolah ditempat yang sama sepertiku bahkan di kelas yang sama. Dia masih sama, dingin, kaku, aneh dan pendiam yang membuatnya semakin pintar dalam pelajaran akademik. Justru aku masih sama seperti dulu sebagai gadis yang ceria. Dia pun tidak mau berteman denganku atau yang lainnya dan akupun tak perlu repot-repot untuk berteman dengannya kembali pada kelas X. Kami tidak saling menyapa lagi, walau sebenarnya jauh di lubuk hatiku yang paling dalam. Aku merindukannya..
Jam pulang sekolah, karena bel berbunyi 3 kali yang membuat seisi kelas bersorak sorai kegirangan karena bisa pulang ke rumah atau asrama untuk yang rumahnya jauh, sekolah menyediakan asrama bagi setiap muridnya gratis.
“ Mitha, lo jadi kan pindah keasrama ?” kata Cindy yang sedang membereskan buku kedalam tasnya.
“ Jadi dong, walaupun rumah ku deket tapi kan ga nyaman kalo kita ngerjain tugas bareng sampe sore apalagi bakal ada pelajaran tambahan  nanti “ kataku sambil merapikan buku juga
“ wah asyik ya kita bisa sering sama-sama terus main “ kata Alya cekikikan dan kamipun tertawa kecuali Tia. Ku perhatikan dari tadi ia melamun saja..
Karena sadar kami memperhatikannya ia pun tertawa seperti dipaksakan.
“ Iya apalagikan kita mau kelas 3 jadi harus banyak belajar “ katanya tiba-tiba yang ternyata ia menyimak juga.
Saat itu ada memang ada yang aneh dengan Tia, ia tak seperti biasanya. Murung,diam dan melamun terus, yang ku fikir memang ada masalah yang disembunyikannya dari pagi dan menganggu fikirannya. Karena aku tahu betul sahabatku . Saat ia kembali dari perpustakaan tingkahnya pun jadi berbeda jadi seperti ini. Dia bukan Tia yang ku kenal, saat ini dia begitu murung.
Kamipun berjalan keluar sekolah, karena aku juga akan tinggal di asrama seperti yang lainnya aku harus pulang dulu mengurus kepindahanku dan mengambil barang-barangku. Aku akan tinggal sekamar dengan Tia karena mantan teman sekamarnya Cinta meninggal ketika liburan kemarin saat Mos berlangsung dan Cinta merupakan sekertaris osis. Aku tidak tahu karena apa Cinta meninggal, tapi gosip yang beredar  ia bunuh diri dan semunya tidak tahu bagaimana ia meninggal juga mayatnya belum ditemukan. Polisi menutup kasus itu karena itu merupakan kecelakaan mobil dan keluarganya sudah positiv bahwa ia meninggal karena ia menulis kata-kata perpisahan bahwa ia akan mengakhiri hidupnya sendiri. Mobil yang ia gunakan terguling di puncak dan mayatnya tidak ketemu. Ia tinggal di asrama karena Rumah Cinta berada di Bandung jadi jika ia ingin pulang ke Bandung ia biasanya menggunakan mobilnya, tapi sungguh naas kejadian ini. Dia juga merupakan siswi populer sama sepertiku, ia juga cantik dan Sungguh ironis sekali nasibnya. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu hingga mengakhiri hidupnya sendiri. Apa mungkin Tia murung dan mengingat teman sekamarnya itu. Entahlah nanti akan kutanyakan langsung padanya mengapa ia terus-terusan jadi seperti ini .
Saat aku berjalan sendirian menuju rumahku karena ketiga temanku tidak bisa membantu kepindahanku karena punya acara masing-masing. Maksud acara masing-masing itu adalah kalau Tia merasa tak enak badan dan katanya akan menyiapkan tempat tidur yang nyaman untukku sementara Cindy tadi ia disuruh Bu Nita mengoreksi tugas pertama seluruh anak kelas X dibantu oleh Alya juga dan beberapa teman kelas kami. Aku juga seharusnya ikut membantu bu Nita dan teman-temanku juga ingin membantu kepindahanku. Bu Nita, walaupun ia guru baru dan hari pertama sekolah tapi ia begitu gigih dan tak ada alasan untuk bersantai-santai karena itulah moto dari sekolah kami yaitu disiplin waktu dan berkerja keras. Sebenarnya kami sudah terbiasa dengan semua itu saat pertama kali menginjakan kaki disekolah. Begitu bekerja keras, rajin dan berusaha dengan sungguh-sungguh karena banyak dari sekolah kami yang memenangkan juara olimpiade-olimpiade untuk itulah sekolah kami terkenal. Katanya sih sekolah kami akan menjadi international school entah kapan itu terjadi.
Tiba-tiba ada seseorang yang merangkulku dari belakang, aku terlonjak kaget dan melihat Byun yang sudah nyengir disebelahku.
“ Nona, harusnya kamu kalau jalan jangan melamun sepeti itu “ kata Byun merentangkan tangannya keatas
“ Sedang apa kau disini “ kataku padanya yang membuat ia tertawa
“ Bukankah hari ini hari yang cerah dan indah, mengapa kau cemberut dan tidak menyanyi lagi “ katanya meledekku yang sepertinya aku mengerti apa arti ucapannya itu.
Aku berhenti berjalan
“ Jadi, kamu mengetahui aku sering menyanyi sendirian “ kataku kesal karena aku baru mengenal orang ini sementara ia sudah mengenal kebiasaanku menyanyi.
“ ya tentu saja Mitha, suaramu sangat indah . Pasti kau suka dengan karya sastra ya, entah itu puisi,cerita fiksi dan lagu-lagu kau pasti menyukainya kan “ dia berkata sambil tertawa, riang dan ceria juga sangat lucu karena pipnya yang digelembungkan. Persis sepeti tipe nomer 2 favoritku.
“ siapa bilang, tidak semuanya kok yang aku suka “ kataku berbohong lalu melanjutkan jalanku kembali.
“ sudah lah nona tidak usah berbohong lagi, aku tahu Bu Nita cerdas dan jeli  karena memilihmu untuk mengungkapkan puisi yang indah di depan kelas sepertinya ia tahu bakatmu “ kata Byun yang lagi-lagi ia benar.
“ ya terserah kau saja , aku senang mendengar pujianmu “ kataku lalu sampailah kami dirumahku. Saat aku akan masuk ke dalam rumah,
“ kau mau masuk kerumahku “ kataku mempersilahkannya masuk tapi ia cengengesan saja
“ tunggu dulu, aku akan mengatakannya kepadamu “ katanya kemudian
“ apa ?” kataku kemudian , aku melihat keringatnya bercucuran sebesar jagung seperti sedang menahan sesuatu karena mungkin matahari yang terik dan panas atau karena suasananya aja yang panas. Jantungku bertalu-talu mendengar ia ingin mengatakan sesuatu
“ Nanti sajalah “ sahutnya dan aku kecewa juga aku mengetahui bahwa ia sedang berbohong kepadaku.
            Dia membantuku membawa barang-barangku ke mobilnya. Sebenarnya barang-barangku tidak banyak. Sebenarnya ia memakai mobil dan mempunyai supir juga lagi tapi ia rela berjalan kaki untuk menemaniku pulang kerumah lalu akupun membantu kepindahannya juga, kami saling membantu. Aku ke apartemen milik pamannya yang luas sekali sangat jauh dari sekolah kami dan harus menempuh tol untuk sampai ke apartemennya. Entah aku tak mengerti apa arti kebaikannya itu, sebenarnya tadi apa yang ingin ia katakan, apa hubungan yang ia miliki dengan soora dan mengapa ia membantuku juga mengapa ia bersamaku saat ini bukan dengan kim soora yang sepertinya mereka saling mengenal. Tapi tak satupun yang aku tanyakan padanya itu hanya menjadi tanda tanya di hatiku. Entahlah fikiran itu melayang-layang di kepalaku . Rasanya, aku sudah mengenalnya lama sekali seperti dikehidupanku sebelumnya. Aku sangat-sangat tidak mengerti akan situasi ini.
Kamipun kembali kesekolah, hari sudah mulai sore aku melihat jam tanganku terlihat jam sudah menunjukan jam 4 sore. Kami sedang berada di persimpangan jalan. Aku disebelah kiri karena asrama perempuan ada di sebelah kiri dan ia di sebelah kanan karena asrama laki-laki ada di sebelah kanan.
“ terimakasih ya sudah membantuku “ kataku tersenyum padanya
Selama perjalanan tadi kami membicarakan tentang bagaimana kehidupan di korea dan Indonesia , sungguh perbedaan yang sangat kontras. Film, gaya hidup dan lain-lain sungguh Byun ini orangnya sangat humoris dan mempunyai selera yang tinggi juga soal music. Tak luput kami saling berfoto bersama-sama, foto yang sampai saat ini masih ku pajang di dinding rumahku beserta foto Tia,Cindy, Alya dan Soora.
“ ya sama-sama kau juga membantuku nona “ sahutnya kemudian
“ sudah aku bilang jangan panggil aku nona “ kataku sambil tertawa lalu dikejauhan aku melihat Soora memandang kami dari balik pohon sama percis saat kejadian Randy meninggal.
“ sudah ya byun, aku masuk dulu “ kataku cepat-cepat menuju asrama putri, lalu byun berkata apa kau bisa membereskan barang-barangmu sendiri tanpa bantuanku , ia berteriak sangat kencang tapi aku tak berani menengok kebelakang lagi dan tak menghiraukan ucapannya itu.
Saat aku ke asrama, suasananya sangat sepi dan hening..
Aneh sekali, kemana orang-orang pergi.
Aku berpapasan dengan 2 orang temanku dikelas lain tapi kami masih satu angkatan.
“ mary, wita tunggu sebentar “ kataku memberhentikan mereka berdua
“ ya, ada apa “ sahut mary
“ kenapa asrama sepi, tumben. Pada kemana orang-orang “ kataku bertanya pada mereka berdua .
“ ada kebakaran di lab kimia, semuanya kembali kesekolah untuk melihat apa ada orang yang terluka “ kata wita kemudian
“ bukannya sedang ada praktek anak-anak kelas XII ya tiap sore “ kataku shock anak kelas XI kemaren yang sekarang kelas XII, mereka selalu belajar entah ini hari pertama masuk atau liburan kemarin.
“ iya tapi kami tidak tahu apa ada yang terluka atau tidak “ sahut mary kemudian
“ baiklah aku akan segera menyusul “ kataku setelah menaruh kardus-kardusku ke kamar asramaku
“ oke, kami duluan ya “ sahut mary dan wita bebarengan
Aku harus tahu apa yang terjadi karena aku meyakini bahwa lab kami sangat teliti dan tidak pernah terjadi kecelakaan kerja. Aku mengingat kakak sepupuku mba Ratih yang pasti hari ini ada jadwal praktek.
Tiba juga aku di depan pintu kamarku yang juga kamar Tia tapi saat aku masuk kedalam kamar, sungguh sangat gelap, sumpek dan tercium bau busuk. Apa yang sudah dilakukan Tia sebenarnya, bukankah harusnya ia beristirahat karena sedang sakit atau ia pergi ke sekolah . Entahlah ruangan ini sangat sepi sekali..
“ Tia “ panggilku sambil mencari saklar lampu
“ Tia, kau bisa dengar aku “ kataku lagi. Lalu aku menyalakan saklar lampu
“ Tia apa kau ada disini, Tia“ kataku dan lampunya menyala..
Dan pada saat itu aku menjerit sejadi-jadinya ..
“ AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA “ teriaku , kaki ku gemetaran melihat Tia sahabatku yang sudah tergantung di dinding langit-langit kamar kami.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi, apa yang baru saja ku lihat 1 jam lalu.. aku memejamkan mata dan selalu ada ekspresi Tia disaat kematiannya dengan mata terbuka lebar dan mulut menganga.
Aku sudah telat, aku tidak berguna, aku seharusnya tahu ada yang terjadi dengan Tia dan tidak beres dengannya. Harusnya aku bisa menghentikan semuanya, harusnya aku menyadarinya aku menangis dan terus menangis bersama ke 2 temanku dan bersama teman-teman lainnya yang sedang menghibur kami. Rasanya kejiwaanku tergoncang setelah mengetahui dulu Randy meninggal dan akulah orang pertama yang melihatnya juga saat ini rasanya seperti dejavu . Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak mengerti, aku lelah..
Yah kami sedang berada di ruang kelas kami, para guru menenangkan kami semua. Belum cukup laboratorium terbakar dan membuat beberapa anak kelas XII harus dilarikan ke rs dan Kami kehilangan Tia. Semua ini benar-benar janggal dan mendadak .
Polisi sedang menginterogasi tempat kejadian perkara, dan mengotopsi mayat Tia. Sementara anak kelas XII beruntung tidak ada yang meninggal hanya luka-luka ringan dan berat. Semua orang mempercayaiku karena pada saat kejadian banyak yang bersaksi bahwa aku baru datang ke asrma sementara Tia sudah meninggal beberapa jam yang lalu . Kamipun disuruh untuk istirahat di asrama . Sementara anak kelas X dipulangkan kerumah masing-masing kecuali memang yang rumahnya jauh.
Byun mengamatiku dari tempat duduknya, matanya begitu bersimpati padaku tapi entahlah ia tak di dekatku, entah apa yang tejadi sampai ia tak ingin menghiburku. Padahal beberapa jam yang lalu kami bersama, tertawa dan saling mengenal satu sama lain. Ku fikir ia malu berada di dekatku saat ini. Ya sepertinya, tapi aku tak perduli. Yang aku perdulikan saat ini mengapa nasib sahabatku begitu tragis, mengapa ia jadi seperti itu. Ku rasa tak mungkin Tia tega mengakhiri hidupnya sendiri apalagi ia sangat menyayangi keluarganya, adiknya juga ibunya. Dan ku rasa Tia tak mungkin sebodoh itu untuk bunuh diri apa lagi kami sahabatnya selalu mendukungnya dan ia anak yang pintar secara akademik, jika ada masalah ia selalu bercerita kepadaku begitu pula dengan ku atau yang lainnya selalu sharing. Lalu soal apa ? laki-laki ?? Tia tak pernah pacaran dengan seseorang, yah kagum mungkin hanya sebatas itu ngak lebih. Dan kami tidak pernah mempunyai masalah, kami selalu ceria,riang dan bahagia. Ku rasa ada sesuatu yang menganjal sejak kepergiannya ke perpustakaan, entah apa. Yang jelas aku harus menyelidiki kasus kematian Tia. Yah pasti pembunuhan kuyakin.
“ Baiklah anak-anak. Kalian istirahat dan pulanglah ke asrama. Pihak yang berwenang akan menginvestigasi kasus ini jadi kalian tidak usah khawatir “ kata Bu Nita sabar dan seperti menahan tangis juga.
“ Kami takut bu kalo harus pulang ke asrama “ kata salah satu teman kelasku
“ iya bu iya “ sahut beberapa teman kelasku serempak.
“ tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa lagi. Asal kalian menjauhi kamar Tia . Oiya Mitha, kamu tidur bersama Soora saja karena dia tidur sendiri juga atau kamu mau pulang kerumah“ kata Bu Nita yang membuat aku menengok ke arah Soora yang dari tadi berlaga aneh dengan menunduk terus-terusan.
“ Baiklah bu aku akan menginap di kamar Soora “ kataku terpaksa karena aku tidak mau balik lagi kerumah takut-takut membuat orang tua ku khawatir.
“ Bagaimana soora kalau mitha menginap di kamarmu “ tanya bu Nita . tapi Soora tetap menunduk dan menganguk yang artinya ia setuju. Lalu ia menatap tajam menoleh kearahku.
Kardus yang tadi aku bawa ku bawa kembali menuju kamar soora. Tak heran mengapa ia sendiri tinggal di kamar asrama karena memang tak ada yang mau menjadi teman sekamarnya. Ia terkenal karena ke frickannya. Aku juga rada risih harus sekamar dengannya padahal dulu ketika kami masih kecil dan bersahabat kami sering tidur bersama.







II
Soora

            Saat ini aku sedang berada di korea, di kampung halamanku. Sudah 3 tahun sejak aku meninggalkan negara tercinta keduaku Indonesia. Aku tidak pernah menyesal untuk kembali ke korea lagi, karena setidaknya disini aku bisa bernafas lega . Tak seperti di Indonesia yang penuh sesak sejak kejadian 4 tahun lalu sejak aku duduk di bangku sekolah. Bukan hanya kejadian 4 tahun yang lalu tapi sejak umurku 7 tahun aku tidak pernah bernafas lega rasanya sakit, menyakitkan dan menyesakan sekali. Dan pada saat itulah kehidupanku berubah jauh dari kata normal.
            Tidak ada yang tahu mengapa aku berubah menjadi seperti ini, bahkan kedua orangtua ku yang berkerja di Indonesia tak memperdulikan kehidupanku. Aku dari kecil diurus oleh pembantu rumah tangga jadi aku terabaikan, mereka hanya say hello saja kepadaku. Aku seperti tidak punya orangtua.
            Begitu pula dengan mantan sahabatku Mitha, dia tak mengetahui mengapa aku sangat membencinya dan mengapa sikapku jadi aneh seperti ini. Aku membencinya karena dulu ia menusukku dari belakang, padahal ia tahu aku menyukai Randy. Walaupun aku tak mengucapkannya tapi tetap saja harusnya ia mengertiku. Karena sikapku yang amat manis pada Randy. Sebenarnya tak ada dendam dariku untuknya karena aku sudah mengangap ia sodaraku sendiri dan kami selalu berbagi dalam berbagai hal, kami adalah sahabat sejati kami juga saling menyayangi dan pada waktu itu aku hanya kesal dan marah saja, ia begitu tidak memperdulikan perasaanku.
            Tapi kejadiannya berubah, kalau ku putar waktuku pada saat kami berumur 7 tahun. Aku tak akan marah padanya dan Randy tidak akan meninggal pastinya. Yaps, Mitha pasti mengira akulah yang membunuh Randy tapi asal tahu saja dari awal piknik aku mengintipi mereka berpiknik antara aku ingin ikut atau tidak . Akulah saksi kunci mengapa Randy meninggal waktu itu, karena aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri.
            * FLASHBACK
“ Soora.. soora “ teriak Mitha kecil dari pager rumahku
Sementara aku hanya mengintip dari jendela kamarku diatas, aku masih sakit hati padanya.
“ Soora ayo kita main, kita piknik di taman . Aku kan sudah mengirimimu surat undangan untuk hadir berpiknik denganku dan Randy “ teriaknya dari bawah
Aku masih melihatnya dari jendela..
“ Soora, maafkan aku. Aku bersalah “ teriaknya sambil menangis sesunggukan. Engak tega juga si liatnya..
“ Soora ayo datang, aku janji kamu gausah bawa apa-apa asal kamu datang ya. Aku janji ga bakal bikin kamu sakit hati lagi “ teriaknya lagi
“ Soora, soora ...soora “ isaknya. Sudah 4 hari aku tak main dengannya dan sudah 2 hari ini Mitha menangis saat mengajaku pergi bermain entah ia mengajak main sepeda, entah ia mengajak main ditaman bahkan entah ia mengajak bermain bersama Randy yang membuatku sebal sekali.
Akupun berkata pada pembantuku bi Inah untuk mengusirnya, pembantuku memang dari Indonesia ia sudah tua dan ia seperti ibu kedua bagiku. Ketika kami pindah ke korea, bi inahpun mengikuti kami. Aku sangat sayang pada bi inah.
Saat Mitha diusir oleh bi Inah, bi Inah merasa tidak tega untuk mengusir gadis kecil yang sudah dianggap anaknya sendiri sama sepertiku. Karena sejak aku berumur 5 tahun sampai umur 7 tahun kami selalu bermain bersama-sama.  Dan pada saat itulah aku mengikuti Mitha dari belakang, melihatnya piknik dengan Randy. Mereka saling tertawa satu sama lain. Sepertinya Randy juga menyukai Mitha . Aku sangat cemburu karena aku hanya bisa mengamati mereka dari balik pohon saja.
 Beberapa saat kemudian Mitha pergi naik sepedanya membawa keranjang kue miliknya. Apakah pikniknya sudah selesai ? entah aku tidak tahu. Lalu aku berfikir untuk menemui Randy yang kini sedang sendiri tapi tiba-tiba aku melihat sesuatu terjadi, ya aku melihat orang di dekat Randy yang memakai pakaian serba hitam semua dan clurit besar ditangannya, tapi aku heran mengapa Randy tidak melihat orang itu yang udah jelas-jelas orang itu besar dan berdiri didepannya dan yang membuat aku mengurungkan niatku untuk menghampiri Randy. 
Randy masih saja asyik bermain kapal-kapalannya yang terbuat dari plastik lalu tiba-tiba saja kejadian itu berlalu begitu cepat, kapal-kapalan yang dipegang Randy jatuh ke danau lalu orang serba hitam itu mendorongnya hingga Randy kehilangan nyawanya karena kehabisan nafas. Disitu aku ingin sekali menyelamatkannya, tapi aku takut untuk mendekati orang serba hitam itu. Aku merasa bersalah sekali, seharusnya aku menolong Randy pada saat itu. Sungguh bodoh, aku kehilangan teman bermainku dan orang yang aku sukai. Orang serbahitam itu mendongak ke arahku, wajahnya tidak jelas karena rata semua berwarna hitam tapi orang serba hitam itu tidak menghampiriku, aku sangat ketakutan dan aku melihat Randy mendongak melihatku dan Mitha yang baru saja tiba dengan sepedanya, ia menjerit histeris dan ia juga melihatku. Akupun buru-buru kabur dan pergi, takut dan mengapa Randy yang sudah mati bisa melihatku dan berjalan kearahku.
Yang ternyata aku tahu bahwa itu adalah arwah Randy yang mati penasaran karena akupun bisa melihat jasad Randy yang terapung-apung di danau dari kejauhan dan ia meninggal oleh orang berbaju hitam yang ku tahu adalah setan penghuni danau itu yang menginginkan tumbal dan kebetulan hari itu adalah hari ke 100 tahun kematiannya karena aku mengetahuinya juga dari orang pintar yang datang kerumahku.
Aku semakin histeris dan ketakutan karena arwah Randy terus mengikutiku kemanapun. Wajahnya sangat seram,pucat dan dingin tak seperti Randy yang ceria yang dulu ku kenal.  Karena bi Inah menghawatirkanku karena sudah satu minggu sejak kematian Randy aku semakin kalut dan bukan cuman randy saja yang bisa kulihat tapi seluruh hantu yang berada dirumahku, diseluruh ruangan dirumah bahkan disekolahpun bisa ku lihat dengan jelas, lalu di datangkanlah orang pintar kerumahku.
Orang pintar itu mengerti keadaanku saat ini, aku mempunyai pilihan antara aku menutup mata batinku atau membiarkannya tetap seperti itu. Tentu saja aku memilih untuk menutupnya karena aku sangat ketakutan, mengapa mata batinku tiba-tiba terbuka seperti ini hal yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri tapi penutupan mata batinku tidak berhasil karena aku terus-terusan melihat hantu dimana-mana. Yah sudah banyak paranormal yang menyerah menutup mata batinku menurut mereka mata batinku inilah yang diberikan Tuhan padaku dan aku harus mensyukurinya.
Aku lalu mengutuk diriku sendiri pada hari itu. Aku harus hidup dalam kesusahan dan dalam bayang-bayang hantu disekelilingku. Bahkan banyak orang yang tidak percaya kepadaku, ibu dan bapak guru lalu teman-teman sekelasku termaksud Mitha, yang mungkin menganggapku orang aneh dan gila karena aku selalu kerasukan dan seperti yang mereka kira aku lagi-lagi membual. Untuk itulah aku menjadi seperti ini, aku tak percaya dengan semua orang. Dunia ini begitu keras bagiku dan lambat laun aku dapat menerima kehebatanku melihat ini ketika aku dibawa pindah oleh keduaorangtuaku kembali ke korea. Saat itu aku berharap agar tidak kembali lagi ke Indonesia.
Aku memejamkan mataku mengingat kejadian 14 tahun lalu, aku sedang berada ditempat kerjaku di korea saat ini, karna memikirkan pekerjaan yang menumpuk banyak juga kadang-kadang aku juga memikirkan kejadian 4 tahun lalu. Setiap hari aku bekerja di depan komputer membuat ide-ide baru untuk meluncurkan produk baru dari perusahaan yang menaungiku saat ini, walau aku baru diterima bekerja beberapa bulan yang lalu tapi aku bangga dan sangat menyukai perkerjaanku. Aku berhasil lulus dengan nilai sempurna dan sudah memiliki gelar S-1 pula.
Saat ini aku kembali seperti saat aku masih kecil begitu ceria menikmati hidup tidak seperti Kim Soora di masa remaja yang dingin, takut bersosialisasi dan sering berhalusinasi. Aku ingat sepertinya kami tertukar, maksudku lihat saja Mitha saat ini seperti diriku waktu remaja. Yah , aku mendapat kabar dari teman-temanku melalui chating yang selamat dari sebuah tragedi 4 tahun lalu bahwa saat ini kondisi Mitha sangatlah memprihatinkan. Dia mengalami depresi yang sangat akut sejak tragedi 4 tahun itu berakhir.
Penampilan ku saat ini sangat normal, aku menganti model rambutku yang tadinya hitam panjang menjadi sebahu dan berwarna emas, aku juga mulai mengerti fashion dan mulai mengikuti tren dan sangat modis. Kehidupanku saat ini sangat sempurna beserta pacarku, yah aku sudah memiliki pacar dan akan segera menikah akhir tahun ini. Pacarku juga bersekolah di SMA yang sama denganku dan dia orang Indonesia. Kami tidak LDR karena ia juga berada di korea karena bisnisnya. Pasti kalian penasaran siapa pacarku ini. Yah memang tak ada orang yang mau berteman denganku pada waktu SMA dulu tapi keajaibanpun datang karena sudah sejak pertama aku menginjakan kaki di kelas X ia  memperhatikan aku dari jauh, ia memotretku diam-diam tapi ia tidak berani mendekatiku karena takut ditolak, karena tidak ingin membuatku bingung dan tidak ingin aku sakit hati. Sejak kejadian 4 tahun itu ia semakin berani mendekatiku.
Aku benar-benar tidak percaya pada kehidupan ini. Akhirnya aku bisa terbebas dari kutukan melihat hantu sejak tragedi 4 tahun lalu. Yaps, pasti kalian ingin tahu apa yang terjadi 4 tahun lalukan. Baiklah akan aku ceritakan semuanya..
Cerita itu bagiku dimulai sejak hari pertama aku bersekolah di kelas XI IPA F di sekolahku SMA Global School. Aku pindah lagi ke Indonesia waktu ajaran sekolah dimulai waktu di kelas X. Karena orangtuaku ada bisnis dan mereka tidak mau meninggalkanku di korea sendirian maka mereka membawaku lagi dan juga karena Bi Inah sudah lama meninggal karena penyakit jantungnya itu yang membuat orangtuaku sangat protektif padaku dan mulai memperhatikanku lagi.
Aku sangat benci harus tinggal kembali di Indonesia, orangtuaku mendaftarkanku di sekolah tak jauh dari rumahku yang dulu sementara mereka tinggal dirumahku yang dulu dan aku tinggal di asrama karena mereka pulang malam terus. Untuk apa aku pindah jika merekapun bahkan tak ada waktu untukku, mereka berdalih bahwa mereka dapat memantauku di asrama itu karena dekat dengan rumah.
Saat pertama kali aku melihat rumah ku yang dulu dan saat aku berkeliling ketaman juga danau tempat Randy meninggal.  Kenangan masa kecilku bermunculan bahkan aku masih saja melihat hantu serba hitam itu di danau sementara arwah Randy sudah tenang di alam sana. Karena waktu itu aku menolongnya melakukan permintaan terakhir untuknya bahwa ia mencintai Mitha. Dia ingin aku menulis surat cinta untuk Mitha walau ia tak berbicara tapi ia menunjukan dengan pandangannya dan selalu menunjuk ke kertas dan aku pun mengerti apa yang ia maksud. Surat itu yang aku tulis berisi :
 kamu jangan sedih mitha, aku baik-baik saja. Aku sangat menyukaimu karena kita selalu bersama-sama, tertawa bersama bahkan bermain bersama . Jadi jangan menangisiku lagi ku mohon, hiduplah yang lama dengan ceria dan selalu tersenyumlah.
RANDY
Aku saat itu menyelipkan surat itu pada buku mitha, aku tak tahu apa ia masih menyimpannya atau tidak.. Tak luput akupun berkunjung ke makam Randy yang ternyata Mitha juga sering berkunjung ke kuburannya.
Aku selalu datang pagi-pagi karena aku suka datang pagi-pagi kesekolah agar aku juga dapat mempunyai tempat duduk paling depan, tempat favoriteku. Saat itu suasana kelas yang gelap dan lampu masih menyala, aku juga melihat beberapa hantu yang memang sudah ada seperti pocong, kepala buntung dan kuntilanak kebanyakan tapi aku cuek saja itu sudah menjadi rutinitas setiap hari ku. Bahkan mereka sepertinya juga sudah mengenalku dan tidak memperdulikanku. Matahari sudah tampak dan banyak siswa-siswa lain yang berdatangan, aku melihat dari kejauhan tempat duduk favorite Mitha di bangku tengah sudah terisi dengan bunga dan surat-surat mungkin surat cinta, salah satu temannya datang yang bernama Tia dan langsung menempati kursinya juga teman-temannya. Ia kadang menyapaku tapi saat ini ia tidak menyapaku dan kurasa ia sedang banyak masalah karena terlihat masam dan menunduk. Aku ingin menyapanya tapi aku begitu malu untuk menanyakan sesuatu.Lalu teman-temannya yang lain berdatangan juga, si Mitha yang terlambat dan mengetahui bangkunya sudah penuh dengan hal-hal konyol. Mereka saling tertawa dan kulihat tidak ada sesuatu yang berarti dengan kemurungan Tia beberapa menit yang lalu. Aku melirik sinis kearah Mitha yang juga melihatku.
Aku menjalani hari-hariku seperti biasa murung,dingin, kaku dan sepeti yang orang-orang katakan aneh bahkan akupun tak mempunyai teman seorangpun pada saat itu juga tak mempunyai teman sekamar di asramaku karena orang-orang pada takut padaku dan sebagian lagi jijik padaku. Aku sih tidak perduli apa aku punya teman atau tidak karena di koreapun aku diperlakukan sama saja.  Aku juga tidak iri dengan Mitha yang saat itu punya temen banyak juga ke 3 teman dekatnya. Dan akupun tidak ingin berteman dengannya kembali karena ia begitu sombong saat ini dan mengacuhkanku seolah ia tidak mengenalku dan tidak membelaku ketika aku dipermalukan seolah kami orang asing yang baru bertemu bukan teman yang hilang.
Tapi kebahagiaan itu muncul saat Byun sekolah ditempat yang sama denganku. Seolah aku mendapat sinar matahari . Aku sudah mengenal Byun sudah lama, ia adalah orang kedua yang aku suka selain Randy. Mamaku dan Mamanya adalah teman dekat jadi aku sudah dijodohkan oleh orangtuaku dan orangtuanya saat aku kembali ke korea tapi entahlah sepertinya Byun tidak menyukaiku mungkin ia juga mengangapku orang aneh seperti yang lainnya. Kepindahan Byun ke sekolah untuk menemaniku dan menjagaku selama aku di sekolah .
Aku tersenyum melihatnya saat aku mengetahui kami dikelas yang sama tapi Byun cuek saja dan mengacuhkanku seolah aku tidak ada.  Seperti itulah Byun selalu dingin juga mengacuhkanku dan bersikap baik kepadaku saat ada ibunya ada tapi disini di Indonesia tidak ada yang menyuruhnya untuk selalu bersamaku dan tidak ada yang menyuruhnya terus memperhatikan ku. Kadang aku heran mengapa ia menyetujui perjodohan yang terbilang dipaksakan kehendaknya ini. Seharusnya ia menolak dan berkata bahwa ia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapku. Pernah sekali ia bicara hanya padaku bahwa ia melakukan perjodohan ini demi ibunya, demi kesehatan ibunya karena ibunya memiliki penyakit stroke dan demi perusahaan kakeknya. Saat itu jujur saja aku merasa sakit hati. Tapi akan aku buat ia jatuh cinta kepadaku bagaimanapun caranya karena sikapya yang semakin acuh padaku itulah yang membuatku semakin mengejar-ngejarnya dan perhatian padanya walau pada akhirnya aku tahu aku tak akan pernah mendapatkan hatinya sampai kapanpun.
Sebenarnya memang saat itu aku adalah gadis yang suram karena penampilanku yang selalu berantakan kadang aku tak pernah menyisir rambut panjangku yang lurus dan hitam, dan selalu ada mata panda di sekeliling mataku karena tak bisa tidur semalaman juga aku tak memeperdulikan penampilanku saat itu. Aku tidak mengerti fashion dan seberapa modisnya penampilan. Kalau kalian tanya aku ya aku akan jawab kalau aku ini cewe jelek dan aneh. Aku juga tak seperti anak-anak lainnya yang memakai rok mini-mini kesekolah. Yang aku gunakan sama dengan anak kelas X yang baru masuk dengan rok panjang melewati dengkul sedikit. Walaupun aku dari korea yang terkenal dengan orang-orang yang selalu mengutamakan penampilan tapi aku berbeda, aku ingin jadi diriku sebenarnya tapi walaupun begitu aku mengeti sedikit soal fashion tapi menurutku itu semua tidak penting. Berbeda sekali dengan Mitha yang selalu tampil cantik saat disekolah dan selalu menjadi pujaan anak laki-laki di sekolah.
Saat istirahat sekolah Byun dikerubuni oleh anak-anak perempuan dikelasku dan beberapa dikelas lain. Sungguh memang ia sangat ganteng, dulu saja waktu di korea ia selalu jadi pusat perhatian anak-anak perempuan dan sangat populer hingga ke beberapa sekolah. Walau disini juga banyak cowok ganteng tapi mereka tidak memperdulikan keberadaanku. Begitu aku yang masa bodoh saja. Kalian pasti berfikir aku sering di bully mereka. Tapi kenyataanya aku melawan jika aku akan di bully, baru aku memandang dengan mataku yang tajam saja mereka sudah takut. Jadi tak ada yang berani membullyku saat itu entah itu dikorea atau di Indonesiapun. Pokoknya aku tidak ingin bersosialisasi dengan siapapun karena mereka menganggapku aneh dan tidak ingin berteman denganku jadi jika ada perlu saja aku bicara. Tapi sejak Byun pindah kemari aku serasa ingin terus-terusan berbicara padanya dan pasti orang-orang dikelasku pada bingung mengapa aku berani yap berani bicara dan mendekati anak baru yang baru pindah. Aku merasa bukan diriku karena bersikap lenje dan genit itupasti yang difikirkan orang-orang itu.
“ Byun ah “ kataku berjalan mendekatinya langsung semua orang menatap kearahku dan menyingkir kesamping sehingga sudah jelas byun bisa melihatku tapi saat itu ia biasa saja melihatku juga dengan ekspresi datar.
“ Nanti aku akan membantumu pindah ke asrama ya, kau sudah bersama pamanmu yang tinggal disini kan sejak seminggu yang lalu “ kataku dengan bahasa indo agar yang lainnya mendengarku saat itu aku menyombongkan diriku. Dan ekspresi semua orang terkejut saat aku jauh mengenal Byun. Ia diam memandangiku lama
“ tidak usah, tidak perlu khawatirkan aku “ ia menjawab dengan bahasa korea bukan bahasa Indonesia yang membuat orang-orang disekitar kami tidak mengetahui artinya tapi aku hanya tersenyum.
“ Baiklah terimakasih “ kataku tertawa tapi dipaksakan dan yang lain sepertinya mengira bahwa Byun merespon ajakanku untuk membantunya pindah. Lalu ia berdiri dan ingin pergi begitu pula dengan gadis-gadis itu yang kecewa karena Randy akan pergi.
“ Kamu mau kemana “ kataku dalam bahasa korea
“ ke toilet kenapa mau ikut, oiya ada yang harus aku bicarakan denganmu “ katanya sambil beranjak pergi.
“ awas kalo kamu kabur “ kataku kemudian
“ aku janji, ayo makan bersama  ke kantin “ katanya lalu pergi jauh dari hadapanku.
Aku sudah menunggunya sudah hampir 10 menit dan ia tak datang-datang juga ke kelas. Akupun mengambil inisiatif untuk mencarinya ke toilet tapi ia tidak ada disana lalu aku ke kantin dan melihat ia bersama Mitha saling tertawa, seperti Byun memiliki ketertarikan dengan Mitha. Aku melihat Byun yang selalu ceria. Tidak seperti saat bersamaku, Byun tidak pernah tertawa bahkan tersenyum seperti itu. Aku melihat Byun yang selalu ceria dan tersnyum. Lalu perasaan cemburu itu ada dalam hatiku dan aku ingin sekali bilang bahwa Byun itu tunanganku. Kami sudah dijodohkan sudah lama dan jangan dekati Byun lagi. Aku tidak rela Mitha dekat dengan Byun, seolah kejadian saat kami berumur 7 tahun itu kembali lagi dan kami menyukai lelaki yang sama. Aku hanya bisa mengepalkan tanganku sambil mendekati kearah mereka.
            “ Byun, kamu kok tega ninggalin aku di kelas. Kamu bilang kita mau sama-sama pergi ke kantin “ kataku terlalu dilebih lebihkan karena aku ingin membuat Mitha tahu bahwa aku dan Byun sangat dekat.
“ Maaf aku lupa, setelah pergi ke toilet aku langsung ke kantin “ kata Byun acuh pada ku dan langsung diam seperti biasanya.
Byun menarik tanganku pergi dan kami tiba di lorong sekolah yang sepi, ini adalah belakang sekolah.
“ Mau apa kamu hah, aku Cuma ingin berkata bahwa aku akan mengakhiri perjodohan kita. Orangtuaku sudah sepakat untuk tidak memaksaku “ ia berkata sedingin es
“ Kau fikir bisa segampang itu, bukankah ibumu yang menyuruhmu untuk bersekolah disini dan menjagaku jadi jangan berbohong padaku bahwa ibumu sudah merestui untuk perjodohan ini di batalkan “ aku bicara sambil memanang matanya, kulihat ia mengepalkan tangannya. Memang ibunya yang menyuruhnya pindah ke sini menemaniku tapi ia tak mau dan baru dikelas XI ini dia mau pindah.
“ AKU TIDAK MENCINTAIMU ! “ bentaknya padaku yang membuatku kaget karena ucapannya yang keras. ia pun memejamkan matanya seolah menahan gejolak amarahnya.
“ aku akan membuatmu jatuh cinta padaku “ kataku bicara seadanya
“ kau..kau tidak mengerti, sudah kubilang aku tidak bisa menyukaimu. Bisakah sekali saja aku memohon padamu untuk membatalkan perjodohan ini dan bilang pada ibumu “ katanya masih dengan mata terpejam.
“ maaf Byun ah, aku tidak bisa “ kataku merasa sangat egois karena aku tidak ingin kehilangannya. Ia membuka matanya lalu berbalik kebelakang sehingga ia membelakangiku.
“ Kalau begitu aku tidak punya pilihan selain terus membuatmu sakit hati sampai kau membenciku, sangat membenciku “ katanya lalu pergi dengan perasaan terluka. Yah aku memahaminya tapi aku sangat, sangat tidak ingin kehilangannya.
( Kembali kemasa sekarang ) Saat ini aku melihat jam tanganku sudah hampir tengah malam dan aku masih berada di kantor, tak luput aku melihat sms dari pacarku yah pacarku teman SMA ku dulu, aku tersenyum melihat sms itu bahwa aku sudah memiliki seseorang yang spesial tapi aku juga merasakan kepedihan hatiku saat memikirkan dulu dimana Byun mengatakan dia ingin membuatku sakit hati,terluka dan membenciku . Aku menyeduh kopi panas sambil meminumnya sedikit demi sedikit, karena aku benar-benar tidak fokus dengan perkerjaanku. Aku selalu mengingat dan mengingat kejadian itu. Ku matikan komputerku dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah saat seseorang mengagetkanku.
“ Soora “sapa seseorang yang sangat aku kenal yaitu Byun. Byun yang sekarang adalah seorang pengusaha muda, serius, berani, dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar tidak seperti dulu sebagai anak remaja yang nakal, petakilan, ceria, humoris,lucu. Semua itu berubah karena cinta, cintanya kepada Mitha. Aku mengerti dan aku memahaminya. Aku tersenyum melihatnya masih berada dikantor. Walau kami tidak bersama tapi kami berteman dan itu saja menurutku sudah cukup untuk selalu berada dekat dengannya, mendukungnya sebagai sahabatnya.
“ Pak presdir, ko masih ada di kantor jam segini “ kataku sambil berdiri mengapit tasku dengan tanganku.
“ Ada yang ingin aku bicarakan, kamu juga sudah mau pulang. Bagaimana kalau kita pergi makan sambil bercerita “ kata Byun yang kelihatan ia serius sekali ingin bicara denganku, sudah ku tebak ia pasti akan bercerita mengenai Mitha.
Kami pun menuju sebuah restoran malam, restoran pinggir jalan korea yang memang berjualan khusus pada malam hari sampai subuh. Aku memesan minuman soju karena udara benar-benar sangat dingin sementara Byun tidak suka minum-minuman seperti itu.
“ Soora, apakah kamu tahu bagaimana keadaan Mitha saat ini “ kata Byun yang menggesekan kedua tangannya untuk memberi kehangatan walau sudah pakai sarung tangan.
“ yah aku tahu, ia sangat depresi sekali sudah jelas kan “ kata ku menjawab pertanyaan nya sambil menuangkan soju dan meminumnya.
“ Kalau aku kembali padanya dan membuatnya seperti dulu apakah mungkin “ katanya
“ Lalu untuk apa kau pergi ke sini dan membiarkannya menderita disana “ kataku tepat mengenai sasaran.
“ karena, aku harus membuktikan padanya bahwa aku mampu menjadi dewasa dan mapan “ katanya lagi
“ yah, aku sudah tahu alasanmu tetap stay disini. Tapi kau sudah menjadi orang hebat sekarang dan sudah 4 tahun “ kataku menuangkan soju ke gelasku.
“ itulah yang selalu aku fikirkan, aku harus kembali tapi aku tak mengerti bagaimana caranya. Aku takut ia tak akan menerimaku mengingat kondisinya sekarang” katanya sambil makan kue beras yang sudah datang.
Lalu saat itu aku mendengar telpon Byun berdering beberapa kali.  Ia buru-buru mengangkat telponnya, sepertinya sangat penting.
“ Hallo.. iya apakah ia baik-baik saja” hening byun malah menganguk dan berkata iya dan iya. “ oke, tolong jaga dia baik-baik ya mba Ratih “ Lalu mereka mengakhiri pembicaraannya.
“ telpon dari siapa Byun “ kataku penasaran.
“ dari Indonesia, kamu inget mba Ratih kakak sepupunya Mitha kan. Ia sekarang jadi psikiater Mitha. Kemarin ia menghubugiku dan memberitahu kabar Mitha dan menanyakan apa aku bisa kembali ke Indonesia karena sepertinya kondisinya memburuk. Ia selalu menutup dirinya sendiri sampai saat ini ia mulai memajang kembali foto kita di dinding rumahnya itu suatu kemajuan besar dan besok ia berkata ia akan menghipnotis Mitha agar mau bicara ada apa sebenarnya yang selalu menganjal pikirannya”
“ Kalo begitu, kau harus menemuinya ke Indonesia. Kejarlah kebahagiaanmu Byun, aku mendukungmu “ kataku sambil makan beberapa kue beras yang tersisa.
“ Baiklah, ayo pergi sekarang ke bandara “ lanjutnya dan membuatku terkejut untuk apa aku juga pergi menemuinya disaat seperti ini. Ia berdalih bahwa aku ini sahabatnya dan aku juga harus ada saat Mitha sedang kesusahan seperti sekarang, well aku juga kangen sekali sebenarnya dengan Mitha. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Mitha yang selalu riang, ceria gembira. Aku tahu kejadian 4 tahun yang lalu dan sangat mengerti tapi jika aku kembali lagi ke Indonesia apakah aku akan kembali menjadi Kim Soora yang muram.
Kami tiba di Bandara Incheon dan membeli tiket pesawat dini hari jam 2 menuju SOEKARNO HATTA. Tak luput aku menghubungi kekasihku dan ia akan menyusul besok pada pesawat pagi hari. Aku selalu membawa pasport ku kemana-mana. Aku punya dua kenegaraan jadi tidak repot untuku untuk berkunjung ke Indonesia.
Saat ini kami berada di pesawat perjalanan antara 7 sampai 8 jam kami akan lalui.  Aku mulai bercerita untuk memecah keheningan sampai pesawat lempas landas nanti.
Setelah Byun waktu itu berkata bahwa ia membenciku, aku kembali ke kelas dengan perasaan lesu ( Saat bercerita Byun sangat menyesal dan minta maaf  ) . Ada perasaan sakit hati juga mendengar ucapannya waktu itu, dan akupun belajar tidak bisa konsentrasi. Saat bel sekolah berbunyi aku bisa mendengar jelas Mitha dan teman-temannya bercerita bahwa Mitha akan pindah ke asrama sekolah. Untuk apa ia pindah ke asrama jika rumahnya dekat dari sekolah. Tapi harus kuakui pelajaran yang kami akan lalui semakin berat saja, nanti kami akan mengadakan jam tambahan sampai sore belum lagi tugas kelompok yang sangat berat. Mungkin saat ini belum karena baru masuk sekolah tapi lihat saja 3 hari kedepan pasti sibuk dan sangat full, untuk itulah aku mengerti situasi keadaan Mitha. Aku melihat mereka semua hanya satu orang yaitu Tia yang murung karena sahabatnya akan pindah. Sebenarnya ada apa dengan Tia mengapa ia begitu tidak bahagia dan menganjal. Kulihat ia tertawa seperti dipaksakan. Aku prihatin melihatnya, karena dia orang yang baik karena dialah orang yang mau menyapaku dan berbicara padaku.
Aku melihat Byun langsung pergi ke mobilnya. Ia memakai mobil dan supir pamannya. Paman Byun memang tinggal di Indonesia untuk berbisnis. Aku ingin membantunya pindah tapi ia seperti tidak memberiku kesempatan untuk membantunya. Aku mengambil inisiatif untuk pergi ke apartemen pamannya. Ibunya meneleponku dan menanyakan kabarnya, aku mengatakan bahwa Byun sangat memperhatikanku. Aku istirahat sebentar lalu memanggil  taxi dan pergi ke apartemennya tapi saat aku sampai ke apartemennya kulihat Mitha dan Byun masuk ke apartemen Byun dan keluar membawa beberapa kardus milik Byun yang ternyata Mitha membantu kepindahan Byun. Sungguh saat itu aku sangat, sangat cemburu.
Aku mengikuti mereka sampai di depan Asrama. Aku mengintip di balik pohon dari kejauhan dan kulihat Mitha juga melihatku. Persis saat dulu aku mengintipnya bersama Randy dari balik pohon. Saat Mitha dan Byun berpisah di persimpangan, aku ingin buru-buru kabur tapi seperti dejavu aku melihat Tia yang menunduk berjalan dari asrama ke arah Mitha yang berjalan menuju asrama, mereka berpapasan tapi Mitha seolah tidak melihatnya. Tia dengan penampilannya yang berbeda kurasa, ia tak seperti biasanya. Ku lihat ia pucat dan rambutnya berantakan sekali dan ia tetap menunduk lalu ia mendongak kearahku dengan matanya yang tajam. Aku mengerti, aku mengerti dan sangat mengerti. Bahwa yang kulihat itu adalah arwah Tia. Tapi apakah Tia sudah mati, entahlah . Ia mendekat kearahku dan sekarang ia sudah berada tepat di depan mukaku. Mulutku seakan terkunci dan aku tidak bisa berteriak walau aku ingin lalu ia mencengkram tanganku kuat-kuat seperti sedang memohon untuk menolongnya.
Saat ia mendekatkan wajahnya kemukaku, aku melihat kenangan yang ia berikan kepadaku. Aku melihat ia diperpustakaan, hanya ada beberapa orang disana seperti penjaga perpustakaan dan beberapa siswa yang sedang membaca. Lalu ia menanyakan buku matematikanya  yang ketinggalan kepada penjaga perpustakaan. Tapi penjaga itu tidak mengetahui dimana bukunya dan ia mencarinya sendiri. Ia mencari dan terus mencari lalu ia kepojok ruangan dan menemukan bukunya sudah robek tercabik-cabik walau tidak semuanya robek dan terdapat tulisan.
 “ KAU AKAN MATI ! “ tulisan dengan huruf kapital itu terdapat dalam buku tulis matematikanya yang halamannya masih tersisa dan tidak robek. Saat itu ia akan teriak tapi tidak bisa, mungkin karena ini perpustakaan. Lalu ia melempar buku itu. Ia pun mengambilnya kembali dan saat ia buka lembaran demi lembaran tulisan KAU AKAN MATI itu berhenti pada sebuah foto. Foto gadis remaja yang ku kenal sebagai teman sekamarnya Cinta yang meninggal pada liburan kemarin yang kutahu penyebabnya adalah bunuh diri dan aku tidak tahu bagaimana ia meninggal tapi polisi bilang itu kecelakaan. Lalu ia melecekan foto itu dan keluar untuk membuang buku dan foto itu.
            Adegan berpindah, saat itu anak-anak populer yaitu anak-anak OSIS mengadakan rapat untuk menanyakan pemikiran anggotanya untuk mengerjai anak-anak baru. Aku dapat melihat Mitha dalam penglihatan Tia yang sepertinya bosan, sang ketua osis Bayu yang sedang berbicara. Cindy, Alya, Ruben, Kamal,Andika, Steve,Ryan, Lola,Maura juga Cinta yang sedang mencatat hal apa saja yang dikatakan Bayu lalu aku sendiri di kursi paling pojok yang mendengarkan sang ketua osis berbicara. Disitu aku melihat diriku sendiri begitu dingin dan memandang semuanya dengan sinis.  Aku disuruh ikut membantu angota osis bukannya aku mau tapi disuruh karena aku merupakan siswa terpintar dan aku juga tidak pulang ke korea waktu liburan kemarin karena malas, jadi kepala sekolah menyuruhku untuk gabung dengan anak-anak osis. Walau kemarin ketika mos berlangsung anak-anak osis lainnya tidak memperdulikan keberadaanku lebih mengangapku tidak ada sebenernya hanya menyuruh-nyuruhku saja. Dalam penglihatan itu aku melihat skema yang dipegang Tia. Bayu ketua osis, Andika wakil ketua osis, Cinta sekertaris I, Tia sekertaris II, Maura bendahara I, Ruben bendahara II, Kamal,Steve dan Cindy seksi-seksi dan sisanya angota.  
            Adegan berpindah lagi ke taman sekolah, saat itu sudah mulai gelap dan hujan deras Cinta membawakan payung untuk Tia.
            “ Terimakasih Cin udah jemput aku dan datang kesini “ kata Tia tersenyum yang sedang berteduh.
            “ iya sama-sama. Aku fikir kalian udah pada pulang “ katanya setelah melihat Kamal, Ruben, Steve dan Ryan berjalan mendekat kearah Cinta dan Tia lalu orang terkhir yang datang adalah Bayu sang ketua osis. Setelah itu adegan berpindah pada teriakan seseorang dari dalam kelas dan Tia menerobos hujan dan berjalan seperti sedang kabur, berjalan menuju asramanya.
            Lalu Adegan berpindah cepat. Tia dikamarnya, melihat beberapa pil lalu melemparkan ke dinding. Ia mengambil tali dan mengikatkan diatap langit-langit kamar. Lalu ia gantung diri.
            Aku tidak sadar sudah lebih dari 3  jam, aku bangun dan sudah berada di kamarku sendiri. Aku melihat Mitha tidur di kasur yang biasanya kosong di sebelah tempat tidurku. Untuk apa Mitha berada di kamarku. Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi, Sepertinya tadi aku kerasukan arwah Tia. Sungguh ganjil sekali kenangan yang ia lihatkan kepadaku terutama saat Tia berjalan menerobos hujan seperti orang yang sudah melakukan kesalahan. Apa mungkin ini ada sangkut pautnya dengan Cinta ? . Lalu apakah kematian Cinta ada sangkut pautnya dengan Tia? dimana arwah Cinta sekarang ? karena sejak ia meninggal aku tak pernah menemukan arwahnya. Apa mungkin Cinta masih hidup dan membuat tulisan itu di buku Matematika Tia. Lalu dimana arwah Tia sekarang ? aku celingak-celinguk tapi di kamarku tidak ada arwah sama sekali hanya ada Mitha yang sedang tidur. Banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku. Entahlah aku juga tidak mengerti apa yang sudah Tia lakukan sampai ia mencoba bunuh diri dengan gantung diri seperti itu. Tapi aku tidak memperdulikan Mitha, aku justru merasa kasihan sekali padanya karena orang yang paling dekat dengannya yang mungkin ia sudah anggap menjadi sahabatnya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sementara aku melihat tangisan tertahan.
            Keesokan harinya kami sekolah seperti biasa karena tidak mungin pembelajaran harus dihentikan terutama bagi kelas XII walau mereka kemarin juga mendapat accident, tapi seolah semuanya tidak bisa konsentrasi belajar. Kebanyakan dari mereka melamun dan mencerna apa yang terjadi, lalu hanya Mitha dan teman-temannya yang menangis sesungukan saat jam pelajaran kosong. Semalam ternyata Mitha tidak benar-benar tertidur, ia menangis dan menahan tangisnya, karena sudah terlihat jelas matanya yang bengkak dan ada lingkaran hitam di lingkaran matanya. Aku juga merasa kehilangan tapi aku kan tidak dekat-dekat banget sama Tia. Tapi aku juga merasa sedih, pesan yang ia kirimkan kemarin. Aku harus mencari tahu apa yang Tia inginkan agar ia bisa tenang beristirahat di alam sana. Aku harus menemukan arwah Tia secepatnya.
( Kembali ke masa sekarang )
            Kami sudah tiba di Bandara SOETA pada pukul 8 pagi wib. Ceritaku sempat tertunda karena pesawat sudah loading off dan kami harus melanjutkan perjalanan kami menuju apartemen Mitha. Saat aku bererita pada Byun tentang Tia, sepertinya ia antara percaya dan tidak percaya kepadaku tapi sumpah aku tidak mengarang-ngarang ceritaku. Tapi sepertinya ia juga yakin karena ia sendiri juga mmenyaksikannya peristiwa itu, pembantaian 4 tahun lalu.
















III
Jurnal Cinta


            Jum’at, 12 Februari 2010
Dear diary..
Aku baru saja membeli buku diary cantik berwarna pink ini, untuk ku corat-coret setiap hari karena mungkin aku tidak bisa membendung perasaanku.
Hari ini aku sangat lelah tapi juga aku mengangap hari ini adalah hari paling istimewa dalam hidupku karena Bayu kenapa, karena cowok itu mengajaku pacaran setelah ia mengejar-ngejarku berbulan-bulan lamanya tapi selalu ku tolak. Yah aku sering menolaknya karena aku temaksud cewe populer, banyak sekali yang ingin pacaran denganku. Tapi ia juga mengejar-ngejar si cewe centil dan lenje itu si Mitha karena aku sering menolaknya maka ia pun mulai mengejar-ngejar Mitha. Tapi itu tak berlangsung lama karena tau-tau saja ia mengajaku pacaran barusan dan aku langsung memutuskan pacarku yang sekarang. Aku adalah tipe perempuan yang suka mempermainkan perasaan laki-laki. Tapi kali ini, aku tidak akan pernah mempermainkan perasaan Bayu, aku janji. Karena aku mulai menyukainya entah kapan. Ia seperti malaikat bagiku, ia segalanya. Karena ia selalu berbiwaba dan punya daya tarik dengan kepemimpinannya pantas saja ia terpilih menjadi ketua osis mengantikan osis yang lama. Aku harus jadi sekertarisnya, aku harus selalu dekat dengannya bagaimanapun caranya karena saat ini ia adalah Pacarku. Selain keren, Bayu juga ganteng. Dengan rambut hitamnya yang memiliki poni miring dan memiliki otot karena memang ia sangat atletis sekali. Aku membayangkan jika aku memeluk badannya yang berotot itu. Tapi walaupun begitu ia tidak terlalu putih dan aku suka laki-laki yang tidak putih karena menurutku laki-laki seperti itu sangat manis. Aku sungguh sedang jatuh cinta saat ini.
Hari ini juga hari dimana aku pindah ke kamar asrama baruku, karena kamar lamaku harus memiliki renovasi. Jadi aku harus sekamar dengan Tia, sementara  teman kamarku yang lama lola ia pindah ke kamar sahabatnya. Aku tidak tahu bagaimana Tia, ia adalah teman Mitha orang yang paling aku benci disekolah ini karena ia sok suci selalu menolak laki-laki seolah tidak ada yang pantas untuk bersanding dengannya juga ia sok kecantikan lagi. Tapi kufikir Tia berbeda mungkin ia sangat baik semoga saja...





IV
Mitha
           
Kondisiku saat itu sangat kacau, aku menangis semalaman bahkan aku tidak sanggup untuk membayangkan orang yang aku sayangi pergi meninggalkan dunia ini. Seolah kejadian waktu Randy meninggal kembali lagi, aku benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan seseorang yang sangat kusayangi lagi di dunia ini. Rasanya sungguh menyakitkan, kenapa Tia tega meninggalkanku seperti ini. Seharusnya ia bercerita padaku dan kami akan menemukan jawabanya bersama. Memang ada masalah apa yang membuatnya harus bunuh diri. Aku buntu, fikiranku buntu. Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang sudah terjadi.
Aku ingin sekali berteriak, berteriak sekencang-kencangnya karena aku tidak bisa mengalahkan takdir yang sudah dibentuk dan mengapa orang yang dekat denganku dan sangat ku sayangi harus pergi. Kematian, aku benci Kematian. Mengapa kita harus bertemu lalu kita berpisah lagi, aku sangat belum siap jika harus kehilangan lagi orang-orang yang ku cintai sekali lagi. Aku ingin sekali menangis sesungukan, tapi saat ini aku berada di kamar Kim Soora dan aku tak ingin membangunkan tidurnya maka aku berusaha untuk menahan tangisanku dan memejamkan mataku agar aku tidak terus-terusan menangis. Aku lelah dan capek memikirkan ini semua, rasanya aku juga ingin mati.
Saat disekolah akupun tak bisa membendung kesedihan yang kualami, mengapa sekolah harus berjalan seharusnya sekolah diliburkan untuk menghormati kami yang berduka dan untuk menghargai teman kami yang sudah meninggal. Maka akupun menangis di kelas bahkan ada guru sekalipun dan saat pelajaran kosong kami menangis sesunggukan . Maksudku dengan teman-teman ku yang masih tersisa Alya dan Cindy. Kami tidak sanggup menghadapi cobaan yang sangat begitu berat. Bahkan tidak ada yang menghibur kami karena semuanya sama memikirkan kematian.
Lalu tahu-tahu saja Byun sudah ada di depan kelas
“ HEI !!! “ ia berteriak dengan keras pada kami, teman-teman sekelas. Maka mata kamipun tertuju padanya yang teramat berani itu.
“ Mengapa kalian terus menangis, sudahlah itu membuat kepalaku sakit “ ia melihatku dengan matanya yang tajam, aku bahkan tak percaya ia tega sekali megatakan seperti itu pada kami yang sedang berduka.
Karena tak tahan diri aku berdiri dari tempatku tapi tidak berjalan kedepan dan ingin sekali menamparnya tapi hanya tanganku saja yang aku kepalkan.
“ Kau bilang apa, kepalamu pusing hah. Lalu bagaimana dengan perasaan kami  “ kataku sewot, lalu Alya dan Cindypun memegang pundaku seperti menyuruhku untuk tidak meladeni si anak pindahan itu. Tapi reaksinya hanya diam saja, mata tajam itu berubah menjadi matanya yang hangat memandangiku, seolah ia berbuat salah dan mengerti perasaanku. Aku rasa sebagian orang dikelas ini setuju dengan ku.
“  Ku rasa kamu tidak pernah merasa kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupmu, dan kurasa kamu tidak memiliki perasaan “ kataku tanpa perasaan berbicara padanya lalu keluar kelas sambil menangis menuju taman sekolah.
Aku duduk di bawah pohon, bahkan tak ada satu orangpun yang mengejarku dan mengerti perasaanku. Aku berharap sekali Byun akan memahami kondisiku saat ini tapi sepertinya aku salah. Ku fikir ia berbeda dengan cowok kebanyakan karena ia berbeda, ia unik, mempunyai rasa humor, pengertian dan baik.
Aku melihat seseorang bersender di pohon lainya sambil bersiul. Ya, seseorang itu adalah Byun. Orang yang tidak mempunyai perasaan. Ia lalu meghampiriku dan jongkok disebelahku. Akupun berdiri dan ingin cepat-cepat pergi tapi ia menahan pergelangan tanganku.
            “ Mitha, maafkan aku “ katanya berbicara seperti itu yang membuat air mataku  mengalir di pipiku. Tapi aku tidak perduli dengan ucapan permintaan maafnya itu dan yang aku fikirkan hanya ingin pergi-pergi menjauh darinya. Tapi aku salah, ia mencengkram tanganku lebih kencang lalu menarik tanganku hingga kami berpelukan.
            “ Lepaskan aku “ kataku sambil meronta-ronta dari dekapannya.
            “ Ku mohon, tetaplah bersandar di pundakku. Aku mengerti perasaanmu, masih ada aku untuk menampung semua kesedihanmu “ katanya yang membuat aku berhenti meronta-ronta, tapi aku masih menangis.
            Aku merasa bahwa aku tidak sendirian, aku bersamanya saat ini duduk di pohon. Menyandar dipundaknya tanpa bicara apa-apa. Hening itulah yang terjadi, ia menawarkan sapu tangan untukku dan menggunakan sapu tangannya untuk mengelap ingusku. Ia tidak ingin mengangguku sepertinya, setelah perasaanku agak baikan, akupun mencoba untuk berbicara. Tidak ada yang melihat kami karena taman sekolah berada jauh dari bangunan sekolah dan tertutup oleh pepohonan yang rindang.
            “ terimakasih Byun sudah meminjamkan sapu tanganmu “ kataku sambil mendongak melihat wajahnya yang bak malaikat itu.
            “ apakah saat ini kau sudah lebih baikan ? “ tanyanya padaku sambil melihat mukaku yang kusut. Saat mata kami bertemu seolah dunia yang kumiliki berputar-putar disekelilingku, ada perasaan bahagia disana karena dekat dengannya.
            “ iya, tapi kurasa luka dan duka di hatiku masih ada “ kataku mengingat Tia dan ingin menangis lagi. Reaksinya langsung mengelus-ngelus kepalaku.
            “ ku mohon jangan menangis lagi, aku tidak sanggup “ katanya kemudian, dan aku bersandar kepundaknya.
            “ ya aku  sangat tahu jika aku menangis sangat jelek, mengeluarkan ingus dan meraung-raung “  kataku karena berfikir bahwa ia tidak sangup melihat penampilan jelekku ini.
            “ bukan itu, tapi perasaanku rasanya sakit . Untuk itulah tadi di kelas aku menyurumu untuk berhenti menangis “ katanya dan aku mengerti ucapannya karena saat mengatakan itu matanya langsung tertuju kepadaku.
            “ aku minta maaf karena sudah mengatakan kau tak memiliki perasaan waktu dikelas tadi “ kataku
            “ yah tidak apa-apa, aku memang seperti itu kebanyakan “ sahutnya sambil tertawa yang membuatku ingin tertawa juga.
            “ waktu umurku 12 tahun, kakak lelakiku yang sudah SMA meninggal karena bunuh diri. Ia jatuh dari atap gedung sekolahnya, ia meninggal karena sudah tidak tahan di buly oleh teman-temannya. Saat itu aku merasa kehilangan dan merasa bodoh sekali mengapa aku tidak pernah berbicara padanya walau sudah terlihat ia selalu murung dan mengunci diri dikamarnya “ katanya tiba-tiba bercerita seperti itu. Lalu aku berdiri dan membungkuk
            “ maaf aku tidak tahu “ sahutku lalu ia pun nyengir lebar sambil merentangkan kedua tangannya .
            “ kau ini lucu sekali “ katanya mencubit pipiku lalu tanganku ditariknya agar aku duduk kembali.
            “ aku bersalah sudah mengatakan hal yang jahat kepadamu, pasti kau sangat kehilangan “ kataku
            “ tidak juga, aku menganggap saat ini kakaku sedang liburan keluar negeri dan sangat bahagia dengan liburannya itu. Ku yakin “ katanya sambil tertawa, tidak menganggap kakaknya tidak benar-benar meninggal.
            “ tapi kau kan tidak bisa menemuimu kakak mu lagi “ kataku berkata seperti tidak mempunyai perasaan
            “ suatu saat pasti kami bersatu kembali, walau menunggu beribu-ribu tahun bahkan puluh ribu tahun. Kita satu, dan dikehidupan selanjutnya kuharap kakaku menjalani kehidupan yang menyenangkan “ katanya saat itu lalu bel berbunyi tanda jam istirahat, saat itu aku juga tersenyum. Ku harap Tia juga memiliki kehidupan yang baik dikehidupannya yang lain. Aku percaya dengan reinkarnasi, aku juga akan menganggap Tia berlibur jauh dan suatu saat kami akan bertemu kembali sampai di kehidupan yang selanjutnya. Walau luka dan duka masih ada dalam hatiku tapi rasanya aku harus bisa mengikhlaskan kepergian sahabatku untuk selama-lamanya.
Kami kembali ke kelas setelah kami makan bersama di kantin, kantin pada jam istirahat seperti biasanya ramai seolah tidak ada yang berubah. Walau makanku rada tidak nafsu tapi Byun selalu memaksaku makan dengan candaan lucunya membuat aku makan walau sedikit dan tidak bisa menahan tawa, walau disekitarku tatapan tajam melihatku dari semua orang entah tatapan apa yang mereka lihat. Tatapan karena aku begitu cantik, tatapan karena para laki-laki itu cemburu dan para perempuan itu cemburu karena aku bersama Byun yang juga ganteng, atau karena mereka berfikir temanku baru saja meninggal tapi aku masih bisa makan dan tertawa seolah tidak ada yang terjadi. Entahlah . Justru karena Byun aku melupakan kesedihanku, karena dia juga aku mulai mengikhlaskan kepergian temanku dan mengerti keadaan Randy juga aku bisa mulai menghargai hidupku sendiri. Aku juga melihat tatapan tajam Soora dari kejauhan seolah tidak ikhlas aku bersama dengan Byun.
Saat dikelas kedua temanku sudah berhenti menangis, tapi mereka masih tetap meratap. Aku mulai merasa sedih dengan keadaan teman-temanku. Seharusnya aku ada bersama mereka disaat ini tapi aku malah menyandarkan diriku pada Byun, seseorang yang baru saja kukenal dan sepertinya aku menyukainya.
“ Teman-teman “ sapaku pada mereka yang menoleh kearahku.
“ Dari mana aja lo, lo malah enak-enakan ketawa dan makan di kantin “ kata Cindy melihat kearahku seolah tidak percaya kepadaku. Tapi Alya malah menangis lagi dengan hidungnya yang memerah.
Tapi aku tida berani menjawab dan semua yang berada di kelas melihat kearah kami karena Cindy berkata setengah membentak dan berteriak padaku. Cindy pun tanpa babibu langsung memindahkan tempat duduknya ke bangku belakang tidak jauh dari bangku Byun. Aku tahu percuma saja menjelasan saat ini karena Cindy sangat emosi sekali.
“ Mitha, aku ngerti kamu juga kehilangan Tia. Aku juga ngerti kenapa kamu bisa makan dikantin dan tertawa seperti itu “ kata Alya yang bereaksi terbalik dari Cindy, gaya ucapannya yang membelaku tapi seperti menyindirku.
“ Maaf al, aku ga punya pilihan lain lagi  selain harus mengikhlaskan kepergian Tia “ jawabku sambil memegang pundaknya
“ iya kamu pasti sudah menyandarkan kesedihanmu pada Byun kan. Sepertinya kalian saling menyukai. Sementara aku, aku baru aja putus sama pacar aku sehingga aku tidak punya tempat bersandar seperti kamu “ katanya mulai mengelap ingusnya
“ Alya, kamu masih punya aku. Kamu boleh bersandar dan berbagi cerita dengan aku” Alya tersenyum mendengarnya
“Dan sepertinya kita harus menyelidiki kematian Tia “ kataku kemudian pada Alya
“ memang kenapa ? “ tanyanya
“ sepertinya ada alasan mengapa Tia bunuh diri “ sahutku ketus pada Alya
Yah gosip itu menyebar seperti racun, mungkin kepada anak-anak yang sering kutolak tidak terima aku dekat dengan Byun dan fans Byun yang tidak suka aku dekat dengannya. Tadi pagi aku mendapat banyak bunga mawar layu di mejaku dan ungkapan belasungkawa entah dari siapa, seperti biasa bunga-bunga itu biasa kubuang ketong sampah. Tapi mendengar aku tidak memperdulikan temanku yang sudah meninggal berduka atas kematiannya itu tidak masuk akal karena akulah orang yang paling berduka disini . Entah aku tidak perduli dengan semua kejelekan itu, aku berharap kebenaran akan terungkap secepatnya.
2 Minggu berlalu sejak kematian Alya, tidak ada yang berubah dengan sekolah. Malah kami sibuk dengan UTS kami, Kami sekolah seperti biasanya dan perlahan luka di hati kami sembuh seolah mengikhlaskan apa yang terjadi. Kami rela melepas Tia saat dimana hari pemakamannya, 3 hari setelah ia meninggal dan selesai diotopsi. Polisi menduga ia bunuh diri karena memang ada masalah keluarga. Yang kamipun tidak tahu apa itu. Aku juga mulai memeriksa apa yang terjadi dengan Tia melalui barang-barangnya di asrama tapi tidak ada yang menganjal dengan barang-barangnya sebelum barang-barang itu dibawa pulang oleh orangtuanya. Orangtuanya juga tidak mau bercerita pada kami. Dan kami juga tidak bisa memaksa. Tapi aku masih penasaran dengan kematian Tia. Hubunganku dengan Byun sangat dekat bisa dibilang orang-orang menggosipkan kami pacaran tapi kami tidak pacaran sama sekali, yah kufikir Byun masih belum bisa menjadi pacarku karena standar ku. Walau ia termaksud dalam kriteria itu tapi kufikir kami lebih baik berteman saja karena kami baru saling mengenal walaupun ia berulangkali bilang ia suka kepadaku tapi aku masih ingin menjadi temannya. Entah kapan hatiku bisa terbuka untuk laki-laki, sepertinya walau aku sendiri memang sangat menyukainya tapi aku takut untuk berpacaran dengan seseorang dan berpisah karena memang sudah tidak cocok atau bertengkar dan kematian dikemudian harinya. Sungguh menyakitkan rasanya jika orang yang dicintai pergi dari sisi kita. Sama seperti teman dan sahabat yang berganti seiring berjalannya waktu. Aku masih belum bisa untuk berpacaran dengan seseorang.
            Terlebih Soora yang selalu menatap kami dari kejauhan, menatap dengan penuh kebencian padaku dan Byun. Penah beberapa kali aku memergoki ia mengobrol dengan Byun seperti orang yang ingin mendapatkan perhatian lebih. Entahlah aku juga tidak tahu sampai sekarang ada hubungan apa dengan mereka berdua. Byun tidak pernah mau bercerita walau aku sudah menanyakannya beberapa kali, ia hanya bilang bahwa ia mengenal keluarga Soora. Lalu karena aku sekamar dengan Kim Soora, ia tak pernah bicara padaku saat aku menjadi teman sekamarnya sampai sekarang. Kami tinggal ditempat yang sama tapi kami tidak pernah bicara walau aku kadang-kadang menyapanya tapi ia diam saja. Ia pergi pagi-pagi sekali dan pulang malam hari, seperti hendak melarikan diri dariku. Akupun tidak perduli dengannya, terlebih memang kami tidak punya hubungan apa-apa.
            Kami sibuk, terlebih lagi banyak tugas-tugas kelompok membuat kami tidak bisa bermain-main dan terus belajar maka dari itu kamipun mulai melupakan kejadian tentang Tia. Tapi kejadian yang baru akan terjadi.
Kejadian itu.. 
“ Anak-anak senin depan kalian akan menghadapi UTS begitupun dengan anak kelas XII yang sedang mempersiapkan untuk ujian nasional maka untuk seminggu ini kalian boleh pulang kerumah kalian tapi tetap harus belajar dirumah, karena anak kelas XII akan mengadakan tryout dan seluruh asrama harus dikosongkan jadi ibu minta pengertianya “ kata Bu Nita seolah menyuruh kami untuk libur tiba-tiba. Tapi aneh sekali mengapa anak kelas XII harus menjalani tryout UN sekarang-sekarang ini pada bulan September harusnya mereka diberi pendalaman materi terus menerus pada bulan ini dan mengapa tiba-tiba kami disuruh pulang dan asrama dikosongkan, sungguh janggal sekali.
Reaksi teman-teman ku tentu saja berteriak senang dan bagi mereka yang memiliki rumah yang jauh tentu saja mereka diam saja tidak bersemangat.
“ Memang kenapa asrama harus dikosongkan Bu ?” tanya salah satu temanku bernama Andika.
Andika adalah murid yang cerdas, ia juga wakil ketua osis dan ia adalah ketua dari ekskul fotografi disekolah karena ia sering memotret yang juga membuatnya menjadi murid berprestasi. Walau ia tidak ganteng-ganteng amat sih.
“ Bukankah ini menjadi rutinitas sekolah, kudengar tahun lalu pun begitu kan untuk tidak menganggu kakak kelas kalian yang akan belajar “ kata Bu Nita
 Lalu mengapa try out diadakan pada bulan September bu ?” tanya nya lagi kemudian, pertanyaan yang sama yang ingin aku lontarkan tapi disekeliling ku sudah ribut akan pergi berlibur kemana mereka seminggu ini sebelum UTS kami dan membuat suasana kelas bising.
“ itu karena para guru ingin mengetahui potensi anak kelas XII sekarang dan bagaimana mereka untuk memperbaiki kesalahan juga akan ada praktek-praktek biologi,kimia dan fisika terutama anatomi tubuh  dan kalian sudah cukup belajar dan sudah memenuhi kompetensi dasar“ kata Bu Nita sambil memukul meja dengan penghapus papan tulis agar  kelas menjadi senyap.
Setelah Bu Nita meninggalkan kelas, sudah dipastikan kami harus bergegas untuk pergi dari asrama.
“ Mitha, kita pergi jalan-jalan yuk kemana ke gitu “ Kata Cindy yang perasaannya sudah baikan dan akrab lagi denganku
“ ayo kita pergi ke mall, shopping “ kata Alya lalu tertawa
“ Loh kalian ini gimana ? kita kan juga harus belajar buat UTS nanti “ kataku mengingat waktu seminggu pastinya sebentar.
Kamipun memutuskan untuk belajar bersama dirumahku dan sesekali pergi merefresh otak ke mall juga Alya dan Cindy yang memilih untuk tinggal kerumahku . Tapi itupun baru rencana kami.
“ Mitha, Alya,Cindy..” kata seseorang bernama Maura memanggil kami dengan ngos-ngosan yang juga merupakan bendahara osis
“ Ada apa Ra ?” tanya Alya
“ Calm down “ sahut Cindy
“ kenapa ?” tanyaku
“ gawat, kita harus rapat osis sekarang juga ada sesuatu yang sudah terjadi “ katanya pada kami bertiga yang membuat kami berlari menuju ke ruang osis begitu pula dengan Andhika sang wakil ketua osis dan mengapa si Soora juga harus ikut-ikutan.
Saat ini semua anggota osis sudah berada di dalam ruang osis, begitupun dengan Soora yang bukan merupakan anggota osis.
“ Kita mendapat masalah “ kata Bayu sang ketua osis yang langsung kepada inti dari permasalahan
“ ada apa emang ? “ tanya salah satu diantara kami yang bernama Steve. Orang inggris asli salah satu Bule yang berhasil menjadi anggota osis
“ Orang tua Adek kelas yang waktu itu hampir celaka katanya nuntut ke polisi sekarang “ kata Bayu bicara lagi yang membuat kami shock
“ Bukannya masalah itu udah selesai dan udah ga dipermasalahin lagi “ kata Cindy tiba-tiba yang membuatku ingat pada sesuatu.
Yaps kejadian waktu Mos kemarin, kejadian yang hampir memakan korban karena Mos yang kelewat sukses yang membuat seseorang terluka yang membut si adik kelas ini hampir geger otak karena terkena pukulan dengan besi panjang oleh entah siapa pada jerit malam itu sampai adik kelas itu terjatuh dari lantai paling atas sekolah yang membuatnya harus dirawat di rs. Tapi adik kelas yang bernama Dimas dan orangtuanya tidak mempermasalahkan lagi mungkin ia tidak hati-hati tapi gosip menyebar diantara para adik kelas bahwa Dimas terkena pukulan dari salah satu dari kami para anggota osis dan membuatnya jatuh kebawah karena ia saat itu berada diatap gedung sekolah. Dan sebenanya anggota osis jugalah yang memang harus disalahkan karena tidak menjaga adik kelasnya dengan benar tapi megapa saat ini Dimas menuntut sekolah pada polisi terutama para anggota osis yang mengurusi mos.
            “ dia mempunyai bukti  dan salah satu diantara kita bersalah ? “ tanya Ruben pada Bayu yang langsung mengangukan kepalanya.
Buktu apa yang dimiliki Dimas ?fikirku dalam hati
            “ Dan kita semua harus tanggung jawab untuk kecelakaan itu, tapi sudahlah tidak usah difikirkan “ kata Bayu enteng dan kami semua tegang juga ketakutan, memangnya siapa yang berani memukul seseorang dan mendorongnya dari ketinggian seperti itu kami hanya bisa diam mencerna apa yang terjadi. Sementara Bayu sang ketua osis sedang dihibur oleh Lola, pacarnya sekarang agar tetap tenang . Akupun memperhatikan pasangan itu yang memang dulu bisa dibilang Lola sahabat dengan Cinta yang juga mantan teman satu kamar, yang juga mantan pacar Bayu. Tapi bukan itu masalahnya kami sangat tegang, tapi sesungguhnya ketegangan kami  hanyalah melebihi dari ketakutan itu sendiri karena orang yang kami kenal disini tega berbuat seperti itu.
            “ untuk itu kita harus menyelidiki kasus ini “ kata Andhika sang wakil ketua osis yang selalu membawa kamera kemana-mana
            “ caranya ?” kata Cindy

            “ semua anggota osis diantara kita tidak boleh ada yang pergi dari asrama ini selama seminggu ini sebelum ketahuan siapa pelakunya“ kata Andhika membuat rencana, sejujurnya aku juga ingin Dika saja yang menjadi ketua osis karena dia selalu tegas dan mempunyai banyak ide dari pada Bayu yang suka berbuat semaunya dan kadang tidak pernah perduli dan bertanggung jawab pada anggota osis dan sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar